Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Kandidat Capres Perempuan Punya Pasar Pemilih Besar

Tri Subarkah
20/2/2022 18:30
Kandidat Capres Perempuan Punya Pasar Pemilih Besar
Ilustrasi - Mahasiswa ISI Surakarta membuat mural dengan tema pemilu di Pasar Gede, Solo.(ANTARA)

MINIMNYA kandidat calon presiden perempuan jelang pemilihan umum (Pemilu) 2024 tergambar dalam survei yang dilakukan Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) pada 2021. Berdasarkan laporan KedaiKOPI, 65,8 persen responden enggan memilih capres perempuan.

Hal tersebut disebabkan gabungan dari berbagai macam faktor di tengah masyarakat Indonesia. Direktur Eksekutif KedaiKOPI, Kunto Adi Wibowo, menyebut budaya patriarki di Indonesia masih sangat kuat. Oleh karenanya, ada anggapan bahwa laki-laki lah yang harus memimpin ketimbang perempuan.

Baca juga: Pengamat Prediksi Megawati Pilih Ganjar sebagai Capres dari PDIP

Namun, paradigma itu sangat mungkin bergeser pada 2024. Sebab, sebagian besar pemilih akan didominasi kelompok milenial dan Gen Z. Kunto menyebut pemilih milenial dan Gez Z lebih progresif ketimbang golongan tua. Oleh karena itu, tokoh perempuan yang berniat nyapres di 2024 harus melakukan penetrasi dengan isu kesetaraan gender.

"Menurut saya, peluangnya adalah dekati anak-anak muda ini. Edukasi mereka, bahwa perempuan sama saja dengan laki-lai. Kalau untuk urusan kepemimpinan, bahkan perempuan membuktikan lebih bagus, lebih humanis, keibuan, caring," ujarnya saat dihubungi Media Indonesia, Minggu (20/2).

Isu kesetaraan gender, lanjut Kunto, bisa dikemas ke berbagai arah. Misalnya, isu lingkungan dan kekerasan seksual. Ia berpendapat bahwa kalangan muda semakin menyuarakan isu-isu tersebut. Menurutnya, belum banyak politisi perempuan yang memanfaatkan celah itu dalam diskursus politiknya. 

Di antara nama-nama kandidat capres perempuan, Kunto menyebut mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Namun, keduanya memiliki hambatan tersendiri jika ingin maju nyapres.

Meskipun dekat dengan PDIP, Kunto mengatakan bahwa Susi tidak memiliki kendaraan partai politik. Ia menyangsikan PDIP akan memasangkan Susi dengan Puan Maharani, putri Ketua Umum Megawati Soekarnoputri sekaligus Ketua DPR RI.

Sementara itu, sebagai politisi PKB, perjalanan Khofifah sebagai capres diprediksi Kunto akan terganjal dengan kehadiran Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.

Kunto berpandangan bahwa politik di Indonesia selalu diidentikkan dengan dunia laki-laki. Ini tercermin dari dominasi laki-laki dalam kepengurusan parpol. Di satu sisi, parpol juga menargetkan untuk menang dalam gelaran pemilu. Sementara di sisi lain, kegagalan Megawati saat nyapres di Pemilu 2004 dan 2009 dinilai sebagai pembelajaran untuk tidak menyalonkan perempuan.

"Ini kan lesson learned dari parpol-parpol lain. Akhirnya mereka juga pikir seribu kali untuk mendorong capres perempuan. Partai masih melihat secara pragmatis bahwa pemilu itu ya electoral game," pungkas Kunto. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya