Sajak-sajak Joni Hendri 

Menerjemahkan Kehidupan 

Matahari muncul, 
menyerupai sumbu pelita yang hidup 
aku peluk panasnya untuk menerjemahkan kehidupan. 

Hembusan angin meluruskan kekeliruan 
yang berlarian di pori-pori hidung: 
mencari nafkah di masa sulit, 
tubuh pun kering tak bernasib. 

Aku menangkap pekerjaan, 
di tempat duduk yang lapuk 
dipenuh semut merah yang menggigit kulit 
dari lorong-lorong tanah liat sebagai kematian. 

Ada letih yang terletak pada setiap pertanyaan 
sebagaimana kedatangan Munkar dan Nakir 
menguji kematian itu sendiri 
saat mata melihat dinding tanah 
dan hidung menciumnya. 

Sulit menterjemahkan kehidupan, 
yang berakhir kekeliruan! 

Pekanbaru, 2021 

 

Baca juga: Sajak-sajak Doddi Ahmad Fauji

Baca juga: Sajak-sajak Renggi Putrima

 

Tukang Kangen 

“Aku kangen kau!” 
Semut-semut mulai berkerumun 
begitu manis, memakan rasa yang suram. 

Bayang-bayang ditelan mimpi 
sebelum bersembunyi 
mencari kangen yang berlari. 

Ia tak mengerti perbuatan, 
kangen menjelma bara api 
abu terbang menjadi mimpi. 

Mungkin, aku kangen 
dan kau telah lama pergi. 

Pekanbaru, 2021 

 

Angin dan Pelabuhan 

Angin sepoi di pelabuhan 
saat aku duduk sendirian 
membuang galau yang berlabuh 

Dendam bertuah dalam sampan 
para jomlo menunggu jamuan malam. 

“Kau masih sendiri?” 
“Aku laki-laki menunggumu!” 

Pelabuhan Penyalai, 2021 

 

Proposal Akhirat 

Kertas-kertas menangkap makna 
tulisan-tulisan yang kusam mengucap; 
berbagai huruf luka hinggap, yang coretannya 
 menjadi kalimat, sebelum dibacakan sampai tamat. 

Kata-kata melingkari kepala 
menjadikan bentuk abstrak; 
menelaah di ujung kampung, 
di mata hanya bulatan jari, 
berbentuk lembaran-lembaran. 

Proposal-proposal tak terkirim, 
menatap di jendela besi yang dipunggunginya 
hingga curhatan membekas pada puntung rokok 
terbang oleh kenakalan, yang menjelma puing-puing. 

Sebuah pintu lebar terbuka 
menuju Masjid di gang sempit 
mata jadi cermin menyimpan semesta 
sekarat bermain-main dalam jamuan hidup. 

Tetesan kopi di gelas, penuh perangkap 
seolah-olah membangkitkan bunyi masa lalu 
memecahkan sepi dari iman, 
membangun sirkus peradaban 
hingga lima tugas jadi paku. 

Setiap pagi, 
amal-amal tak berpintu 
menziarahi sepanjang jalan. 

Maka, proposal sebagai niat 
mengantar rasa dosa-dosa pada episode 
membungkus lembar-lembar pahala 
menepi dari keramaian, ingar-bingar serupa makian orang gila 
memahat istiqomah sebelum sampai ke ujung nyawa. 

Suku Seni Riau, 2021 

 

Baca juga: Lomba Cipta Puisi Media Indonesia

Baca juga: Sajak-sajak Maria Regine

 

Sang Pengantin 
: kepada Dendi Jefriadi 

Malam menikam perasaan, 
keris pusaka diasah, untuk melukai 
pedih pun berguguran ke lantai 
merebus asmara di rumah sendiri 
kebahagiaan memeluk sekujur tubuh 
berharap sesuatu menjadi manusia 
dalam desakan-desakan cintamu. 

Cahaya padam, 
mengingat kekosongan 
yang sedang diisi, masuk ke relung terdalam 
semesta yang bersembunyi di sebalik rok mini 
menyambut dengan estetika paling berharga 
kenangan sepajang jagat raya kehidupanmu. 

Abaikan satu bunyi derit pintu 
di tengah perjalanan alam tangan 
sebutir peluru mulailah menembak sasaran 
mencari bagian tersesat 
sebelum siang memaksa untuk berhenti 
dan matahari pagi membakarnya. 

“Selamat pengantin baru,” kataku. 

Pekanbaru, 2021 

 

Demam Panas 

Suhu panas menyelimuti tubuh 
dingin tak sudi menghampiri 
mendung pun tersenyum pada bumi 
yang demam sangat menderita 
tak ada mobil tuk membawanya ke rumah sakit. 

Suasana mengerang dalam gemuruh 
berselimutkan kata-kata yang lugas 
tak ada kalimat “sembuh” sebagai reaksi 
radang tenggorokan membentuk kolam 
saluran-saluran tersekat, mengental 
merasakan air liur yang kelat 
menyekat pencarian di lubang-lubang galian. 

Imun-imun berlarian, 
meninggalkan penjajah saat terinfeksi 
bakteri menyamar bagai sekawanan tentara 
dan dokter-dokter menukar wajah menjadi parasit. 

Ketakutan terus datang, 
menari di panggung kemih 
meminta penonton duduk di saluran-saluran 
lalu memaksa cahaya langit mengenai tubuh, 
saat mendapat sepercikan merah kizmis  
hingga harapan menjadi dosa segalanya. 

Tak tenggelam ketiadaan; wajah sumbang 
kusaksikan nada-nada minor dalam keringat 
meransang telinga, lalu membentuk senyum 
tempat tidur tidak menjawab, sebab demam 
menyerupai kelaparan dan menuntaskan pikiran 
cahaya matahari sebagai obat. 

Pekanbaru, 2021 

 

Selamat Jalan 
: kepada Aki 

Meratap dalam angin 
Yassin kami bacakan 
bermalam-malam. 

Aku lambat melihat, 
memuntahkan kekesalan 
di laut dari nasib. 

Doa-doa di sisinya, 
sebagaimana darah membeku 
mata pejam dan kendur. 

Ia pergi selama-lamanya 
pesan begitu mendalam 
gugur bagai air mata. 

Hingga ziarah 
melihat ketenangan di hari Jumat 
zaman pun berganti baru 
kami tinggal, Aki. 

Penyalai, 2021 

 

Saat Pandemi Kita Membaca Kematian 

Kabar itu bagai hujan deras 
menyerupai jarum yang menikam dada 
setiap detik-detik yang berlalu adalah nyawa 
ambulans berbunyi mengikuti waktu 
menyusun huruf-huruf kematian pada buku. 

Tak kupahami ikhtiar, 
pada lapisan-lapisan ajal saat pandemi 
lambat atau cepat ia datang ke rumah 
hinggap di beranda, lalu ia memeluk. 

Membaca kematian, 
di kaki para petugas yang menyeret kelelahan 
memasang garis-garis pada pasangan kekasih 
mendengar lolongan, di pembaringan 
peluk dan cium sebagai cita-cita yang diinginkan. 

Dua tahun usia terseret rasa cemas 
merenggut ribuan tubuh yang kaku 
liang-liang menganga diam tak berbicara 
menggantung doa-doa di udara yang hampa 
ujung dari angin dosa, semua berhenti dan sengsara. 

Malam membentuk sekatan yang panjang 
hanya bertemu pada siang saat direnovasi 

ruang-ruang rezeki sedang hancur 
akibat tertutupnya wajah-wajah negeri 

betapa panjang jalan panik di kepala 
bersembunyi di dada sesak 
terus mengeja nyawa-nyawa. 

Rasa takut, 
tersimpan di jantung benua 
menyerang, tapi tak tersentuh mata 
terus terganggu dan terhambat. 

Kita sedang membaca kematian dalam hujan 
setiap yang menetes ke bumi saling tabrakan 
merobohkan segalanya dan menggenangkan. 

Pekanbaru, 2021 

 

Baca juga: 2022 Menjemput 2024 

Baca juga: Memelihara Antusiasme

 

 

 

 

Joni Hendri, pegiat sastra dan teater, kelahiran Teluk Dalam, Pelalawan, Riau, 12 Agustus 1993. Karya-karya berupa esai, naskah drama, cerpen, dan puisi sudah dipublikasikan di sejumlah media cetak, daring, dan antologi. Bergiat di Rumah Kreatif Suku Seni Riau dan berkegiatan di Komite Teater Dewan Kesenian Kota Pekanbaru (DKKP). Kini, tercatat sebagai mahasiswa S-1 Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning. Ilustrasi oleh Pingkan Patricia