Bayar Kopi dengan Puisi 

SEORANG sahabat lama asal Medan, Sumatra Utara, menghubungi saya. Dia mengabarkan bahwa dirinya sedang berada di Jakarta untuk sebuah urusan bisnis. 

Lewat pembicaraan via telepon, saya pun mengucapkan selamat datang kepadanya. Kami pernah ‘satu kaki’ saat menempuh pendidikan sarjana di Bandung dulu. Lama tak bersua sehingga wajib ngopi sore bersama-sama. 

Sejak 26 Desember 2021 sampai 15 Januari 2022, saya sempat berada di Pulau Timor. Berjumpa dengan keluarga besar yang sudah lama tak saya kunjungi sejak 2015 saat studi ke Moskwa, Rusia. 

Ketika sahabat lama tersebut meminta bertemu, saya pun setuju. Kebetulan, saya sudah kembali ke Pulau Jawa. Kami pun akhirnya berjumpa di sebuah kafe di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, awal pekan ini. 

Kami bercerita ria tentang kenangan semasa membaca puisi dan mengamen di kawasan Dago, Bandung. Belum berapa menit, kami berhenti obrol sejenak. Seorang pramusaji tiba di tepi meja menyodorkan menu. 

“Apa segelas kopi dapat dibayar dengan puisi?” saya sontak bertanya, santai. “Tak perlu dijawab sekarang,” sambung saya sembari senyum menatap matanya yang sayu, bening, dan jernih. 

Sang pramusaji itu memang tak menjawab. Ia hanya menulis pesanan kami di secarik kertas dan meminta untuk menunggu. Bagi saya, satu pertanyaan cukup penting. Semua akan dijelaskan secara logis. 

Saya dan teman lama pun melanjutkan perbincangan santai. Ia kembali menanyakan tentang kesibukan apa yang sedang dilakukan. Saya pun menceritakan sebuah kegiatan terdekat. 

Media Indonesia bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sedang menyiapkan Festival PeSoNa Kopi Agroforestry. 

Salah satu kegiatan dalam helatan tersebut, yaitu Lomba Cipta Puisi. Temanya begitu dekat dengan kehidupan sosial masyarakat agraris sehari-hari, yaitu ‘Menyeruput Kopi dari Hutan Kita: Petani, Kopi, dan Konservasi’. 

Lomba Cipta Puisi dimulai sejak 15 Desember 2021 sampai 15 Januari 2022. Pengumuman pemenang akan dilakukan bersamaan dengan helatan Festival PeSoNa Kopi Agroforestry di Gedung Manggala Wanabakti, KLHK, Jakarta, pada 25-27 Januari 2022. Festival tersebut juga sebagai bagian memeriahkan hari jadi ke-52 Media Indonesia

Selain lomba puisi, kopi-kopi autentik dari perhutanan sosial akan dipamerkan di sana, bisa dihirup, dan diseruput langsung. Juga akan disuguhkan pula berbagai kegiatan lainnya, seperti seminar, temu wicara, peluncuran buku, pelatihan dan kompetisi barista, serta eksibisi  penyangraian biji kopi. 

“Apa minum kopi gratis di festival,” cetus sahabat saya, itu. “Saya tidak tahu. Tapi, biasanya disajikan gratis. Saya ada stok kopi asli Timor yang saya bawa kemarin dari NTT. Kalau kau mau, nanti dikirim,” jawab saya, sedikit berdiplomasi. 

Kopi dan puisi 

Berbicara tentang kopi dan puisi, saya teringat akan Julius Meinl, sebuah produsen dan pengecer kopi ternama. Perusahaan bonafide tersebut membangun kedai kopi terbesar di dunia. 

Terletak antara Museum Sejarah Alam dan Museum Sejarah Seni di Ringstrasse Wina, Austria. Kedai tersebut dihadirkan selama kejuaraan sepak bola Eropa 2008. Peminatnya terbilang melambung. 

Pada 1 Oktober 2013, misalnya, saat liburan berakhir, para penumpang kereta bawah tanah di Bucharest, Rumania, dikejutkan dengan seluruh gerbong yang dihiasi dan ditempeli puisi-puisi. Siapapun boleh ambil untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. 

Dalam konferensi pers waktu itu, para pemimpin negara tersebut membahas pentingnya puisi dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kejutan berlanjut dengan kereta bawah tanah lain yang mencerahkan hari para penumpang dengan puisi dalam perjalanan pulang. 

Pada 25 Oktober di tahun yang sama, lebih dari 6.300 orang menulis puisi, sajak, atau syair tanpa menjadi seniman, penyair, musisi, atau penulis. Puisi-puisi, yang ditulis di atas serbet, digunakan sebagai mata uang untuk ditukar dengan kopi Julius Meinl di seluruh Rumania. 

Selama sehari, harga kopi tidak dinyatakan dengan uang, tetapi dengan kata-kata. Tak mengherankan masyarakat di tanah kelahiran penyair Nina Cassian (1924-2014) itu begitu menghargai puisi. Bayar dengan puisi adalah kesuksesan besar. 

Pada Hari Puisi Sedunia 2015, lebih dari 100.000 orang menunjukkan kepada dunia bahwa perasaan lebih berharga daripada uang. 

Inisiatif gerakan membayar kopi dengan puisi adalah contoh nyata. Membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik dengan kekuatan puisi. Melalui slogan perusahaan sejak 2016, yaitu pay with a poem (bayar dengan puisi) dan meet with a poem (jumpa dengan puisi) menjadikan Julius Meinl kian membumi. 

Monetisasi puisi untuk mengikuti perubahan zaman. Menjadi bagian dalam peradaban bangsa besar. Di paruh pertama abad ke-21 ini, semua dapat dilakukan. Apalagi, akses informasi begitu mudah di ujung jemari. 

Gerakan membayar kopi dengan puisi pun berlanjut hingga 2020 sebelum pandemi. Tidak hanya di Eropa, namun juga di Australia. Bahkan saat saya berada di Moskwa, Rusia, produsen Julius Meinl juga memberlakukan konsumen untuk membayar segelas kopi dengan sebuah puisi. 

Puisi dan kopi memang bukan barang baru di bawah langit ini. Namun, inovasi-inovasi teranyar menjadi penting untuk menjembatani mata rantai antara petani, produsen, dan konsumen. 

Tak diayal, kehadiran tema kopi dalam Lomba Cipta Puisi kali ini juga menjadi penting. Pertama, para peserta dapat menuangkan pengalaman mereka tentang hutan atau kopi yang ada di sekitar mereka. 

Kedua, kopi berbagai daerah yang ditulis oleh peserta dapat ikut meningkatkan permintaan pasar dunia. Dan, ketiga ialah kopi Indonesia akan kian bersaing ke pasar global sebab telah menjelma puisi. 

Suatu hari nanti 

Sore itu, saya dan sahabat lama terus berbincang berjam-jam. Kami disuguhkan dua gelas kopi khas Manggarai plus makanan ringan. Menyeruput kopi menjadi tradisi sebagian masyarakat di Republik ini. 

Tidak hanya masyarakat adat seperti di Aceh, Lampung, Flores, dan Toraja, namun juga di daerah lainnya. Minuman rakyat, namun saat disajikan di kafe dan hotel berkelas, harganya jadi tinggi. 

Saya melihat sendiri, kopi Indonesia sudah menjamur di Rusia.

Ini berlangsung di era Duta Besar Indonesia untuk Rusia dan Belarusia Djauhari Oratmangun, Wahid Supriyadi, bahkan sampai Jose Tavares kini. Di era Wahid, misalnya, pertama kali digelar Festival Kopi Indonesia di Moskwa pada 2019. 

Kopi asal Lampung, Flores, dan Bali turut disajikan bagi para pengunjung secara gratis di Moskwa, kala itu. Beberapa merek lokal pun ikut merambah pasar Rusia. Sebut saja, Bencoolen Coffee dan Tanamera Coffee. 

Matahari kian condong ke ufuk barat. Sinarnya menembus kaca gedung-gedung pencakar langit. Saya masih bercerita dengan sahabat lama asal Medan, itu. Tak ada kata jengah atau bosan. 

Dari sudut kanan meja, pramusaji yang melayani kami tadi pun datang menghampiri. Ia ramah dengan senyum tipis menggantung di bibirnya. “Maaf, kopi tidak bisa dibayar dengan puisi,” jawabnya. “No problem. Tadi bercanda saja,” balas saya. 

Puisi sebagai mata uang untuk membayar segelas kopi, sesungguhnya bisa saja terjadi di manapun. Suatu hari nanti, barangkali apa yang ada di Rumania dapat diterapkan di Republik ini. Ya, bayar kopi dengan puisi. 

 

Baca  juga: Percaya Media Arus Utama

Baca juga: Tak Ada Sesuatu yang Baru di Bawah Matahari

Baca juga: Sajak-sajak Maria Regine

 

 

 

 

Iwan Jaconiah, pengasuh ‘Sajak Kofe’, penyair Indonesia pertama peraih Diploma of Honor Award pada helatan X International Literary Festival "Chekhov Autumn-2019" di Yalta, Republik Krimea, Federasi Rusia. Buku terbarunya kumpulan puisi Hoi! (Terbit Press, 2020). Ilustrasi oleh Yopi Cahyono