Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Rohingya

29/5/2015 00:00
Rohingya
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

INI bukan duka di benua jauh. Ini tragedi kemanusiaan di benua kita: Asia; di komunitas kita: Asia Tenggara. Cakrawala kita juga masih lengkung langit yang tak berbeda, yakni khatulistiwa yang bisa merasakan nikmat matahari nyaris sempurna. Namun, di Birma, kini Myanmar, Rohingya jadi puak yang dihinakan.

Sepenggal sejarah bercerita, Rohingya dulu kabilah merdeka. Mereka hidup di Negara Bagian Arakan, kini Provinsi Rakhine. Karena kolonisasi sejak 1823, Arakan masuk Birma. Sejak itu derita Rohingya dimulai. Rezim militer menekan, pada 1978 ratusan ribu orang kabur ke Bangladesh.

Sejak 1982 konstitusi negeri itu hanya mengakui 135 etnik, dan tidak untuk Rohingya yang muslim! Mereka bukan Buddha, agama mayoritas di sana. Seorang biksu penyebar kebencian, Ashin Wirathu, ikut mematangkan suasana. Pastilah ini bertentangan dengan Buddha, yang mengajarkan kebajikan sempurna.

Pada 2012, serbuan besar-besaran terjadi. Para ekstremis membakar ribuan rumah dan tempat ibadah, ratusan orang dijemput maut, ratusan ribu pergi mencari suaka. Pejuang demokrasi Aung San Suu Kyi tak jua bersuara meski Dalai Lama mendesaknya.

Kini separuh lebih dari sekitar 2,8 juta rumpun Rohingya mencari penghidupan di banyak negara. Mereka membentuk diaspora dengan cerita kepedihannya. Adapun yang 'tertinggal', terus menghitung hari.

Mereka lahir, hidup, bertumbuh, kawin-mawin, di negeri itu, tapi tak beridentitas negara. Mereka dianggap bagian dari Bangladesh.

Kita, Indonesia, memang bukan negara yang bersih dari sikap jemawa pada yang berbeda. Namun, konstitusi memuliakan kesetaraan. Bangsa ini secara bertahap memperbaiki kesalahannya. Maka, terpujilah kita, juga Malaysia, yang sudi menerima ribuan kaum exile yang terkatung-katung di laut lepas.

Problem kita memang tak sedikit. Wajar, semula Indonesia, juga Thailand dan Malaysia, tak mau menerima imigran Rohingya dan Bangladesh. Bangladesh tak bermasalah karena berdokumen dan motif mereka ekonomi, bukan suaka.

Rohingya tidak saja tak berdokumen, tapi juga sengsara secara materi. Beberapa mati di tengah lautan. Rasa kemanusiaan kita melunturkan formalitas itu.

Pemerintah bersedia menampung, minimal satu tahun, sambil mencari solusi, misalnya meyakinkan Myanmar menerima mereka. Bukan kali ini saja kita berbuat kebajikan pada bangsa lain yang menderita.

Pulau Galang, Kepulauan Riau, ialah saksi nyata seperempat juta manusia perahu Vietnam hidup lama sebagai pengungsi (1979-1996). Ini hanya salah satu jejak kita.

Berbagai jejak lain bisa menjadi modal menyelesaikan urusan Rohingya. Kita tahu betapa pedih mereka yang tercerabut dari negaranya.

Memoar pemikir Edward Said, Out of Place, membuat kita merasakan alienasi itu. Ia lahir di Jerusalem, tapi semua keluarganya diusir tentara Israel. Ia Arab, tapi nama depannya Barat.

Ia Kristen dan pembela Palestina terdepan. Ia warga Amerika, tapi pengkritik pedas Barat.

Kita bisa merasakan derita Said dan orang-orang Palestina, juga mereka yang terusir. Terlebih puak Rohingya, derita mereka jauh melampaui out of place Said dari segi apa pun.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.