Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
BANJIR bandang pada 26-27 November yang melanda kawasan Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat telah menyisakan jutaan derita. Mereka yang sebelumnya hidup ceria, kini dalam sekejab saja berubah menjadi nestapa.
Fenomena alam yang berujung bencana itu seolah tidak mengenal siapa yang bersalah. Tapi mungkin karena tangan-tangan jahat manusia telah lebih dulu menjamah keasrian alam tiada batas.
Misalnya Di Desa Blang Pandak, Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Sedikitnya 11 unit rumah warga lereng pengunungan itu rata dengan tanah setelah tersapu banjir.
Sesuai penelusuran Media Indonesia, Sabtu (13/12), ketika hujan sangat deras mengguyur kawasan nan subur dan dingin itu, tiba-tiba terdengar suara gemuruh bersama air bah bercampur bebatuan dan kayu gelondongan berbagai ukuran menghantam permukiman setempat. Untung puluhan penghuni rumah-rumah berkonstruksi kayu dan semi permanen tersebut telah lebih dulu menghindar di tempat aman bersama ratusan warga lainnya.
"Mereka diterjang banjir batu dari glee (pengunungan), jadi 11 unit rumah hilang, sehingga harus mengungsi ke masjid daneunasah (mushalla desa)" kata Muhammad Syawal Djamil, Guru SMA Sukma Pidie yang pada Jumat (12/12) datang bersama relawan sekolahnya untuk membawa bantuan kepada warga Desa Blang Pandak.
Dikatakan Muhammad Syawal, kondisi di perkampungan di lereng Gunung Halimun itu sekarang rusak parah dan menyedihkan. Para korban yang rumahnya tinggal puing itu sangat tergantung dengan dapur umum.
Semua barang dalam rumah termasuk gabah, beras dan bahan dapur lainnya habis tersapu banjir bercampur sendimen batu dan kayu rimba. Hanya saja baju di badan yang masih tersisa.
Saat malam tiba di pengungsian harus tidur dalam kegelapan tanpa listrik dan diserang nyamuk. Begitu juga anak kecil dan balita tidur berselimut cuaca dingin di ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut.
"Kami kemarin membawa bantuan bahan pokok, bumbu dapur dan paket logistik snack (makanan ringan). Ada juga bahan pakaian secara khusus untuk 11 keluarga yang rumahnya tersapu. Lalu bahan pakaian untuk pengundi umumnya. Walaupun tidak banyak, tapi untuk sekedar cukuplah" tutur Syawal.
Untuk menempuh lokasi Blang Pandak hingga hari ke-16 pasca banjir dan longsor cukup sulit dan banyak pendakian. Apalagi beberapa titik badan jalan longsor dan ambles sehingga banyak tertutup lumpur.
Kalau menggunakan mobil tidak bisa sampai ke lokasi pengungsian. Untuk melansir barang harus menggunakan sepeda motor atau memanggul jalan kali.
"Demi menyelamatkan mereka, muncul semangat dan energi luarbiasa. Tak usah menghitumg sulitnya jalur ke sana. Tapi ingatlah kita saudara mereka yang miliki nurani. Siapa lagi kalau tidak ada kepedulian sesama" tambah Guru IPS SMA Sukma Bangsa Pidie itu. (H-2)
Aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) disebut menjadi faktor utama terjadinya banjir bandang di sejumlah wilayah Kabupaten Pohuwato, Gorontalo
Selain itu, perhatikan tanda alam seperti awan Cumulonimbus yang berbentuk seperti bunga kol berwarna gelap, yang seringkali menjadi penanda akan terjadinya hujan lebat disertai petir.
Selain kebutuhan primer, salah satu yang juga dibutuhkan warga Aceh Tamiang adalah bantuan untuk memperbaiki kendaraan yang rusak akibat banjir.
BANJIR lumpur dan galodo yang kembali melanda sejumlah kawasan di Kota Padang, Sumatra Barat, tidak mengalihkan perhatian warga pesisir dari ancaman bencana lain yang tak kalah berbahaya.
Tanggul Sungai Bremi di Pekalongan jebol Rabu pagi (7/1). 335 KK terdampak banjir mendadak setinggi 1 meter, BPBD lakukan penanganan darurat
BANJIR di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro atau Sitaro, Sulawesi Utara, yang terjadi mulai Senin (5/1) dini hari menewaskan 16 orang, sementara tiga warga lainnya hilang
Polri harus menjadi pihak pertama yang merespons kesulitan masyarakat, terutama di saat pascabencana.
Penyisiran Daerah Terdampak Banjir di Pidie Jaya
Puluhan toko pakaian jadi, kedai bahan pokok, pasar sayur dan pasar ikan di pusat perbelanjaan Pasar Garot, Kecamatan Indrajaya, terendam banjir akibat luapan Sungai Krueng Baro.
Banjir akibat luapan Sungai, Krueng Baro, Kabupaten Pidie Provinsi Aceh, pada Rabu (11/12) mulai surut. Warga yang rumahnya sempat terendam, mulai sibuk membersihkan rumah mereka.
Warga diimbau mewaspadai berbagai kemungkinan buruk. Apalagi warga yang tempat tinggal pada radius lebih dekat dengan aliran sungai.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved