Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Pertarungan Antara Pesimisme dan Optimisme dI Pemilu 2019

Ghani Nurcahyadi
01/3/2019 21:50
Pertarungan Antara Pesimisme dan Optimisme dI Pemilu 2019
(Dok.Opapaci)

PEMILU 2019 di mata Ketua Relawan Golkar Jokowi (GoJo) Rizal Mallarangeng, menampilkan pertarungan antara pesimisme dan optimisme. Nuansa pesimisme dilihatnya ada pada calon presiden Prabowo Subianto, sedangkan optimisme jadi kesan kuat pada capres petahana Joko Widodo.

"Pesimisme berangkat dari rasa kecemasan yang berlebihan, sedangkan optimisme merupakan bagian dari keyakinan akan kemampuan bangsa," katanya dalam diskusi bertajuk Cendikiawan & Kekuasaan : Instrospeksi Kampanye Pemilu 2019 yang digagas Opapaci News di Jakarta.

Rizal mengungkapkan, pesimisme yang ditunjukkan oleh Prabowo bisa disimak dari sejumlah pernyataannya yang kontroversial, seperti Indonesia bubar, negara dikuasi asing, dan lain sebagainya.

"Ada pesimisme yang menyebutkan kita terlalu terkontrol oleh pihak lain. Pesimisme dan kecemasan itu dasarnya kosong," ujar Rizal.

Menurut Rizal, tidak berkembangnya pemikiran Prabowo, salah satu penyebabnya adalah karena kurangnya masukan dari kalangan cendikiawan yang selama ini berada di lingkaran paslon nomor urut 02.

Baca juga : Dukungan Keluarga Uno bisa Tingkatkan Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf

"Padahal jika diperhatikan, ide-ide Prabowo juga termasuk ide-ide besar yang dibutuhkan negara. Namun kurang dalam pengeksplorasiannya. Kemana kaun cendikiawan yang berada di lingkaran Prabowo ? Ide-ide besar tapi kosong, tidak ada argumennya. Tipologi Prabowo sukanya konsep besar, tapi kok tidak ada isinya, kosong melompong. Seharusnya kaum cendikiawan di sana bisa mengisi itu," tukasnya.

Di sisi lain, anggota Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga Uno yang juga jadi pembicara dalam diskusi tersebut, Miftah Sabri menegaskan, pernyataan Prabowo bukan berarti pesimis terhadap kemajuan yang bisa diraih Indonesia.

Prabowo diakui Miftah hanya memberi peringatan kepada pengelola negera Indonesia saat ini untuk tidak lengah.

"Jadi bukan berarti pesimis, Prabowo hanya mengingatkan. Seperti halnya jika ada anak kecil yang tidak belajar, kemudian orang tua si anak mengingatkan kalau tidak belajar, nanti tidak naik kelas," tandasnya. (RO/OL-8)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ghani Nurcahyadi
Berita Lainnya