Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
JARUM menunjukkan sekitar pukul 04.45 Wib, Kamis (19/3) dini hari. Ghina Zuhairan bergegas bangun sahur seraya mempersiapkan berbagai barang bawaan atau keperluan di rumah kosnya, kawasan Jeulingke Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Ibukota Provinsi Aceh.
Sebuah tas ransel dan satu lagi tas jinjing sudah penuh dengan pakaian serta barang-barang yang dianggap penting atau cukup untuk sekitar sepekan libur lebaran Idulfitri 1447 H/2026 M. Adapun minyak bahan bakar sepeda motor sudah duluan di isi sehari sebelumnya.
Mahasiswi Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK) Aceh itu, segera makan sahur dengan sepotong roti tawar serta dua gelas air putih. Lalu mempersiapkan diri seraya menunggu waktu Salat Subuh yang hanya tinggal belasan menit lagi.
Dokter Muda sedang koas di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) itu ingin mudik Woe U Gampoeng (pulang kampung) menikmati hari mameugang (hari tradisi makan lauk atau sayur daging) bersama kedua orang tua dan saudara sekeluarga. Lalu merayakan indahnya Idulfitri 1447 H, di kampung halaman dimana dia dilahirkan.
"Ibu dan ayahku sangat berharga dalam hidup ini. Mereka energi meraih masa depan, pelita di kegelapan sunyi. Jauh dari hiruk pikuk kemacetan, hamparan sawah membentang, aku rindu kampung halaman dimana kami dilahirkan. Ingin mendengar merdunya panggilan ibu di dapur yang lagi memasak daging mameugang.
Hati ini selalu mengenangmu karena kampung halaman bagian dari cerita hidupku," Demikian antara lain ungkapan Ghina Zuhairan, kepada Media Indonesia, Kamis (19/3).
Di provinsi paling barat Indonesia yang berjulukan Bumi Serambi Mekkah, Mameugang dan Lebaran itu laksana dua sisi mata uang tidak terpisahkan. Ini antra tradisi dan religi yang menyimpan banyak makan.
Mameugang atau dengan kata lain sebut megang adalah tradisi religi turun-turun dimana sang anak yang sudah berhasil tumbuh dewasa membeli daging mamegang kepada ibu dan bapaknya. Si kaya berbagi sedekah kepada yang miskin. Tradisi warisan budaya itu dilakukan dua hari menjelang Ramadhan, dua menjelang lebaran Idulfitri dan dua hari hendak memasuki Idul Adha.
Bahkan zaman kesultan Aceh dibawah Sultan Iskandar Muda tahun 1607-1635 M, orang miskin, anak yatim dan masyarakat dhuafa lain nya dibagikan daging mamegang dan kain untuk baju lebaran. Meskipun mereka sudah berpuasa sebulan, di hari kebahagiaan mameuhang semuanya dapat merasakan kelezatan kari kerbau atau lembu.
Makan lauk daging atau berbuka puasa bareng bersama sekeluarga bukan saja kesempatan berbagi ceria, tapi kesempatan saling bertemu dengan status sosial setara.
Keinginan menikmati tradisi mamegang, bukan saja tradisi menyambut Ramadhan, memuliakan Idulfitri atau kebiasaan dalam menanti Idul Adha. Tapi juga terbangun dalam karakter religius generasi terpelajar asal Serambi Mekkah dimanapun mereka berada.
"Ibu saya sendiri di kampung. Saya sangat kagen masakan beliau beliau setiap hari di sajikan. Sudah 4 tahun kuliah di perantauan Jember, setiap tiba Lebaran selalu tidak bisa pulang. Kadang waktu libur sangat singkat atau karena keterbatasan biaya. Rindu sekali berkumpul sama keluarga sebagaimana teman lain. Sudah lama Ingin mengunjungi sanak keluarga dan teman masa kecil, tapi selalu tak sampai," kisah Teuku Khairil Akli, Mahasiswa Smester VIII, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jember (UNEJ), Jawa Timur, asal Krueng Seumideuen, Pidie, Aceh.
Muhammad Jundi Rabbani, mahasiswa smester akhir Sakarya University, Turki, kepada Media Indonesia mengaku, sudah tujuh tahun meninggalkan kampung halamannya di Sigli, Kabupaten Pidie. Karena sudah lama tidak melihat lansung raut wajah ibu dan kerut muka ayahnya, Idulfitri 1447 H kali ini, dia harus menanggung rindu sangat memuncak.
Paling memuncak terasa pada Kamis dini hari, persis ketika di Aceh berlangsung mamegang hari pertama dan besoknya dilanjutkan mameugang kedua.
