Headline
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH menyiapkan anggaran senilai Rp12,83 triliun untuk paket stimulus ekonomi kuartal I 2026 yang mencakup diskon tiket transportasi, potongan tarif jalan tol, serta bantuan sosial (bansos).
Stimulus yang akan diberikan selama periode Februari-Maret 2026 tersebut, menurut Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, tidak termasuk diskon tarif listrik. Bahkan dirinya memastikan tidak ada diskon tarif listrik di 2026.
Merespons hal itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menyampaikan bahwa tak ada diskon tarif listrik di 2026 pada dasarnya menahan ruang pemulihan daya beli, terutama bagi rumah tangga menengah bawah yang memiliki proporsi pengeluaran listrik cukup besar dalam konsumsi rutin.
"Dalam kondisi inflasi jasa dan pangan yang masih fluktuatif, absennya diskon listrik membuat tekanan biaya hidup tidak sepenuhnya berkurang. Artinya, stimulus yang ada tidak bekerja pada pos pengeluaran yang paling rigid dan berulang, sehingga efeknya terhadap daya beli bersifat terbatas dan tidak merata," ucap Rizal saat dihubungi, Selasa (3/2).
Kendati demikian, Rizal menyatakan bahwa paket stimulus Rp12,83 triliun yang difokuskan pada diskon transportasi, tarif tol, dan bansos memang berpotensi mendorong konsumsi jangka pendek, khususnya pada kelompok penerima bansos dan masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi menjelang Ramadan. "Namun dampaknya cenderung bersifat temporer dan musiman, lebih kuat mendorong sektor transportasi, pariwisata domestik, dan konsumsi non-durable, dibandingkan mendorong permintaan agregat secara struktural," tegasnya.
Dengan konfigurasi kebijakan seperti itu, sambung Rizal, stimulus kuartal I 2026 kemungkinan cukup menahan perlambatan pertumbuhan, tetapi belum cukup kuat untuk menciptakan akselerasi ekonomi yang signifikan.
"Tanpa dukungan kebijakan yang langsung menurunkan biaya hidup dasar seperti energi dan pangan, stimulus lebih berfungsi sebagai buffer jangka pendek, bukan pengungkit pertumbuhan yang berkelanjutan," pungkasnya. (I-2)
PEMERINTAHAN Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menandai tahun pertama masa jabatannya dengan sejumlah kebijakan di sektor energi.
Kebijakan diskon tarif listrik 50 persen yang diterapkan pemerintah terbukti efektif dan layak dipertimbangkan untuk diterapkan kembali.
Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik Sofyano Zakaria mendorong pemerintah untuk kembali menerapkan diskon tarif listrik 50%, seperti yang pernah diberlakukan pada Januari-Februari 2025.
Kebijakan diskon tarif listrik sebesar 50% layak diterapkan kembali. Menurutnya, itu bisa mendorong konsumsi masyarakat dan memperkuat daya beli di tengah tekanan ekonomi.
Pemerintah memutuskan untuk menghapus rencana kebijakan diskon tarif listrik dari lima paket kebijakan insentif yang akan mulai berlaku Juni-Juli 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved