Sajak-sajak Vladimir Mayakovsky

Ilustrasi: Pavel Starostin 

Heine 

Serupa petir melintasi batas langit; 
"Aku lihat kamu dengan orang lain. 
Murah hati, tapi 
mudah tersulut amarah..." 
Pergi, 
pergi, 
dan pergi berteman dendam. 
Aku masih menantimu, sayang 
singkirkanlah gemuruh di jiwa. 
Jika petir tak menyambarku 
maka guntur kelak tiba kemudian. 
Cemeti malaikat bagiku teman baik. 

1920 


Malam 

Ini malam aku menghitung dan membuang 
segenggam uang logam merah dan putih 
mengulurkan tangan dari jendela 
lalu membagikan kartu kuning. 

Aku menyusuri jalan raya dan alun-alun 
melihat langit biru dari gedung-gedung 
mengantongi luka yang mengering 
lampu-lampu menerangi langkahku. 

Kulihat kucing-kucing liar berkerumun 
di depan pintu yang melengkung 
semua orang ingin menangkap 
canda dan tawa terdengar jelas. 

Kini aku rasa kucing mencakar jubahku, 
memupuk senyum ranum mata penakut 
kaleng-kaleng berbunyi, orang-orang tertawa, 
bulu-bulu burung pun berjatuhan di dahi. 

1912 


Tak Paham Apa Pun 

Aku datang ke salon 
berbicara sopan ke tukang cukur: 
"Tolong pangkas pendek di sisi telinga." 

Ia mencukur rapih rambutku, 
sedang wajahnya terentang bak buah pir. 
"Gila! 
Darah!" 
Ia berteriak keras di samping telingaku. 
Mengucapkan sumpah serapah 
dan mencicit bibir sendiri. 
Lama sekali 
kudengar seseorang terkekeh di kerumunan 
ada nyawa tercabut seperti lobak tua. 

1913 


Kata-kata senantiasa bergerak maju melampaui ribuan tahun jutaan hati. 


Absurditas 

Hempaskanlah! 
Aku tak akan mati. 
Mengapa kau berjalan-jalan di sekitar benteng? 
Apa tidak malu untuk percaya kepada absurditas? 
Bagai perayaan hari ulang tahun seorang bocah diarak dalam karnaval, 
mendapatinya dalam sesi pemotretan dan perekaman suara 
sedang kau sendiri duduk di benteng seperti katak; 
melompat keluar dan menghindari mortir. 
Suara mengalun tinggi seperti hantaman meriam. 
Aku mendapati sepasang masker gas, 
namun bagiku cuma permainan lelucon belaka. 

Tengoklah! 
Roket diluncurkan demi mengukur jarak langit. 
Begitu indah kefanaan 
mengendap di awan pekat! 
Ah, jangan pernah kau berkata; 
"Luka sudah mengucurkan darah." 
Itu sesungguhnya liar! 
Orang-orang pilihan selalu ada 
untuk dimarahi dan disajikan bau anyelir. 
Bagaimana yang lain? 
Otak kita tidak pernah dimengerti 
dan tidak bisa dikendalikan; 
saat tembakan meriam melewati leherku. 
Jika kau enggan menciumku, mengapa kemudian 
lenganku melilit ke lehermu? 
Tidak ada yang tewas! 
Aku tidak bisa berdiri, 
cuma merangkak dari Seine ke Rhine. 

Absurditas bermekaran, 
bagai dedaunan menguning takjub di pemakaman. 
Jangan membunuh, 
jangan, 
jangan! 
Orang mati kelak bangkit– 
seperti sediakala kita tersenyum 
memberitahu kabar ke setiap kekasih 
apa yang lucu dan eksentrik sebagai tuan rumah. 
Mereka berkata; tidak ada peluru meriam, 
tidak ada lahan tambang, dan tentu saja tidak ada benteng! 
Hanya perayaan hari ulang tahun seorang bocah dihadiri banyak pengunjung. 
Seberapa megah absurditas itu? 

1915 


Bagimu! 

Untukmu yang hidup dalam kemewahan, 
memiliki kamar mandi dan air panas! 
Apakah kau tak malu membaca berita 
pengembaraan George di surat kabar? 

Apakah kau tahu; banyak orang tak kompeten, 
namun pikiran mereka waras saat mabuk. 
Mungkin seperti Letnan Petrov 
yang kakinya terkena bom? 

Jika seseorang dipapah ke tempat pembantaian, 
lalu tiba-tiba kau melihat ia dilukai; 
Apa yang akan kau rasakan? 
Bagaimana jika bibirmu tersayat pisau? 
Mari senandungkan tembang utara. 

Kau mencintai seorang perempuan piring 
Apakah siap memberi hidupmu tuk menemaninya? 
Aku lebih suka; menyediakan dan 
melayani jus nanas bagi tetamu di bar! 

1915 


Puisi 

Puisi ialah radium yang sama 
dalam tautan gram dan tahun kerja. 
Setiap kita pernah melecehkan satu kata 
demi menyemai seribu ton biji kata kerja. 
Kita mendesis pada pembakaran kata-kata 
di samping ikut menguras kata baku. 
Kata-kata senantiasa bergerak maju 
melampaui ribuan tahun jutaan hati. 

1914 

 

Bacaan rujukan 
¹ Vladimir Mayakovsky. Forever wounded by love. Moscow: Eksmo-Press, 1998. 
² Vladimir Mayakovsky. Lyrics. Moscow: Fiction, 1967. 

 

 

 

 


Vladimir Vladimirovich Mayakovsky, penyair Rusia dan Uni Soviet, lahir di Baghdadi, Georgia, 7 Juli 1893 — wafat di Moskwa, Rusia, 14 April 1930. Mayakovsky mula-mulai tidak mulai menulis puisi, namun melukis. Ketenaran penyair datang kepadanya setelah bertemu dengan kelompok avant-gardists. Penyair Ukraina David Burliuk (1882-1967) secara antusias bertemu dan bersentuhan langsung dengan karya-karya pertama penulis muda tersebut. Mayakovsky bekerja di banyak asosiasi kreatif. Dia juga menulis untuk sejumlah surat kabar, menerbitkan majalah, membuat film, memproduksi drama, dan menggelar pertunjukan bersama kaum avant-gardists. Puisi-puisi di Sajak Kofe diterjemahkan dari bahasa Rusia ke dalam bahasa Indonesia oleh Iwan Jaconiah, penyair, editor puisi Media Indonesia, dan penulis buku kumpulan puisi Hoi!, sebuah kisah tentang diaspora Indonesia di Rusia. (SK-1)