"Sudah 7 tahun saya di Turki, tapi entah kenapa tahun ini rindu Aceh rasanya sesak sekali. Apalagi kalau ingat momen Mameugang. Di sini suasananya tenang, tapi di kampung, Mameugang itu ibarat "perang" yang menyenangkan," tutur Muhammad Jundi Rabbani Hafidh 30 Juz yang sedang pendidikan jurusan Ilahiyat di negeri Recep Tayyib Erdogan itu.
Putra pasangan Nur Ainun dan Abdullah AR itu kagen kebiasaan mamegang di Aceh bangun subuh, lalu pergi ke pasar yang ramai luar biasa hanya untuk berburu daging sapi segar. Suara pedagang yang bersahut-sahutan dan deretan daging yang digantung itu benar-benar ciri khas yang tidak ada di Sakarya, Turki.
Pulang ke rumah, dapur langsung wangi bau rempah sie reuboh (daging masakan bumbu rebus) atau rendang. Capek masak, tapi senangnya luar biasa karena makan besar bareng keluarga. Pas hari Lebarannya juga beda. Di sini, Idulfitri terasa cepat berlalu.
"Saya rindu jalan kaki ke masjid di Aceh sambil dengar takbir yang menggema di mana-mana. Rindu juga duduk di ruang tamu, makan kue-kue lebaran sambil ngobrol ngalor-ngidul sama tetangga dan saudara yang datang silih berganti.
Tujuh tahun memang sudah membuat saya terbiasa dengan kehidupan di Turki, tapi jujur saja, belum ada yang bisa menggantikan "hangatnya" Lebaran di Aceh" tambah Jundi.
Jundi mengaku dalam kehidupannya sepertietasakan kealpaan kalau hari tidak dengar riuhnya pasar daging dan tidak mencium bau masakan khas rumah. Apalagi pemuda yang sudah lama merantau kuliah di negara bertenangga dengan Iran itu, kini saban hari mendapat informasi ketegangan AS-Israel vs Negeri para Mullah tersebut.
Perasaan senada juga diungkapkan Aulia Saiful Hadi, Alumni Universitas Prasetiya Mulya, TangerangTangerang, Banten. Menurut Aulia, rindu yang paling tidak tertahan itu adalah suasana Hari Meugang.
Remaja asal Reubee, Kabupaten Pidie, Aceh itu mengungkapkan Mameugang bukan sekadar makan daging, tapi simbol kebersamaan dan penghormatan kepada orang tua. Ada kehangatan luar biasa saat kita duduk menyantap hidangan daging bersama Ayah, Bunda, dan saudara di rumah. Suasana yang tidak bisa digantikan oleh kemewahan apa pun di perantauan.
"Alhamdulillah, tahun ini saya mendapat kesempatan pulang kampung. Meski baru tiba H-1 atau H-2 menjelang Idulfitri sambil menunggu keputusan Sidang Isbat.
Rasa lelah perjalanan pasti terbayar tuntas begitu bisa kembali berkumpul dan mencicipi masakan orang tua di kampung halaman, yang selama ini hanya bisa saya bayangkan dari jauh," ujar Alumnus SMA Sukma Bangsa Pidie itu.(H-2)
HARGA daging sapi 19 Maret 2026 di Aceh Barat tepatnya Meulaboh, naik menjadi Rp170 ribu per Kilogram. Daging sapi digunakan untuk tradisi meugang menyambut Hari Raya Lebaran 2026
Puncak arus mudik 2026 Aceh terjadi hari ini, Rabu (18/3). Puluhan ribu pemudik padati jalur Banda Aceh-Medan demi tradisi Meugang. Simak titik istirahatnya.
ARUS mudik penumpang angkutan umum dari luar daerah mulai terlihat memadati berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Aceh sejak dua hari terakhir.
Kepala Posko Wilayah Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh Safrizal ZA menyerahkan bantuan kepada korban banjir di Kabupaten Bireuen.
Tidak berlebihanlah kalau mudik ke kampung halaman saat menjelang Lebaran, adalah napak tilas sang penebar cinta dan perjuangan pemburu rindu.
Berlokasi strategis di pusat kota, Kotta GO Yogyakarta memudahkan tamu untuk menjangkau berbagai destinasi favorit seperti Malioboro, Tugu Yogyakarta, hingga Keraton Yogyakarta.
Capek liburan tapi malah stres karena ramai? Intip tips cerdas cari destinasi hidden gem dan strategi liburan tenang (quietcation) di tahun 2026.
TRADISI tahunan menjelang Hari Raya Idulfitri ini kembali menghiasi pasar tradisional Pamanukan, Subang, Jawa Barat.
Manajemen daya dan pemilihan rute menjadi faktor penentu keselamatan mudik menggunakan motor listrik.
Saat ini, Indonesia memiliki 57 taman nasional dan 145 taman wisata alam dengan total 580 pintu masuk.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved