Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Jokowi dan Kita

28/8/2024 05:00
Jokowi dan Kita
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/EBET)

SEPULUH tahun yang lalu, slogan 'Jokowi adalah Kita' mampu menyihir banyak kalangan di Tanah Air. Hasilnya, Jokowi pun terpilih sebagai Presiden Ketujuh RI. Slogan itu maknanya, kira-kira, Jokowi tak ubahnya rakyat Indonesia kebanyakan: yang tidak rikuh makan di warung tenda, yang tidak menyemprot tangan dengan antiseptik setelah salaman, yang outfit-nya seperti kebanyakan rakyat jelata.

Hingga naik ke tampuk kekuasaan, Jokowi tak beringsut. Ia tak hendak mengubah 'performanya' seperti priayi atau ningrat. Ia masih rajin blusukan, bisa tiba-tiba turun dari mobil untuk menyalami rakyat di pinggir jalan, bahkan melayani kepungan untuk berswafoto. Karena itu, ia makin didukung dan dipercaya untuk menjadi presiden pada periode berikutnya.

Hingga suatu ketika, tahun berganti. Hidup memang dinamis, tidak statis. Ada yang bilang, hidup itu seperti cokro manggilingan, mirip roda berputar, kadang di atas, suatu saat di bawah. Ketika sudah di atas hampir satu dekade, orang mulai melihat Jokowi berubah. Ia dinilai mulai terlalu kuat menggenggam kekuasaan. Malah, ada yang menyebutnya: membangun kartel kekuasaan. Segala pujian yang disematkan pun, oleh banyak kalangan, mulai ditarik. Saya sedih, saat banyak orang mulai berkata 'Jokowi bukan kita'.

Orang ramai mulai menganulir simpati. Sebagian mereka bahkan menyampaikan sumpah serapah. Kesedihan saya berpangkal pada kebiasaan di negeri ini yang amat cepat menarik batas antara cinta dan benci. Antara memuji dan memaki seperti setipis kulit bawang.

Saya, kok, jadi ingat sejarah bagaimana Presiden Sukarno, Presiden Soeharto, Presiden Habibie, dan Presiden Abdurrahman Wahid 'diperlakukan' pada akhir jabatan mereka. Semuanya pernah diangkat setinggi bintang, lalu diempaskan sedalam-dalamnya. Semua seolah ingin menganulir pernah 'mencintai' mereka. Semua seperti hendak berseru seperti pelesetan judul lagu grup band Naif: Benci (Pernah) Mencinta.

Tidak semua, memang, mengubah haluan dari cinta menjadi benci. Di pembukaan Kongres III Partai NasDem, Minggu (25/8), di Jakarta, dua sosok sahabat lama yang akhir-akhir ini 'bersimpang pilihan jalan' justru menunjukkan bagaimana relasi persahabatan itu tidak melulu benci dan cinta. Ada rasa hormat di kamus persahabatan walau tidak selamanya jalan beriringan.

Itulah yang saya saksikan saat Jokowi dan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh berpidato pada Minggu malam itu. Keduanya mengungkapkan kejujuran, ketulusan, tidak mau memakai polesan. Keduanya tidak mau dikungkung dalam urusan cinta dan benci. Surya bebas mengkritik, Jokowi juga berkata apa adanya.

Dalam pidatonya, Surya mengaku belajar banyak dari kepemimpinan Presiden Jokowi selama 10 tahun terakhir. Menurut dia, Jokowi menunjukkan hubungan yang setara, satu kesepahaman antara pemerintah dan Partai NasDem selama 10 tahun terakhir. Pada masa-masa itu, setiap orang bisa bebas bergerak dan berbicara, mengeluarkan pendapat sepakat dan kadang-kadang tidak sepakat.

Tak mengherankan ada masanya terkadang Surya merasa harus melewati fase tersenyum, di sisi lain melewati fase terhenyak. Ada banyak kesamaan maupun perbedaan pendapat yang mewarnai langkahnya selama 10 tahun terakhir ini.

"Inilah yang menyebabkan satu proses perjalanan hampir 10 tahun ini, kadang-kadang bisa tersenyum lebar, kadang-kadang kita harus termangu-mangu, kadang-kadang kita harus bisa terhenyak duduk sedikit, memikirkan apa sebenarnya yang kurang dengan NasDem ini?" kata Surya.

Bahkan, bagi Surya, ia meyakini, kendati terjadi perbedaan jalan antara dirinya dan Jokowi, ia memandang bahwa Jokowi pasti punya niat baik. Namun, hidup tak cukup hanya bermodal niat baik. Niat baik butuh strategi yang baik dan pas pula.

Jokowi pun tak menutup-nutupi perbedaan sikap dirinya dengan Surya. Saat Pilpres 2024, kata Jokowi, Surya memilih jalan perubahan, sedangkan yang lain memilih keberlanjutan. Padahal, Partai NasDem ialah partai yang pertama kali mendukungnya maju sebagai presiden pada 2014. Dukungan kepadanya pun berlanjut pada Pilpres 2019.

"Kami bisa sangat dekat walaupun juga sering berbeda pendapat. Kami bisa saling menemukan kecocokan walau juga banyak di tengah-tengah itu tidak ada kecocokan. Kami bisa saling mengerti walau kadang-kadang setelah mengerti juga bingung sendiri-sendiri," tutur dia.

Karena itu pula, Jokowi melihat sahabatnya itu tetaplah seorang sahabat yang menjunjung tinggi respek. Bukan hanya saat datang ramai-ramai di awal kekuasaan, melainkan yang lebih penting saat yang lain pergi atau meninggalkannya ramai-ramai. "Saya yakin, Bang Surya bukan tipe seperti itu," kata Jokowi.

Begitulah, saat pujian sudah bersalin rupa menjadi cibiran, cacian, bahkan sumpah serapah, masih tersisa kritik dengan rasa respek. Sikap kritis ialah lumrah. Sekeras apa pun itu, dalam alam demokrasi, juga lumrah. Termasuk bila ada yang mengkritik bahwa 'Jokowi bukan lagi kita' itu juga lumrah. Kita tinggal menunggu bagaimana kita menyisakan ruang respek.



Berita Lainnya
  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.