Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITI Pusat Studi Anti Korupsi (SAKSI) Universitas Mulawarman, Herdiansyah Hamzah, menanggapi permintaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kebutuhan peralatan yang lebih canggih untuk menunjang operasi tangkap tangan (OTT).
Menurut Herdiansyah, pada prinsipnya kebutuhan peralatan dan teknologi mutakhir bagi KPK merupakan hal yang wajar untuk mendukung kerja yang profesional dan efektif.
“Kalau KPK membutuhkan perlengkapan yang lebih canggih untuk menunjang kerja yang profesional dan efektif, itu wajar. Semua lembaga juga begitu,” ujar Herdiansyah kepada Media Indonesia, Kamis (29/1).
Akan tetapi, ia menegaskan bahwa persoalan utama bukan terletak pada alat atau fasilitas, melainkan pada relasi politik yang menyertainya. Herdiansyah menilai KPK berisiko kehilangan kemandiriannya jika terlalu terikat pada kepentingan politik DPR dalam proses dukungan kelembagaan.
“KPK sejatinya tidak berkepentingan membuktikan kinerjanya kepada DPR. Yang harus diyakinkan adalah publik. KPK harus mengembalikan public trust,” katanya.
Ia juga menyoroti potensi melemahnya independensi KPK akibat tekanan politik, khususnya karena posisi DPR dalam proses pemilihan pimpinan KPK dan pengambilan keputusan strategis lembaga tersebut.
“Problemnya sekarang ada kecenderungan lembaga-lembaga negara dikendalikan oleh kepentingan DPR. Saya yakin KPK juga mengalami hal yang sama, apalagi proses pemilihan pimpinan KPK melalui kanal politik DPR,” ujarnya.
Herdiansyah mengingatkan agar dukungan terhadap KPK tidak diberikan secara bersyarat, karena pola relasi saling menyandera justru berpotensi membuat kerja pemberantasan korupsi menjadi tidak efektif.
“Jangan sampai bantuannya bersyarat, lalu KPK dipaksa memuluskan agenda tertentu. Pola saling menyandera seperti itu justru membuat kerja KPK tidak efektif,” tegasnya. (H-3)
“Apa sih sebenarnya hambatan paling besar yang di KPK selain tentang SDM yang kurang, ya berikanlah kami alat yang canggih, supaya OTT tidak hanya satu sebulan,”
PASCADITANGKAPNYA Bupati Pati Sudewo oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kantor Bupati Pati di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, pada Selasa, (20/1) terpantau lengang.
KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT), terhadap Bupati Pati Sudewo dan jajarannya pada Senin, (19/1). OTT KPK itu disebut dilakukan terkait dengan dugaan jual beli jabatan
UANG miliaran rupiah disita Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam proses penangkapan Bupati Pati Sudewo dan sejumlah pejabat Kabupaten Pati, Jawa Tengah, pada Senin, (19/1).
Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang, ayahnya Kepala Desa Sukadami HM Kunang, dan pihak swasta bernama Sarjan (SRJ) terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK. Chat pada 5 ponsel mereka hilang.
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) menilai penangkapan sembilan kepala daerah hasil pemilihan kepala daerah belakangan ini bukan sekadar perkara hukum.
KPK resmi menahan Bupati Rejang Lebong periode 2025-2030, Muhammad Fikri Thobari, bersama empat orang lainnya terkait dugaan suap ijon proyek
PK rilis identitas tersangka suap ijon proyek Rejang Lebong. Selain Bupati Fikri Thobari, Kadis PUPR dan tiga pengusaha resmi ditahan. Cek detailnya!
Anggota Komisi II DPR RI, Mardani Ali Sera menyebut maraknya Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang menjerat sejumlah kepala daerah belakangan ini sebagai sebuah bencana.
GELOMBANG Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap para pemimpin daerah belum menunjukkan tanda-tanda mereda di tahun 2026.
KPK menyita uang ratusan juta rupiah dalam OTT Bupati Rejang Lebong Muhammad Fikri Thobari. Lima orang ditetapkan sebagai tersangka suap proyek.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved