Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Banjir Bercampur Batu Sapu 11 Rumah Warga Blang Pandak Tangse, Pidie, Aceh

Amiruddin Abdullah Reubee
13/12/2025 18:15
Banjir Bercampur Batu Sapu 11 Rumah Warga Blang Pandak Tangse, Pidie, Aceh
Ilustrasi(Dok Istimewa)

BANJIR bandang pada 26-27 November yang melanda kawasan Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat telah menyisakan jutaan derita. Mereka yang sebelumnya hidup ceria, kini dalam sekejab saja berubah menjadi nestapa. 

Fenomena alam yang berujung bencana itu seolah tidak mengenal siapa yang bersalah. Tapi mungkin karena tangan-tangan jahat manusia telah lebih dulu menjamah keasrian alam tiada batas. 

Misalnya Di Desa Blang Pandak, Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Sedikitnya 11 unit rumah warga lereng pengunungan itu rata dengan tanah setelah tersapu banjir. 

Sesuai penelusuran Media Indonesia, Sabtu (13/12), ketika hujan sangat deras mengguyur kawasan nan subur dan dingin itu, tiba-tiba terdengar suara gemuruh bersama air bah bercampur bebatuan dan kayu gelondongan berbagai ukuran menghantam permukiman setempat. Untung puluhan penghuni rumah-rumah berkonstruksi kayu dan semi permanen tersebut telah lebih dulu menghindar di tempat aman bersama ratusan warga lainnya. 

"Mereka diterjang banjir batu dari glee (pengunungan), jadi 11 unit rumah hilang, sehingga harus mengungsi ke masjid daneunasah (mushalla desa)" kata Muhammad Syawal Djamil, Guru SMA Sukma Pidie yang pada Jumat (12/12) datang bersama relawan sekolahnya untuk membawa bantuan kepada warga Desa Blang Pandak. 

Dikatakan Muhammad Syawal, kondisi di perkampungan di lereng Gunung Halimun itu sekarang rusak parah dan menyedihkan. Para korban yang rumahnya tinggal puing itu sangat tergantung dengan dapur umum. 

Semua barang dalam rumah termasuk gabah, beras dan bahan dapur lainnya habis tersapu banjir bercampur sendimen batu dan kayu rimba. Hanya saja baju di badan yang masih tersisa. 

Saat malam tiba di pengungsian harus tidur dalam kegelapan tanpa listrik dan diserang nyamuk. Begitu juga anak kecil dan balita tidur berselimut cuaca dingin di ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut. 

"Kami kemarin membawa bantuan bahan pokok, bumbu dapur dan paket logistik snack (makanan ringan). Ada juga bahan pakaian secara khusus untuk 11 keluarga yang rumahnya tersapu. Lalu bahan pakaian untuk pengundi umumnya. Walaupun tidak banyak, tapi untuk sekedar cukuplah" tutur Syawal. 

Untuk menempuh lokasi Blang Pandak hingga hari ke-16 pasca banjir dan longsor cukup sulit dan banyak pendakian. Apalagi beberapa titik badan jalan longsor dan ambles sehingga banyak tertutup lumpur. 

Kalau menggunakan mobil tidak bisa sampai ke lokasi pengungsian. Untuk melansir barang harus menggunakan sepeda motor atau memanggul jalan kali. 

"Demi menyelamatkan mereka, muncul semangat dan energi luarbiasa. Tak usah menghitumg sulitnya jalur ke sana. Tapi ingatlah kita saudara mereka yang miliki nurani. Siapa lagi kalau tidak ada kepedulian sesama" tambah Guru IPS SMA Sukma Bangsa Pidie itu. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya