Headline

Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Pejabat Pemarah

23/1/2025 05:00
Pejabat Pemarah
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

MARAH sesuatu yang manusiawi. Biasa dalam diri manusia. Mulai bayi sampai aki-aki nini-nini, baik laki-laki maupun perempuan, rakyat biasa atau para pengampu kuasa pasti pernah marah. Yang tidak biasa ialah jika suka marah-marah, menjadi pemarah.

Sekali-kali marah boleh. Apalagi bagi seorang pemimpin, kalangan pejabat. Marah diperlukan ketika mendapati ketidakberesan. Justru, kalau ada penyimpangan diam-diam saja, membiarkannya, jiwa kepemimpinannya patut dipertanyakan. Namun, gampang marah, marah-marah tanpa alasan yang berbobot, jangan.

Ihwal marah-marah itu kembali menjadi atensi hari-hari ini. Yang menjadi sorotan ialah Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti-Saintek) Satryo Soemantri Brodjonegoro. Dia didemo ratusan anak buahnya karena dinilai pemarah, arogan. Kantor Kemendikti-Saintek menjadi arena unjuk rasa, Senin (20/1), menentang Satryo.

Satryo dilawan jajarannya karena disebut melakukan pemecatan sepihak terhadap Neni Herlina. Neni, Pranata Humas Ahli Muda yang juga merangkap Pj Rumah Tangga di Kemendikti-Saintek, mengaku diperlakukan sewenang-wenang oleh Pak Menteri. Dia dipecat di depan para pegawai dan anak-anak magang.

Ancaman pemecatan bahkan sudah diterima Neni sejak 30 Oktober 2024. Musababnya kala itu sepele, yakni soal penggantian meja di ruang kerja menteri. Persoalan wi-fi pernah pula berujung kata pecat. Kata Neni, tak lama setelah menjabat, Satryo meminta rumah dinasnya segera dipasang wi-fi, tapi pihak vendor mengerjakannya sampai malam. Neni pun jadi samsak kemarahan. Dia diancam dipecat lewat Whatsapp.

Pak Menteri juga disebut pemarah. Pun sang istri, Silvia Ratnawati Brodjonegoro, yang dikatakan suka ngatur-ngatur dan bicara kasar. Rekaman yang diduga suara Satryo marah-marah hanya gegara air di rumah dinasnya mati mengindikasikan attitude itu. Korbannya seseorang dari vendor di kementerian. Terdengar sesuatu yang dilempar atau dibanting dalam rekaman itu. Bahkan, Satryo disebut main fisik.

Buat pegawai Kemendikti-Saintek, bos mereka sudah keterlaluan. Karena itu, demo digelar yang dari rekaman kejadian memperlihatkan mereka geram bukan kepalang. Kata 'lawan' diteriakkan. Spanduk bertuliskan kalimat superpedas dibentangkan. 'Pak Presiden, Selamatkan Kami dari Menteri Pemarah, Suka Main Tampar dan Pecat', 'Kami ASN, Dibayar oleh Negara, Bekerja untuk Negara, bukan Babu Keluarga', dan 'Institusi Negara bukan Perusahaan Pribadi Satryo dan Istri'.

Benarkah Menteri Satryo pemarah, arogan, sewenang-wenang? Dia membantah mentah-mentah. Dia mengeklaim tidak pernah marah-marah, apalagi melakukan kekerasan terhadap pegawai. Dia juga menyangkal bahwa dirinya yang marah-marah dalam voice note lantaran air mati.

Satryo justru melawan balik anak buahnya yang berunjuk rasa. Kata dia, demonstrasi terjadi karena ada pihak yang menolak dimutasi. Dia bilang, kementerian sedang melakukan mutasi dan rotasi besar-besaran.

Siapa yang benar, Pak Menteri atau para pegawai? Marilah kita bicara logika. Bodoh betul Neni mengumbar sifat-sifat buruk Satryo jika semua itu karangan semata. Kurang ajar nian dia memfitnah bosnya kalau apa yang diungkapkan bukanlah kenyataan. Juga, naif benar para pegawai terang-terangan melawan atasan, mempertontonkannya ke publik, jika sekadar urusan mutasi, rotasi, promosi, demosi.

Kalau masalahnya memang perombakan demi perbaikan organisasi, kementerian semestinya pantang berhenti. Bukan kemudian malah menyerah dengan tetap mempertahankan Neni, tidak jadi memindahkan, atau memecatnya. Kalau bersih, kenapa risih, Pak Menteri? Itu logikanya, setidaknya logika saya.

Mengendalikan amarah ialah keniscayaan bagi tiap orang, apalagi pejabat, pemimpin, pemegang kekuasaan. Namun, banyak contoh pemimpin negeri ini yang suka marah-marah. Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, misalnya. Mantan Menteri Sosial Tri Rismaharini, umpamanya. Dulu, eks Gubernur Jakarta Ali Sadikin juga dikenal temperamental.

Dulu sekali, ada pula Amir Syarifuddin yang di awal kemerdekaan menjabat perdana menteri merangkap menteri pertahanan. Di mata koleganya, Bung Hatta, Amir ialah pemimpin yang sangat sulit dianalisis sifat-sifatnya dan suka marah-marah. Sifat gampang marah itulah yang kerap dimanfaatkan teman-teman Amir dari kelompok PKI.

Penelitian Carnegie Mellon University, AS, menunjukkan marah dengan kadar yang pas bisa meningkatkan aliran darah ke otak serta memperbaiki kerja jantung dan hormon. Namun, marah kelewat batas, melebihi takaran, menjadi pemarah, tak hanya buruk bagi kesehatan tubuh, tapi juga pertanda ada gangguan jiwa.

Kemendikti-Saintek boleh saja menganggap kekisruhan antara Pak Menteri dan pegawai sudah selesai dengan dilakukan rekonsiliasi. Damai memang indah. Namun, bagi sebagian publik, termasuk saya, perkara itu tak cukup berakhir di situ. Mesti ditindaklanjuti, dibuat transparan, terang benderang. Harus dipastikan apakah Menteri Satryo memang suka marah-marah, arogan, bertangan besi. Perlu dibuktikan apakah yang marah-marah di rekaman suara bukan Pak Menteri seperti klaim dia, atau sebaliknya.

Rakyat tak mau punya pejabat, terlebih sekelas menteri, yang emosian, yang semena-mena, pembohong pula. Rakyat tak mau kasus ini seperti Fufufafa yang sengaja dibiarkan menjadi misteri, ditutup-tutupi. Rakyat mau pemimpin yang sehat jiwa dan raganya.



Berita Lainnya
  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.