Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
TIM peneliti yang terdiri atas 30 ilmuwan di The Climate Impact Lab memperingatkan ancaman panas ekstrem akibat pemanas an glo-bal lebih mematikan jika dibandingkan dengan penyakit menular, seperti HIV/AIDS, malaria, dan demam kuning (yellow fever) pada 2100.
Saat dunia berjuang memerangi covid-19, para peneliti itu justru memperingatkan bahwa pemanasan global lebih banyak membunuh orang. Menurut mereka, gelombang panas dapat membunuh 73/100.000 orang pada 2100.
Dalam penelitian itu, para ilmuwan mengumpulkan 399 juta catatan kematian dari 41 negara. Hasilnya, jumlah kematian terbesar disebabkan dampak panas tidak langsung, yakni terhadap penderita jantung.
Panas dapat meningkatkan risiko serangan jantung bagi me-reka yang memiliki masalah kardiovaskular.Ketika penderita jantung terpapar panas ekstrem, tubuh mereka mulai memompa lebih banyak darah ke seluruh tubuh.
Dengan melalui studi itu, para peneliti menemukan bahwa hanya satu ton karbon dioksida yang dikeluarkan menyebabkan kerugian dunia sebesar US$36,60. Sementara itu, puluhan miliar ton CO2 diemisikan per tahun. (Van/DailyMail/X-7)
Kebocoran aliran darah pada jantung dapat memicu tekanan tinggi pada paru yang berujung pada kondisi fatal yang disebut Sindrom Eisenmenger.
Berbagai penyakit tidak menular seperti jantung, stroke, kanker, hingga gagal ginjal kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif.
Firbilasi Atrium merupakan pemicu utama stroke kardioembolik, yakni stroke yang terjadi akibat gumpalan darah yang berasal dari jantung.
Metode MENARI dilakukan dengan meletakkan jari telunjuk dan tengah pada pergelangan tangan atau leher selama 30 detik, lalu hasilnya dikalikan dua untuk mendapatkan denyut per menit.
Saat berat badan berlebih, tubuh tidak hanya menyimpan lemak ekstra. Sistem metabolisme ikut berubah.
Diet karnivora tidak direkomendasikan karena bertentangan dengan prinsip dasar gizi seimbang dan tidak direkomendasikan untuk masyarakat umum.
Cuaca ekstrem meningkatkan kadar TNF-alpha serta mengubah jumlah sel darah putih, membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit.
“Adanya perubahan lahan, bangunan-bangunan semakin banyak sehingga menyebabkan panas yang lebih ekstrem,”
BMKG menyebut suhu panas yang sempat melanda sebagian wilayah Indonesia mulai menurun dibandingkan pekan sebelumnya.
Pada Oktober, posisi matahari berada hampir tepat di atas Pulau Jawa dan Bali, sehingga kedua wilayah ini menerima intensitas radiasi matahari yang lebih tinggi.
BMKG memprakirakan potensi hujan sedang hingga lebat meningkat di sebagian wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan, 21–27 Oktober 2025 meski cuaca panas masih terjadi
Sinar matahari yang panas dan terik juga akan merangsang syaraf dalam kepala, dan meningkatkan rasa sakit kepala pada penderitanya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved