Headline
Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.
Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.
Kumpulan Berita DPR RI
INGIN bertemu orangtua dan saudara sekandung pada pagi Lebaran, adalah kerinduan yang terpendam dalam menjalani hari-hari di perantauan. Lalu mengunjungi sanak keluarga besar atau kerabat sepermainan dulu, merupakan kerinduan tiada terhingga.
Meskipun kadang harus membedah lorong sampai ke ujung kampung, menyeberangi sungai, menyusuri sawah, menapaki langkah sampai ke lereng bukit. Itu bukanlah jurang untuk berbagi keceriaan.
Tidak berlebihanlah kalau mudik ke kampung halaman saat menjelang Lebaran, adalah napak tilas sang penebar cinta dan perjuangan pemburu rindu. Karena itu ribuan orang rela melakukan perjalanan menembus kedinginan malam atau membelah panasnya terik matahari di tengah cuaca ekstrem.
Mengapa tidak, buktinya jalur Nasional Banda Aceh-Medan misalnya, dalam dua hari terakhir, sejak Minggu (15/3) dipadati, ribuan pemudik motor untuk pulang ke kampung halaman tempat mereka dilahirkan.
Itu merupakan perjalanan para mahasiswa berbagai kampus atau perantau yang selama ini menuntut ilmu dan kerja mencari nafkah di Banda Aceh, Ibu Kota Provinsi Aceh. Dari sekitar 50 ribu mahasiswa/mahasiswi dan belasan ribu PNS atau karyawan swasta, kini mereka tersebar pulang ke berbagai pelosok melalui jalur Nasional Banda Aceh-Medan serta jalur Banda Aceh- Pantai Barat Selatan.
Untuk menghindari panasnya terteriknya yang kini bumi Serambi Mekkah, cukup banyak yang berangkat pada malam hari selepas salat Tarawih, menjelang waktu sahur atau setelah salat Subuh. Tujuannya agar tidak dehidrasi karena kekurangan cairan tubuh di tengah teriknya bulan Ramadan.
"Saya, kemarin, setelah salat subuh di rumah kos, langsung berangkat pulang. Perjalanan menjelang pagi itu lebih nyaman. Suasana masih segar, cuaca dingin, lalu arus lalulintas belum padat. Kita pun masih leluasa menikmati keindahan alam dataran Tinggi Saree dan kawasan Taman Hutan Raya Pocut Meurah Intan di Pegunungan Seulawah," kata Farida Hanum, mahasiswi smester IV Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (F-KIP) Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, asal Gatot, Pidie, Senin (16/3).
Dari pengamatan Media Indonesia, ribuan pemudik motor dari Banda Aceh yang umumnya mahasiswa dan pedagang memilih perjalan malam hari. Selain untuk menghindari cuaca manas yang sedang melanda Aceh, juga mencegah dari kemacetan lalu lintas selepas siang hingga menjelang berbuka puasa.
Beberapa titik kepadatan lalu lintas rawan macet di jalur Nasional Banda Aceh-Medan itu di antaranya di kawasan Pasar Lambaro, Indrapuri (Kabupaten Aceh Besar), Pasar Grong-Grong, Caleue, Beureunuen (Kabupaten Pidie), Lueng Putu, Meureudu, Ulee Glee (Kabupaten Pidie Jaya). Berikutnya Pasar Bireuen, Matang Geulumpang Dua, Kuta Blang, Geureugok (Kabupaten Bireuen), Krueng Mane, Keureungkueh, Geudong, Lhok Sukon (Aceh Utara), Idi, Peureulak (Aceh Timur) dan Langsa (Kota Langsa).
"Kami dari Banda Aceh sekitar pukul 04.00 WIB. Makan sahur dalam perjalanan kawasan Saree, Aceh Besar. Tergetnya sebelum sore sudah sampai tiba di rumah," tutur Muslim, warga asal Desa Blang Ara, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara, yang ditemui Media Indonesia saat istirahat sejenak di Masjid Baitul Huda, Blang Malu, Kabupaten Pidie, Senin usai Salat Sunuh.
Berangkat larut malam atau setelah salat subuh menjadi pilihan pemudik bersepeda motor dari Banda Aceh, bukan saja untuk menghindari cuaca panas dan kemacetan, karena banyak minibus pribadi atau truk barang. Tapi mereka juga ingin lebih cepat tiba di rumah atau jangan sampai larut malam sedang dalam perjalanan.
Apalagi pemudik perjalana jauh seperti ke Langsa 411 km, Aceh Tamiang 471 km dan Medan, Provinsi Sumatera Utara 575 km, atau sekitar 12-14 jam perjalanan sepeda motor. Dengan pejalanan dini hari mereka adat kesempatan beristirahat menghilangkan penat dalam perjalanan.
Bahkan kalau sempat turun hujan, terpaksa harus beristirahat menunggu reda. "Saya kemarin sempat beristirahat di SPBU Pulo Pisang, Pidie dan berhenti sejenak salat dhuhur di Bireue. Sekitar pukul 14.00 WIB, sudah tiba di rumah," tutur Safitra Qalbi, mahasiwa smester IV Fakultas Hukum USK Banda Aceh yang berjalan 7 jam ke kampungnya Desa Jamur Ujung, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah.
Sekedar menghilangkan penat, para pemudik sepeda motor di jalur Banda Aceh-Medan Itu, beristirahat di berbagai tempat sepanjang jalan, pada tempat dianggap aman. Misalnya di Masjid, Musallah, Meunasah, SPBU dan balai pinggiran jalan. (H-1)
Begitu juga di jalur penyeberangan laut Daratan Aceh-Pulau Simeulue, penyeberangan Singkil-Pulau Banyak dan Banda Aceh-Sabang.
Peresmian 104 unit hunian tetap (huntap) menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam pemulihan wilayah terdampak banjir di Aceh.
Seorang nelayan asal Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, dilaporkan terdampar di Sri Lanka setelah perahu motor yang ditumpanginya mengalami kerusakan mesin.
Masih banyak warga menghadapi kesulitan akibat banjir yang melanda akhir tahun lalu
Kepanikan masyarakat tidak muncul begitu saja, melainkan dipicu oleh ketidakseimbangan informasi dan hilangnya kepercayaan publik terhadap jaminan pasokan negara.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved