Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Kita mengubur mimpi, di tepian ladang padi. Menunggu ia terjaga, pada tahun berikutnya. Roda kenderaan terus menggilas lahan yang ditargetkan. Sambil menimbun rumah yang terbengkalai. Mulai menebas rerumputan yang menyerupai hutan.
Sebagai ucapan salam sebelum pembangunan. Menulis pada kertas putih, lambang perjanjian. Tak ada dada yang melepuh, setelah kata “wujud” menjelma. Tak ada yang menghempas diri, saat ia telah jadi.
Tempat tinggal akan jadi perbandingan, dari setiap renjisan detik. Bukan sekadar bisik mimpi, melainkan pembalut hati. Doa disertakan, seolah-olah tak ingin sama seperti rotasi sebelumnya. Semangat yang terbakar, mengikuti setiap musim. Menjelang tahun berputar di urat-urat kepala.
Setiap ucapan yang lahir, terus menghempas rimbun kata-kata. Menunggu perubahan, tak jadi murka. Dan mengisahkan hal yang sama. Berkabar padamu, sebaris catatan api yang menyala dalam diri. Seluruh tatapan mata, menghanguskan keraguan yang bertapa.
Kecemasan yang ditemui, kabar pun sampai. Memutar hati serasa digergaji. Padahal di celah peta masih ada tanda. Terlihat basah sebagai tempat membaca. Lalu di wajah bimbang dan hangus dibakar keraguan. Mulai pulih, terlihat bersih. Serupa tembang menunggu dipegang.
Kata-kata yang diungkapkan, tergenggam hingga dipahat palu. Mengalirkan sungai impian pada sela-sela tahun. Sesuatu yang sangat berharga, hampir mengelupas. Nyaris menyeramkan pada rotasi tahun sebelumnya.
Rimbo Panjang, 2023
78 tahun kita dilipat mimpi
dalam pangkuan janji-janji kasih
setelah bercinta di atas kursi
sebagai kelengkapan yang ingin diperjalanankan.
Anak-anak hanya kelelahan berlari
memakai sarung waktu
penetapan yang diembankan
kini mereka sudah menemukan tujuan
terbangun dan memetik mimpi
lalu bersaing ke semua negeri.
Menggulung kenangan
dalam susunan peristiwa
kita hanya lemas sementara
tenggelam dalam dada kenangan.
Dalam kepala ada yang berlarian
melewati akal-akal yang nakal
mencemaskan hati,
penuh dengan keinginan yang miris.
Tapi hadangan perih dan luka
sebentar lagi akan sampai pada kota-kota
membawa alat-alat berat
yang bermalas-malasan bertugas
ia telah dipahat sampai tamat
pada setiap helat waktu.
Persaingan telah ditulis pada hamparan.
Terlihat pada dinding mata.
Menyerupai katarak,
menutup-nutup perdaban.
“Bukan itu, yang dimaksudkan!” Katamu.
Melainkan dugaan
yang terus mengisak saban petang.
Saat bulan mengabang
di atap rumah mambang.
Rimbo Panjang, 2023
Ia ketinggalan travel, pada jam dua belas siang. Tapi aku menemukannya saat aku dikejar hantu. Berlari ke arah lampion yang menikam mata. Segalanya jadi luka. Tak sempat membawa bekal, terus mengejar angka 2045.
“Apakah ia malang?”
Hampir tak bisa menaklukkan sunyi, di angka-angka yang tertinggal. Travel mendatangkan malang, saat ia sedang riang. Roda-roda itu seperti membawa emas. Laju berputar, mengejar dan menjalar. Ia kejar dengan darah gemuruh dalam tubuh.
“Ia dan aku orang-orang malang?”
Aku juga tetap berlari, saat matahari baru mengintai dari cela paha. Lalu bernaung di bawah bendera Indonesia. Sebelum ditebas penjajah dan kehilangan tanda.
Di sekeliling, bayi-bayi yang dicadang. Diwacanakan sebagai generasi periang. Menjauhi malang dari kutukan pembangkang. Berdamai di bawah pohon cermai, yang hampir tumbang.
“Ia terus mengejar travel! Aku mengejar kata-kata! Bayi-bayi mengejar usia!”
Tapi, ia menghimpun pada jalan yang ditargetkan. Sebab angka 2045 menyimpan taring. Sebagai ketajaman bangsa yang nyaring. Menghapus purba yang bersarang di setiap kepala. Menutup masa lalu dengan penuh tanda tanya.
Bayi-bayi yang tak pernah curang, terus merebut usia. Menggetarkan tiang bendera, dari peluru penjajah yang tak punya saudara. Aku terus menyonsong, membawa jimat. Menangkal angka yang sudah tamat. Mebersihkan debu-debu penjajahan. Di kepala yang terikat.
Rimbo Panjang, 2023
Kita mengubur mimpi di tepian ladang padi. Menunggu ia terjaga pada tahun berikutnya.
