Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Kontraksi

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
09/5/2015 00:00
Kontraksi
(Grafis/SENO)
LAPORAN Badan Pusat Statistik berkaitan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2015 mengejutkan semua orang.  Kontraksi ekonomi yang terjadi ternyata begitu dalam. Pertumbuhan kuartal I tercatat 4,71%, turun dari 5,01% pada kuartal IV 2014. Perlambatan ekonomi yang nyaris sudah berlangsung sejak kuartal II 2012 sebenarnya diharapkan berakhir ketika terjadi pergantian pemerintahan. Apalagi Presiden Joko Widodo menjanjikan perubahan. Dunia usaha baik dalam maupun luar negeri menyambut antusias janji Jokowi dan itu terlihat dari respons positif ketika Presiden tampil dalam forum bisnis APEC dan Konferensi Asia Afrika.

Namun, kegaduhan politik yang terus dibiarkan berlanjut sejak Februari menghapus semua harapan perbaikan. Perekonomian kita mengalami kelesuan yang luar biasa. Itu terutama dirasakan pada menurunnya daya beli masyarakat. Penjualan otomotif baik mobil maupun motor turun sampai 20%. Hal yang sama terjadi pada penjualan properti. Pada saat yang bersamaan harga komoditas di pasar dunia mengalami tekanan. Akibatnya semua orang memilih memegang uang daripada berbelanja. Sekarang yang dibutuhkan ialah keberanian untuk mengatakan kita sedang berada dalam kondisi krisis. Perlambatan ekonomi yang sudah berlangsung sejak 2011 menunjukkan ada masalah besar yang sedang kita hadapi. Dengan mengakui kita dalam kondisi krisis, semua kemampuan akan dikerahkan untuk membawa kita keluar dari krisis.

Tidak lagi bersikap biasa-biasa dan business as usual. Harus ada upaya luar biasa untuk membalikkan keadaan. Apalagi Jokowi sudah menetapkan pertumbuhan ekonomi 2015 sebesar 5,7%. Artinya, dalam tiga kuartal terakhir, kita harus tumbuh minimal 6%. Namun, dengan melihat sekarang sudah masuk Mei dan belum ada perubahan signifikan, kita tak yakin kuartal II bisa tumbuh dengan 6%. Semua itu disebabkan kita tidak fokus membenahi persoalan ekonomi. Presiden Jokowi sendiri terlalu mudah berkomentar untuk hal-hal yang tak terkait dengan urusan ekonomi. Ketika penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan ditahan polisi untuk urusan kasus dugaan penganiayaan, ia ikut-ikutan berkomentar.

Optimisme bagi perbaikan ekonomi meredup setelah meruak konflik antara KPK dan Polri. Presiden ikut bertanggung jawab atas kelesuan karena membiarkan ketidakpastian berlangsung begitu lama. Decoupling atau pemisahan politik dan ekonomi belum sepenuhnya berjalan di Indonesia. Ketika kegaduhan politik terus dipelihara, kita tidak bisa berharap perbaikan ekonomi akan terjadi. Oleh karena itu, kita kembali mengingatkan agar setop bicara politik. Sekarang saatnya bagi kita untuk bekerja. Apalagi kondisi ekonomi global tidak menguntungkan.

Ketika dunia usaha sedang lesu darah, tidak ada jalan lain pemerintah yang harus tampil sebagai pendorong ekonomi. Pembangunan infrastruktur yang dirancang pemerintah bisa menjadi katalisator bagi bergeraknya kembali roda perekonomian.  Pembangunan ekonomi tidak cukup dilakukan dengan omong. Presiden tidak cukup lagi mengatakan empat atau lima tahun lagi kita akan menikmati hasilnya. Sikap get things done yang kita butuhkan sekarang. Jangan lagi sekadar omong besar akan ada investasi dari Tiongkok atau Jepang. Kalau kita tidak melaksanakan tugas kita, krisis yang semakin dalam akan menghadang kita


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.