Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Pejabat Narsistik

Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group
02/5/2024 05:00
Pejabat Narsistik
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(Ebet)

APAKAH sifat narsistik memang menjadi bawaan setiap politikus dan pejabat di negeri ini? Mestinya, sih, tidak ya. Sejujurnya, tidak semua dari mereka doyan menonjolkan diri atau memiliki kepentingan diri yang berlebihan seperti itu. Masih banyak dari mereka yang tidak gemar berpamer ria atau hobi memoles citra. 

Namun, sayangnya, jumlah yang tidak suka menampilkan diri, yang apa adanya, yang mementingkan kerja ketimbang unjuk diri, sepertinya kalah banyak daripada yang narsistik. Saat ini yang mendominasi justru mereka-mereka yang doyan tampil. 

'Aku tampil maka aku ada'. Begitu mungkin kalau kita boleh memelesetkan ungkapan legendaris dari filsuf terkenal asal Prancis, Rene Descartes, untuk menggambarkan sifat dan perilaku orang-orang itu. Kini, bukan melulu pikiran yang diandalkan, melainkan juga kemampuan untuk menonjolkan diri. 

Semakin ke sini, perilaku politikus dan pejabat yang narsistik memang kian menjengkelkan. Setiap momentum besar selalu mereka manfaatkan untuk berpamer ria. Celakanya, yang acap mereka pamerkan bukanlah prestasi, melainkan foto wajah, lengkap dengan senyuman yang tak selalu manis. Hasilnya, alih-alih membuat masyarakat kagum atau hormat, malah bikin senewen, bikin emosi.

Demi ketenaran pribadi, mereka tak segan menunggangi prestasi orang lain. Apa contohnya? Banyak. Yang teranyar, apalagi kalau bukan prestasi timnas Indonesia U-23 pada kejuaraan Piala Asia AFC U-23 di Qatar yang mereka manfaatkan untuk unjuk muka.

Alkisah, ketika 'Garuda Muda' bersiap menghadapi laga semifinal melawan Uzbekistan setelah sukses membekuk Korea Selatan lewat drama adu penalti, antusiasme masyarakat untuk menggelar nonton bareng (nobar) kian membesar. Publik berharap dengan dukungan yang mereka berikan, meskipun dari jauh, tim asuhan Shin Tae-yong mampu tampil apik dan bisa meneruskan langkah ke babak final.

Intuisi politik para pejabat dan politikus itu pun langsung jalan. Ini kesempatan yang tak boleh disia-siakan, pikir mereka. Maka, sehari sebelum pertandingan semifinal yang digelar pada Senin (29/4), bertebaranlah poster atau brosur digital perihal ajakan kepada masyarakat untuk nobar. Hampir di semua daerah ada ajakan nobar.

Sampai di sini sebetulnya masih wajar. Yang membuat tidak wajar, aneh, norak, dan bikin geleng kepala ialah desain posternya yang justru menonjolkan muka-muka para pejabat di daerah itu. Foto para pemain timnas hanya pemanis, sekadar untuk menunjukkan bahwa itu poster undangan nobar pertandingan sepak bola. Ibarat poster film, foto pemain figuran lebih besar ketimbang foto aktor utama. Sungguh absurd. 

Bahkan beberapa tergolong kebangetan. Contohnya poster nobar yang diadakan Pemkot Mojokerto, Jawa Timur. Ada 13 pejabat daerah yang fotonya dipampang. Mulai pj wali kota, ketua DPRD, sampai ketua pengadilan negeri. Begitu juga di Kabupaten Subang, Jawa Barat, sembilan pejabatnya tidak mau kalah, nongol di poster dengan seragam kebesaran masing-masing.

"Kebiasaan! yang main timnas, yang dipajang foto pejabat sama aparatnya," begitu ekspresi kejengkelan seorang netizen di lini masa platform X. "Aku kira daerahku sudah maju, rupanya masih lebih gede foto pejabat daripada pemain. Editan pula mukanya," komentar warganet yang lain.

Kejengkelan itu mencapai puncak setelah pada laga semifinal itu Indonesia akhirnya harus menyerah 0-2 dari Uzbekistan. Poster-poster aneh itu pun dijadikan salah satu kambing hitam kekalahan. 'Azab flyer nobar isinya foto-foto pejabat nih jadinya timnas indo kalah', tulis salah satu akun X.

Publik tentu paham betul tidak ada hubungannya kekalahan Indonesia dengan poster nobar yang dipenuhi foto pejabat. Tapi sebagai sindiran untuk perilaku mereka yang gemar nebeng tenar dari jerih payah para atlet, kiranya ekspresi kejengkelan dengan menyebut para pejabat dan politikus itu sebagai biang kekalahan, ya lumrah-lumrah saja.

Toh, disindir, dirundung, diolok-olok kayak apa pun, pejabat-pejabat itu tak ada kapoknya. Kelakuan seperti itu terus berulang. Beberapa waktu lalu, ketika pasangan ganda putri bulu tangkis Greysia Polii/Apriyani Rahayu sukses merebut emas Olimpiade Tokyo 2020, poster ucapan selamat dari politikus dan pejabat dengan gaya yang senada juga bertebaran. 

Fenomena itu seperti mengonfirmasi hasil riset berjudul Narcissism in Political Participation yang dilakukan Zoltan Fazekas dan Peter K Hatemi (2020). Dalam salah satu kesimpulan, mereka menyatakan, semakin narsistik seseorang, semakin mungkin mereka menjadi politisi. 

Jadi, kalau tidak narsistik, barangkali Anda tak cocok jadi politikus. Apalagi pejabat.



Berita Lainnya
  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.