“Jika ia tajam maka jadilah!”
Yang memanjang rupanya perjalanan masa
setiap persegi yang tertanam dengan ragu
jangan rusing dengan tajam-tajam pandangan
sebelum rumput dihimpit gedung.
Tiada darah pada mata kita
sekian lama berdiam di tangan purba
kupahami halus dari sisi pangkal waktu
sebagai sapaan kawan.
Jantung yang sedang ditimang-timang
bersilang-pagut sehabis menang-perang
ini bukanlah belah mencari retak
tapi serpihan sejarah yang mendayung tahun
setelah gelombang-gelombang hari menggunung.
Berani menjadi jantan menuju tujuan
memahat jejak pada dinding hidup
matanya adalah alamat tak bertingkap
menyusun puing-puing hajat yang masih tersimpan.
Tersadai pada goa-goa, maka berumahlah pada buih
membuat jejak pada daun-daun
memeluk belukar waktu dalam tanda-tanda baru: “2045!”
Pekanbaru, 2023
Sejarah sedang mengandung, pada jaringan-jaringan peradaban. Mengejar cerdas pada tingkap yang tertutup zaman. Abadi untuk bersenang-senang.
Tipologi samar-samar pada kaki, ia menuju alamat 5.0 sambil berlari. Gang-gang teknologi memberi jalan panjang. Membuka peta, merapal kata-kata yang menggerutu.
Di panggung, ada puing-puing waktu, tempat Jan van Dijk mengirup masa lalu. Ia merancang, di luar pemikiran. Memompa kata-kata yang terlihat dari arah belakang.
Sebuah revolusi berdebat di atap rumahnya, hilir-mudik mencari aliran listrik. Bekas Klaus Scwab menguapkan mesin, tempat menegcas puisi yang lemah.
Produksi cermin, seperti: Technological determinism kaku. Terbang ke Jerman, kita meneliti fisik yang galau dan lelah. Dikejar media dari belakang.
Pekanbaru, 2023
Baca juga: Puisi-puisi Anton Sulistyo
Baca juga: Puisi-puisi Yana Risdiana
Baca juga: Puisi-pusi Deriska Salsabila
JONI HENDRI, pemuisi dan pengajar, kelahiran Teluk Dalam, Pelalawan, Riau, 12 Agustus 1993. Alumnus Program Studi Seni Teater di Akademi Kesenian Melayu Riau dan Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning. Karya-karyanya berupa esai, naskah drama, cerpen, dan puisi sudah dipublikasikan di sejumlah media cetak, daring, dan antologi. Aktif bergiat di Rumah Kreatif Suku Seni Riau dan berorganisasi di Komite Teater Dewan Kesenian Kota Pekanbaru. Puisi-puisi di sini diterima redaksi dalam rangka mengikuti Lomba Cipta Puisi Media Indonesia 2023. Kini mengajar di SD Negeri 153 Pekanbaru. (SK-1)
Puisi “Perempuan dan Tubuhnya” karya Akromah Zonic menyoroti objektifikasi, pengawasan sosial, dan nilai tubuh perempuan melalui lirik reflektif yang kuat dan menyentuh.
Puisi Aku Laut, Aku Ombak karya Iverdixon Tinungki menggambarkan laut sebagai bagian hidup yang dekat dengan manusia.
Kontribusi Chairil Anwar lewat puisi tersohor seperti Aku, Doa, dan Derai-Derai Cemara menjadikannya simbol perlawanan dan kebebasan berpikir.
Falcon Pictures ingin menghadirkan kembali sosok Chairil bukan hanya sebagai sastrawan, tetapi sebagai manusia yang mencintai, memberontak, dan hidup sepenuh tenaga.
Pelatihan daring ini diikuti ratusan sekolah peserta Festival Literasi Kutai Timur #1. Para siswa dan guru mengadakan nonton bareng di sekolah masing-masing.
Dilengkapi layanan chat multibahasa, Sahabat-AI mampu memahami nuansa bahasa, merangkai kata, dan menghasilkan karya sastra dalam bahasa lokal.
Dalam pandangan Gol A Gong sastra berfungsi sebagai ruang jeda dari banjir informasi digital yang dangkal.
SAYEMBARA Novel DKJ 2025 telah mengumumkan pemenangnya semalam, Rabu, (5/11) di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.
Kemendikdasmen melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) menegaskan komitmen negara terhadap pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa serta sastra.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), menggelar rangkaian kegiatan strategis dalam rangka penguatan literasi dan sastra, serta revitalisasi bahasa daerah di Jawa Tengah.
Aprinus mencontohkan, beberapa karya yang kandungan SARA, yakni pada novel Salah Asuhan yang pada draf awalnya disebut menyinggung ras Barat (Belanda).
Sastra sebagai suatu ekspresi seni berpeluang mempersoalkan berbagai peristiwa di dunia nyata, salah satunya adalah persoalan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved