Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Wahabi Lingkungan

18/6/2025 05:00
Wahabi Lingkungan
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SEORANG teman bilang, ‘bukan Gus Ulil namanya bila tidak menyampaikan pernyataan kontroversial’. Pula, itu yang terjadi saat pemilik nama lengkap Ulil Abshar Abdalla tersebut melempar ‘label’ serem untuk para aktivis lingkungan yang amat agresif memperjuangkan kelestarian lingkungan dengan sebutan ‘wahabi lingkungan’.

Ketua PBNU itu menuliskan cicitan di akun X miliknya, @ulil sebagai berikut: ‘Peduli lingkungan, oke. Menjadi wahabi lingkungan jangan. Harus dibedakan antara peduli lingkungan dg menjadi “wahabi lingkungan” yg hanya menggaungkan “wokisme dan alarmisme global” dlm bidang lingkungan. Berbahaya!’.

Ia pun menjelaskan maksud ‘wahabi lingkungan’ itu dalam sebuah acara bincang-bincang di televisi. “Wahabisme itu artinya gini, orang wahabi itu, begitu kepinginnya menjaga kemurnian teks sehingga teks tidak boleh disentuh sama sekali. Harus puritan. Puritanisme teks itu adalah wahabi,” kata Ulil.

“Teman-teman (aktivis) lingkungan ini yang terlalu ekstrem. Arahnya adalah dia seperti menolak sama sekali mining karena industri ekstraksi selalu pada dirinya adalah dangerous, dan (pandangan) itu berbahaya,” tandas Gus Ulil.

Pernyataan Ulil itu bersangkut paut dengan kritik aktivis lingkungan, baik Greenpeace maupun Walhi, atas praktik penambangan nikel di pulau-pulau kecil di Raja Ampat, Papua Barat Daya. Para aktivis lingkungan menggugat penambangan yang membuat ekosistem di Raja Ampat yang mulai rusak, bahkan bisa rusak parah bila aktivitas penambangan tidak dihentikan.

Saya tidak paham, mengapa Gus Ulil amat berani ‘menentang’ komitmen organisasi yang memayunginya, Nahdlatul Ulama alias NU, juga bersimpang jalan dengan pernyataan ulama anutan NU yang juga mertuanya sendiri, KH Mustofa Bisri. Gus Mus, sapaan pemimpin Ponpes Roudlotut Thalibin, Rembang, itu merupakan sosok yang konsisten dan memegang teguh nilai-nilai pelestarian lingkungan.

Menurut Gus Mus, jihad tidak sekadar perang, tapi juga masuk substansi menjaga dan melestarikan lingkungan hidup. Itu disebabkan implikasi rusaknya lingkungan hidup sangat parah. Pada hakikatnya kerusakan lingkungan akan berdampak pada sektor lain, misal ekonomi, sosial, dan budaya. Paling parah ialah menciptakan segregasi antara manusia dan manusia, memutuskan persaudaraan antarmanusia, serta menelantarkan dan merusak alam seperti gunung, hutan, hewan, dan segala sesuatu yang ada di ekosistem.

NU sebagai organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia juga sangat keras ‘menghukum’ para perusak lingkungan. Dalam Muktamar Ke-9 NU di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 1994 diputuskan bahwa pencemaran lingkungan, baik pada konteks tanah, air, maupun udara, jika menimbulkan kerusakan (dlarar), hukumnya diharamkan dan tindakan tersebut termasuk perbuatan kriminal (jinayat).

“Segala sesuatu yang mengarah kepada kezaliman, keaniayaan, dan pelanggaran adalah hal yang diharamkan, dan segala sesuatu yang mengarah kepada keadilan, keadilan sosial, dan kebaikan maka ia adalah sesuatu yang dituntut, baik secara wajib maupun sunnah,” begitu putusan Muktamar NU 31 tahun lalu itu.

Sikap NU dan Gus Mus itu tidak bergeser semili pun hingga kini. Bahkan, pandangan Gus Ulil soal label ‘wahabi lingkungan’ beserta penjelasannya soal mengapa ia berpendapat demikian itu juga ditentang intelektual NU Nadirsyah Hosen. Pernyataan bahwa penambangan ialah hal baik karena membawa maslahat, dan yang buruk hanyalah bad mining, kata Gus Nadir, tampaknya menyederhanakan problematika yang kompleks.

Memang benar bahwa dalam kerangka maqaṣid al-shari’ah, setiap aktivitas yang membawa kemaslahatan publik dapat dibenarkan. Namun, penambangan bukan sekadar perkara teknis antara ‘baik’ dan ‘buruk’, melainkan juga melibatkan soal ketimpangan struktural, kerusakan ekologis, dan pelanggaran hak masyarakat lokal. Selama hal-hal itu tidak diperbaiki, yang kita saksikan ialah bad mining dan selama hal-hal ini masih dibiarkan, tidak elok menormalisasi pertambangan dengan klaim normatif-abstrak.

Pernyataan ‘tambang itu baik asal bukan bad mining’ bisa menjadi justifikasi moral yang berbahaya jika tidak disertai evaluasi kritis terhadap praktik dan dampak penambangan itu. Kemaslahatan bukan cuma soal manfaat finansial, melainkan juga harus diuji melalui prinsip keadilan, keberlanjutan, dan kemanusiaan.

Mungkin Gus Ulil ingin mengedepankan keseimbangan. Istilah lazimnya proporsionalisme. Namun, seperti kata seorang teman tadi, dari dulu Ulil senang dengan politik wacana disertai pelabelan. Model begitu biasanya dianut para pemikir yang kurang sabar untuk mendalami evidence dalam mencermati fenomena. Mungkin karena kurang waktu, atau memang untuk keperluan agitasi dan propaganda.

Dalam rivalitas wacana di ruang sempit, biasanya orang cenderung menggunakan labelisasi dan memancing lawan membalas dengan labelisasi juga. Pelabelan itu melahirkan istilah-istilah seperti cebongkampret, Islam Nusantara-wahabi, sekular-religius, antek asing, dan seterusnya. Dalam kadar yang berat, labelisasi itu bisa memecah dan membunuh. Tentu, kita tidak ingin itu terjadi.

Untungnya, urusan ‘wahabi lingkungan’ itu masih ringan-ringan dan menciptakan kebisingan sosial saja. Saya menduga, dan berharap, Gus Ulil kembali ke ‘pangkuan’ prinsip-prinsip penting NU yang sudah diputuskan di Muktamar Cipasung. Sebagaimana ‘polemiknya’ dengan sang mertua, Gus Mus, beberapa tahun lalu, Gus Ulil akan kembali ke ‘akarnya’, seperti saat ini, saat ia sedang ‘memasarkan’ kitab-kitab ulama besar sufi, Imam Al Ghazali. Semoga.



Berita Lainnya
  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."