Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Mudik, Perantau Aceh Woe U Gampoeng Mulai Tiba di Sigli

Amiruddin Abdullah Reubee
17/3/2026 14:50
Mudik, Perantau Aceh Woe U Gampoeng Mulai Tiba di Sigli
Suasana di terminal Tipe B Sigli, Ibu Kota Kabupaten Pidie, Aceh.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

ARUS mudik penumpang angkutan umum dari luar daerah mulai terlihat memadati berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Aceh sejak dua hari terakhir. Selasa (17/3), para perantau umumnya tiba dengan menggunakan jasa angkutan bus berbadan lebar (AKAP) dan minibus kelas menengah.

Berdasarkan penelusuran Media Indonesia di Terminal Bus Umum Tipe B Kota Sigli, Kabupaten Pidie, gelombang kedatangan pemudik dalam tradisi Woe U Gampong (Pulang Kampung) ini paling banyak terjadi pada dini hari hingga menjelang siang hari.

Para pemudik tersebut merupakan warga perantau asal Serambi Mekah yang selama ini mengadu nasib sebagai pedagang, karyawan swasta, hingga profesional di berbagai provinsi. Sebagian besar merantau di wilayah Sumatra seperti Medan, Padang, Riau, Jambi, Bengkulu, Palembang, dan Lampung.

Selain dari Sumatra, arus mudik dari Pulau Jawa juga mulai mengalir deras, mencakup perantau dari Jakarta, Tangerang, Bandung, hingga Surabaya. Mereka melakukan perjalanan darat baik secara mandiri, berpasangan, maupun memboyong seluruh anggota keluarga.

Titik Penurunan Penumpang di Jalur Nasional

Setibanya di terminal, para pemudik biasanya tidak beristirahat lama. Mereka langsung melanjutkan perjalanan ke desa kelahiran menggunakan jasa becak sewa atau ojek. Sebagian lainnya telah ditunggu oleh sanak famili yang menjemput dengan kendaraan pribadi atau sepeda motor.

Menariknya, tidak semua penumpang turun di Terminal Tipe B Sigli. Banyak pemudik yang memilih turun lebih awal di terminal tipe C atau pasar di sepanjang jalur Nasional Banda Aceh-Medan, seperti di Beureunuen, Caleue, dan Teupin Raya. Bagi mereka yang tujuannya melewati Sigli ke arah Banda Aceh, titik turun favorit meliputi pasar Grong-Grong dan Padang Tiji.

Geliat pemudik Woe U Gampoeng ini juga terlihat nyata di beberapa gerbang utama transportasi darat Aceh, di antaranya:

  • Terminal Tipe A Batoh, Kota Banda Aceh
  • Terminal Tipe B Kota Lhokseumawe
  • Terminal Bireuen
  • Terminal Kota Langsa

Di Terminal Kota Langsa, aktivitas terpantau padat pada tengah malam. Selain pemudik dari arah Medan, terminal ini juga dipenuhi pekerja swasta dan mahasiswa yang datang dari arah Banda Aceh.

Filosofi dan Nilai Sosial Woe U Gampoeng

Budayawan dari Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, M. Adli Abdullah, menyebutkan bahwa warga Kabupaten Pidie merupakan salah satu populasi perantau terbesar asal Aceh yang tersebar di Nusantara hingga luar negeri.

"Dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh, ada tradisi Woe U Gampoeng saat Lebaran tiba. Ini adalah momen sakral bagi para perantau," tutur Adli Abdullah.

Menurut Adli, tradisi ini biasanya terjadi dalam dua gelombang, yakni menjelang bulan suci Ramadan atau menjelang Hari Raya Idul Fitri. Mudik di Aceh memiliki nilai silaturahmi dan kepedulian sosial yang sangat tinggi.

Para perantau pulang dengan tujuan utama menjenguk orang tua, mengunjungi kerabat, serta berziarah ke makam keluarga dan guru. Namun, lebih dari itu, ada aspek ekonomi yang sangat membantu masyarakat di kampung halaman.

"Nilai religi dan sosial persaudaraannya sangat tinggi. Bukan saja berbagi keceriaan, tapi perantau juga membantu secara finansial, seperti menyedekahkan uang untuk membeli daging Meugang dan membantu kebutuhan hari raya keluarga yang ditinggalkan," pungkas Adli. (MR/E-4)

Info Grafis: Meugang adalah tradisi memasak daging sapi atau kerbau sehari sebelum Ramadan atau Idulfitri yang menjadi identitas budaya kuat di Aceh.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya