Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Ketika Perang Meriam Bambu dan Karbit di Pidie Aceh, Potensi Wisata Menggiurkan tidak Terhirau Pemerintah 

Amiruddin Abdullah Reubee
26/3/2026 16:22
Ketika Perang Meriam Bambu dan Karbit di Pidie Aceh, Potensi Wisata Menggiurkan tidak Terhirau Pemerintah 
Tradisi meriam bambu di Pidie saat Lebaran menarik ribuan wisatawan.(MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE)

ARUS lalulintas di jalur Provinsi Kota Sigli, Ibukota Kabupaten Pidie- Kampus Universitas Jabal Ghafur, mulai macet dan merayap pada Sabtu (21/3) malam, sekitar pukul 20.30 WIB. Sekitar 7 km jalur ditepian Sungai Krueng Baro itu dari Desa Gampong Barat Kecamatan Pidie hingga Desa Keubang Kecamatan Indrajaya dipenuhi ribuan sepeda motor dan mobil mini bus belasan ribu pengunjung. 

Mereka yang umumnya para kaum pemuda/pemudi belia dan rombongan keluarga membawa serta anaknya berbagai usia. Para wisatawan lokal itu datang dari berbagai kecamatan di Pidie hingga asal kabupaten lain di Aceh, seperti dari Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Pidie Jaya. 

"Ada kawan dari Banda Aceh ingin melihat langsung aksi pertempuran meriam bambu dan drum karbit. Mereka singgah di rumah dan bermalam disini", tutur Muhammad Haiqal, Aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) Aceh yang juga pemuda Kemukiman Garot, Kecamatan Indrajaya. 

Kedatangan belasan ribu orang pengunjung hanyalah untuk menonton (melihat) peperangan meriam bambu dan meriam karbit. Itu merupakan tradisi unik sejak tempo doeloe yang di gelar saban tahun dalam memeriahkan Hari Raya Idulfitri. 

Sesuai penelusuran Media Indonesia di lokasi, ajang eksibisi (pertunjukan) itu digelar di pinggiran Sungai Krueng Baro, sebuah aliran sungai ganas ganas dan rawan banjir. Sedikitnya 16 desa di pinggiran Sungai Krueng Baro itu ikut terlibat dalam ajang persyaratan perang unik tersebut. 

Setiap desa memiliki satu kelompok kesehatan dan menjejerkan meriam bambu atau drum karbit di tepi sungai wilayah teritorial masing-masing . Moncong meriam di arahkan ke arah lawan di seberang sungai yang dipenuhi deretan rumpun bambu sepanjang pinggiran nya. 

"Meriam kelompok personel petempur suatu desa dengan desa lawannya di seberang sungai saling berhadapan. Sebelah timur sungai dari Desa Gampoeng Barat Kecamatan Pidie-Desa Keubang Kecamatan Indrajaya ada 7 km. 

Sebelah barat sungai juga 7 km dari Desa Raya Sanggeue Kecamatan Pidie-Desa Dayah Baro Kecamatan Delima. Sepanjang 7 km itu berjejran meriam bambu dan drum karbit tersebar dalam wilayah 16 kelompok desa" tutur Haiqal, yang juga mantan petempur meriam bambu kesebelasan Desa Blang Indrajaya. 

Dari pengamatan lapangan, sedikitnya ada 16 kelompok desa atau regu pertempuran yang terlibat dalam peperangan dentuman suara menggelegar itu. Ke 16 regu ada kelompok pemuda Kecamatan Pidie, Kecamatan Indrajaya dan Kecamatan Delima. 

"Setiap kelompok berhadapan dengan desa di seberang sungai. Ada berperang dengan desa lain beda kecamatan, ada juga yang lawannya beda desa tapi kecamatan mereka sama" tutur Haiqal. 

Sekitar pukul 00.00 Wib, dentuman senjata besuaran dahsyat dan tidak memiliki peluru tajam itu menggelegar saling bersahutan antara satu meriam dengan lainnya. Ribuan pengunjung rela berdiri di pinggiran jalan atau tepi sungai menikmati suara goncangan yang seolah kita sedang berada di kawasan konflik Timur Tengah. 

"Baru menjelang subuh Minggu (22/3) dini hari, saling serang antar kelompok meriam bambu dan karbit itu mereka. Aksi pelepasan berbagai jenis kembang api pun berakhir se iring menjelang azan subuh" tambah Muhammad Habibi, lelaki berusia menanjak asal Desa Blang Gatot. 

Bukan saja di pinggiran Krueng Baro yang melintasi Kecamatan Indramayu, Delima, dan Kecamatan Pidie Kabupaten Pidie. Peperangan meriam bambu berbahan bakar minyak tanah bercampur bensin (pertalite) dan drum berbahan karbit itu juga cukup meriah digelar setiap malam lebaran kedua itu di 5 desa dalam Kemukiman REUBEE, Kecamatan Delima. 

Konon, meriap bambu itu zaman dulu digunakan untuk membangunkan sahur saat bulan Ramadhan. Lalu diberikan juga ketikan masuk waktu indah hingga tepat masuk waktu salat subuh. 

Larang berat membunyikan saat sedang berlangsung selama tarawah dan ketika orang salat kash rawatib 5 waktu di masjid atau musalla.  Lalu dikabarkan juga sering di bunyikan untuk mengusir hantu di tempat dianggap angker. 

Budayawan dari Universitas Syiah Kuala (USK), mengharapkan tradisi peperangan meriam bambu dan meriam drum karbit yang memeliki ke unikan dan sudah menjadi daya tarik punlik sejak ratusan tahun silam itu mendapat kepedulian perintah. Kearifan lokal di tingkat pemuda dan anak-anak itu perlu sentuhan program wisata. 

Dengan memasukkan tradisi teoet  bude trieng (bakar meriam bambu) menjadi paket wisata budaya tentu pelaksanaannya akan lebih terarah dan tertip. Pemerintah bisa membuat aturan dan ketertiban yang sesuai dengan etika dan standar operasional terukur, terarahah serta tidak terusik Syiar atau religi. 

"Ini ada potensi wisata budaya dan religi luar biasa. Tapi tunggu dulu. Tidak boleh fulgar tidak ada aturan kapan, dimana lokasi dan bagaimana kualifikasi meriam itu baru bisa di sayembarakan. Paling penting jangan melangkahi keistimewaan syariat Islam di Aceh dan tidak merusak lingkungan serta mampu membangun kekompakan" tutur M Adli Abdullah. 

Menurut Adli Abdullah, kalau perangkat karbit itu dibiarkan berkeliaran tanpa panduan lebih bagus bisa juga berpotensi terganggu kenyamanan publik. Tapi bila mendapat polesan dan Stantandarisa Operasional tentuenkadi aset wisata yang menghasilkan sertaenjadi ajang kampany silaturrahmi kebersamaan. 

"Potensi sudah ada untuk menghidupkan perekonomian warga. Bagaimana kalau di Pontianak, Kalimantan bisa menjadi ajang wisata setelah ditangan pemerintah provinsi dan kabupaten setempat" tambah Adli Abdullah yang juga pakar sejarah itu. (MR/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE) 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya