Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
STIMULUS fiskal diyakini akan berdampak terhadap konsumsi rumah tangga pada periode mudik Lebaran 2026 yakni menjadi jendela peluang (window of opportunity) untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi. Hal itu disampaikan oleh ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nur Hidayah.
Secara historis, konsumsi rumah tangga selalu meningkat signifikan menjelang Ramadan dan Lebaran. Kenaikannya, ungkap Nur, berkisar 15%-20% dibandingkan bulan-bulan normal. Karena itu, stimulus seperti diskon tarif transportasi dan bantuan pangan perlu dimaksimalkan agar dampaknya optimal.
"Momentum Lebaran di triwulan I 2026 ini sebenarnya window of opportunity dan strategis stimulus ekonomi ini memang sangat krusial," ujar Nur kepada Media Indonesia, Selasa (10/2).
Nur menjelaskan, stimulus fiskal yang tepat sasaran, seperti percepatan penyaluran bantuan sosial, pembayaran tunjangan hari raya (THR) bagi pegawai negeri sipil (PNS), TNI, dan Polri, serta pelaksanaan program-program padat karya, berpotensi menghasilkan multiplier effect atau efek ganda yang maksimal.
Dampak itu, lanjut Nur, muncul seiring meningkatnya velocity of money atau kecepatan perputaran uang selama periode mudik Lebaran, ketika aktivitas konsumsi masyarakat melonjak. Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh tingginya marginal propensity to consume (MPC) atau kecenderungan mengonsumsi marjinal masyarakat Indonesia pada momentum Lebaran.
"Hal tersebut dapat memicu efek berganda ke berbagai sektor riil, mulai dari ritel, transportasi, UMKM, hingga pariwisata domestik," tutur Kepala Center for Sharia Economic Development (CSED) Indef itu.
Ia menambahkan, berdasarkan data Kementerian Keuangan pada tahun-tahun sebelumnya, stimulus fiskal senilai Rp100 triliun yang tersalur optimal pada triwulan I berpotensi mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga hingga 0,3-0,5 poin persentase.
Karena itu, Nur mendorong percepatan penyaluran bantuan sosial dan subsidi yang lebih tepat sasaran, akselerasi program padat karya guna menyerap tenaga kerja dan meningkatkan daya beli masyarakat, hingga pemberian insentif fiskal bagi UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan.
"Dengan bauran kebijakan yang tepat, target pertumbuhan ekonomi 5,2-5,3% di TW I 2026 masih sangat achievable," katanya.
Lebih lanjut, Nur menekankan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencerminkan perlambatan yang perlu diantisipasi. Pada triwulan IV 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,0%-5,1% secara tahunan, sedikit melambat dibanding periode sebelumnya.
Konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sekitar 53%-54% terhadap produk domestik bruto (PDB) juga mengalami tekanan, dengan pertumbuhan tercatat sekitar 4,8%-4,9%. Nur menganggap kondisi itu memperkuat urgensi kebijakan stimulus agar kinerja ekonomi pada triwulan I 2026 dapat kembali menguat.
Di sisi lain, tekanan global dinilai semakin nyata. Ketidakpastian geopolitik, normalisasi kebijakan moneter di negara maju, serta potensi resesi global menuntut Indonesia untuk memperkuat ketahanan ekonomi domestik.
"Dalam kondisi tersebut, stimulus fiskal dinilai berperan vital sebagai shock absorber bagi perekonomian nasional," pungkasnya. (E-4)
PEMERINTAH mengakselerasi stimulus ekonomi nasional pada Triwulan I 2026 dengan mengatur mobilitas masyarakat menjelang Idul Fitri.
PEMERINTAH mengucurkan anggaran bantuan sosial (bansos) sebesar Rp17,5 triliun menjelang Lebaran 2026.
Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp911,16 miliar untuk memberikan diskon transportasi selama periode mudik Lebaran 2026.
Dalam upaya mengatur mobilitas selama libur Lebaran 2026, pemerintah telah menetapkan kebijakan Work From Anywhere (WFA) bagi para pekerja pada 16, 17, 25, 26, dan 27 Maret 2026.
Ekonom menilai ketiadaan diskon tarif listrik pada paket stimulus ekonomi kuartal I 2026. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menekan daya beli masyarakat,
PEMERINTAH mengakselerasi stimulus ekonomi nasional pada Triwulan I 2026 dengan mengatur mobilitas masyarakat menjelang Idul Fitri.
PEMERINTAH mengucurkan anggaran bantuan sosial (bansos) sebesar Rp17,5 triliun menjelang Lebaran 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved