Headline

Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.

Indahnya Mudik Lebaran Penuh Religi Tersimpan Banyak Makna

Amiruddin Abdullah Reubee
16/3/2026 15:19
Indahnya Mudik Lebaran Penuh Religi Tersimpan Banyak Makna
Pemudik Mahasiswa saat tiba melintasi Kota Sigli, Ibukota Kabupaten Pidie, Aceh.(MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE)

"KULIAH di perantauan membekali kita berbagai pengalaman hidup. Jauh dari kampung halaman, mengajarkanku bahwa berkumpul dengan orangtua dan sesama saudara adalah kerinduan yang tidak tergantikan.Tidak dapat dibeli walau berapapun harganya. Pergilah mencari ilmu sejauh sampai ke kaki langit. Ternyata di pagi hari Idul Fitri, tiada yang lebih indah dari raut wajah orangtua dan tanah kelahiran. Jangan lupa pulang menemui orangtua meski nun jauh di sana."

Begitulah sekelumit kalimat Ghina Zuhaira, mahasiswa Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, kepada Media Indonesia, Minggu (15/3). 

Mengapa tidak, ribuan pemudik mahasiswa pengguna sepeda motor, sejak Minggu dini hari memadati jalur Nasional Banda Aceh, Provinsi Aceh-Medan, Sumatra Utara. Dari ribuan jiwa beragam cita-cita itu, hanya satu tujuan yaitu untuk melepaskan rasa rindu berlebaran Idul Fitri 1447 H/2026 M, bersama ibu dan ayah tercinta. Meskipun dirintangi ratusan kilometer nun jauh di sana. 

Mereka adalah bagian dari sekitar 50 ribu mahasiswa yang terdaftar kuliah di berbagai kampus di Banda Aceh, Ibu kota Provinsi Aceh. Antara lain dari Universitas Syiah Kuala, UIN Ar-raniry, Poltekkes, Universitas Abulyatama, UBBG dan berbagai kampus lainnya.

Dari pengamatan Media Indonesia, pada Minggu dini hari menjelang sahur, para pemudik remaja putra dan Putri itu sudah memadati sepanjang jalan dari Banda Aceh sampai ke Kota Sigli, Ibu Kota Kabupaten Pidie. Wajah-wajah lelah para pejuang rindu tanah kelahiran itu saling berbagi ceria sesama teman-teman rombongannya. 

Sebagian di antara pemudik belia itu berhenti sejenak di dataran tinggi Saree, Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar. Di kota kecil nan dingin dan subur itu istirahat sebentar sambil mampir makan sahur di warung-warung pinggir jalan sambil menari waktu Salat Subuh. 

"Di Saree banyak warung keripik dan tape Ubi. Saya beli beberapa kilo pesanan ole-ole untuk mama dan adik sekalian," tutur Safitra Qalbi, mahasiswa Smester IV Fakultas Hukum USK Banda Aceh, yang membutuhkan waktu 7 jam ke kampung halamannya Desa Jamur Ujung, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah. 

Pemuda asal Tanah Gayo nama lain Bener Meriah itu mengatakan, mengendarai sepeda motor berjarak sekitar 301 km itu tergolong melelahkan. Apalagi harus melintasi melewati pengunungan Seulawah di perbatasan Aceh Besar-Pidie. Lalu jalur bukit-bukit Kabupaten Bireuen-Bener Meriah. 

Bahkan harus melintasi jalur ekstrim karena badan jalan Bireuen, Kabupaten Bireuen-Bener Meriah itu baru dihantam longsor dan banjir besar Sumatra pada 24-27 November 2025 kala itu. 

"Rasa lelah berganti ceria dalam perjalanan bareng sesama teman mahasiswi. Kerinduan segera pulih saat berada di kediaman menatap wajah ibu sekitar pukul 14.00 Wib. Keindahan tiada tara begitu, tiba waktu berbuka puasa lengkap sekeluarga," kata Safitra Qalbi. 

Selain Safitra, ada ribuan mahasiswa lain yang mudik lebih jauh lagi ke Kota Langsa 411 km dan Aceh Tamiang 471 km. Bahkan ada juga yang pulang dengan sepeda motor tujuan Medan, Sumatra Utara, melalui jalur nasional sekitar 575 km atau 12 jam perjalanan. 

Para pemudik mahasiswa itu sering rela istirahat di masjid, mushalla, meunasah, saat tiba waktu salat. Mereka juga bersedia berhenti sejenak untuk menghilangkan penat di balai, warung atau tempat duduk sepanjang pinggiran jalur yang dilalui itu. 

Adapun Farida Hanum, Mahasiswi Smester IV Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (F-KIP) USK juga mengisahkan, mudik lebaran untuk melepaskan rindu bersama keluarga merupakan perjalanan religi penuh makna. Meski ratusan kilo meter jalan harus ditempuh melewati pendakian terjal, turunan dan tikungan tajam. 

"Itu semua ingin menatap wajah orangtua yang begitu lelah untuk kita. Menikmati alam desa yang masih alami oleh pepohonan rindang, sawah membentang dan lembah ngarai nan sejuk yang seolah menjamu yang sudah lama pergi," tutur alumni SMA Sukma Bangsa Pidie yang juara menulis Essay itu. 

Sesuai penelusuran Media Indonesia, sedikitnya ada 50 ribu pemudik mahasiswa meninggal Kota Banda Aceh, Ibu kota Provinsi Aceh, tujuan kampung halamannya. Mereka kuliah pada berbagai Universitas Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta di ibu kota provinsi kilometer nol Indonesia itu. 

Dalam rangka libur lebaran Idulfitri mereka memanfaatkan untuk pulang menyebar ke seluruh pelosok Aceh, dan berbagai provisi di tanah air. Bahkan ratusan mahasiswa asing juga ikut mudik ke berbagai negara masing-masing. 

"Ingin segera terbang ke kampung halaman. Meskipun di sana penuh kesederhanaan. Tapi jauh hiruk pikuk perkotaan, bersih dari asap kenderaan dan bebas hutan beton gedung megah. Ingin melihat sawah nan luas membentang diwarnai pemandangan matahari terbenam di kaki langit, sungguh keasrian tiada tara. 

''Belum lagi bertemu dengan kawan masa kecil. Lembutnya gadis berkerudung dan lelaki berkain sarung. Itu seolah menghadirkan kita ke masa kecil dulu kala bermain, berlari menyusuri pinggiran sawah membedah lorong-lorong kampung bersama teman sepermainan," kisah Ghina Zuhaira, dokter muda yang sedang Koas di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Prof Mustanir, melalui Media Indinesia mengingatkan, arus mudik liburan Idul Fitri kali ini adalah sangat padat. Apalagi di jalur Nasional Banda Aceh-Medan dan jalur Nasional Banda Aceh- Barat Selatan. 

Begitu juga di jalur penyeberangan laut Daratan Aceh-Pulau Simeulue, penyeberangan Singkil-Pulau Banyak dan Banda Aceh-Sabang. Bahkan arus mudik juga membludak melalui jalur udara dari dan ke Bandar Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar. 

Pihaknya berharap para mahasiswa terutama kaum wanita untuk berhati-hati. Apalagi saat dalam bus umum, pesawat udara, kapal penyeberangan, minibus pribadi dan pengendara sepeda motor. 

"Jika melihat atau mengalami perilaku kekerasan dan merasa tidak nyaman, jangan ragu melapor ke satgas hotline 0823 2000 293. Cukup istirahat dan jangan memaksa perjalanan kalau kondisi tidak mengizinkan. Paling penting jangan ngebut atau ugal-ugalkan untuk menghidari kecelakaan lalu-lintas. Ingat orangtua atau keluarga mu menunggu di rumah. Keberadaan masa depan mu harapan  keluarga," harap Prof Mustanir mengingatkan. (H-1) 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Denny parsaulian
Berita Lainnya