Senin 08 Maret 2021, 23:08 WIB

DPC PDIP Kendal Diduga Kecipratan Proyek Bansos Covid-19

Tri Subarkah | Politik dan Hukum
DPC PDIP Kendal Diduga Kecipratan Proyek Bansos Covid-19

Antara
Adi Wahyono

 

KUASA Pengguna Anggaran (KPA) sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di Kementerian Sosial dalam proyek pengadaan paket sembako bansos covid-19, Adi Wahyono, mengungkapkan adanya aliran fee dari para vendor ke Ketua Dewan Perwakilan Cabang (DPC) PDIP Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Adi mengakui salah satu penggunaan uang fee yang berhasil dikumpulkan sebesar Rp14,7 miliar dari para vendor digunakan untuk kunjungan kerja ke Semarang.

Saat didalami jaksa penuntut umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ia mengaku kunjungan itu juga dilakukan untuk bertemu Ketua DPC PIDP Kendal, Ahmad Suyuti.

Ia menyebut menyerahkan uang Rp2 miliar ke staf khusus mantan Menteri Sosial Juliari P Batubara, Kukuh Ariwibowo, di Bandara Halim Perdanakusuma. Penyerahan itu, sebut Adi, diinisiasi oleh Juliari.

 

"Saksi tau tidak apa hubungannya Pak Menteri sampai kok Pak Menteri menyerahkan uang ke Pak Suyuti?" tanya JPU KPK di ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (8/3).

 

"Secara persis saya tidak tau. Hanya Pak Menteri kan dapilnya (daerah pemilihan) Jateng I, meliputi Kabupaten Kendal, Kota Semarang, Kabupaten Semarang, sama Salatiga," tandasnya.

Sebelumnya, Adi juga menyebut ada penyerahan Rp3 miliar yang sumbernya dari fee tersebut ke pengacara Hotma Sitompul. Menurutnya, uang itu untuk membayar jasa hukum atas kasus yang terjadi di Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial.

Selain itu, saksi lain yang juga PPK dalam proyek tersebut, Matheus Joko Santoso mengungkap adanya pembayaran operasional untuk Badan Pemeriksa Keuangan sebesar Rp1 miliar.

Menurut pengakuan Joko, Adi dan Kukuh pernah mengatakan akan membantunya mengumpulkan fee sebesar Rp35 miliar yang dikumpulkan dari para vendor. Angka tersebut merupakan permintaan Juliari. Namun, ia hanya berhasil mengumpulkan Rp14,7 miliar.

Adi dan Joko yang juga ditersangkakan dalam perkara tersebut dihadirkan sebagai saksi secara virtual untuk terdakwa Harry Van Sidabukke dan Ardian Iskandar Maddanatja.

Kedua pengusaha itu diduga menyuap Juliari, Adi, dan pejabat di Kemensos lainnya, yakni Matheus Joko Santoso sebesar Rp3,23 miliar. Suap dari Hary sebesar Rp1,28 miliar, sementara Ardian mencapai Rp1,95 miliar. (OL-8)

 

Baca Juga

ANTARA/Dhemas Reviyanto

Firli Sebut Pemberantasan Korupsi Tergantung Kinerja Kepala Daerah

👤Candra Yuri Nuralam 🕔Rabu 14 April 2021, 08:27 WIB
Firli mengatakan seluruh kepala daerah punya peran besar dalam pemberantasan korupsi di...
Dok MI

NasDem Dukung Percepatan Penggabungan Kemendikbud dan Kemenristek

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 14 April 2021, 05:18 WIB
Pemerintah perlu percepat dan kesigapan dalam menggabungkan Kemendikbud dan Kemenristek karena program masing-masing sedang...
Dok MI

Ide Calon Tunggal Pilpres 2024 Merupakan Kemunduran Demokrasi

👤Emir Chairullah 🕔Selasa 13 April 2021, 23:54 WIB
“Jika narasi calon tunggal itu terus dikembangkan, kader-kader bangsa terbaik akan dihambat karena tidak bisa ikut serta dalam...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Tajamnya Lancang Kuning di Lapangan

 Polda Riau meluncurkan aplikasi Lancang Kuning untuk menangani kebakaran hutan dan lahan. Berhasil di lapangan, dipuji banyak kalangan.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya