Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
APAKAH sifat narsistik memang menjadi bawaan setiap politikus dan pejabat di negeri ini? Mestinya, sih, tidak ya. Sejujurnya, tidak semua dari mereka doyan menonjolkan diri atau memiliki kepentingan diri yang berlebihan seperti itu. Masih banyak dari mereka yang tidak gemar berpamer ria atau hobi memoles citra.
Namun, sayangnya, jumlah yang tidak suka menampilkan diri, yang apa adanya, yang mementingkan kerja ketimbang unjuk diri, sepertinya kalah banyak daripada yang narsistik. Saat ini yang mendominasi justru mereka-mereka yang doyan tampil.
'Aku tampil maka aku ada'. Begitu mungkin kalau kita boleh memelesetkan ungkapan legendaris dari filsuf terkenal asal Prancis, Rene Descartes, untuk menggambarkan sifat dan perilaku orang-orang itu. Kini, bukan melulu pikiran yang diandalkan, melainkan juga kemampuan untuk menonjolkan diri.
Semakin ke sini, perilaku politikus dan pejabat yang narsistik memang kian menjengkelkan. Setiap momentum besar selalu mereka manfaatkan untuk berpamer ria. Celakanya, yang acap mereka pamerkan bukanlah prestasi, melainkan foto wajah, lengkap dengan senyuman yang tak selalu manis. Hasilnya, alih-alih membuat masyarakat kagum atau hormat, malah bikin senewen, bikin emosi.
Demi ketenaran pribadi, mereka tak segan menunggangi prestasi orang lain. Apa contohnya? Banyak. Yang teranyar, apalagi kalau bukan prestasi timnas Indonesia U-23 pada kejuaraan Piala Asia AFC U-23 di Qatar yang mereka manfaatkan untuk unjuk muka.
Alkisah, ketika 'Garuda Muda' bersiap menghadapi laga semifinal melawan Uzbekistan setelah sukses membekuk Korea Selatan lewat drama adu penalti, antusiasme masyarakat untuk menggelar nonton bareng (nobar) kian membesar. Publik berharap dengan dukungan yang mereka berikan, meskipun dari jauh, tim asuhan Shin Tae-yong mampu tampil apik dan bisa meneruskan langkah ke babak final.
Intuisi politik para pejabat dan politikus itu pun langsung jalan. Ini kesempatan yang tak boleh disia-siakan, pikir mereka. Maka, sehari sebelum pertandingan semifinal yang digelar pada Senin (29/4), bertebaranlah poster atau brosur digital perihal ajakan kepada masyarakat untuk nobar. Hampir di semua daerah ada ajakan nobar.
Sampai di sini sebetulnya masih wajar. Yang membuat tidak wajar, aneh, norak, dan bikin geleng kepala ialah desain posternya yang justru menonjolkan muka-muka para pejabat di daerah itu. Foto para pemain timnas hanya pemanis, sekadar untuk menunjukkan bahwa itu poster undangan nobar pertandingan sepak bola. Ibarat poster film, foto pemain figuran lebih besar ketimbang foto aktor utama. Sungguh absurd.
Bahkan beberapa tergolong kebangetan. Contohnya poster nobar yang diadakan Pemkot Mojokerto, Jawa Timur. Ada 13 pejabat daerah yang fotonya dipampang. Mulai pj wali kota, ketua DPRD, sampai ketua pengadilan negeri. Begitu juga di Kabupaten Subang, Jawa Barat, sembilan pejabatnya tidak mau kalah, nongol di poster dengan seragam kebesaran masing-masing.
"Kebiasaan! yang main timnas, yang dipajang foto pejabat sama aparatnya," begitu ekspresi kejengkelan seorang netizen di lini masa platform X. "Aku kira daerahku sudah maju, rupanya masih lebih gede foto pejabat daripada pemain. Editan pula mukanya," komentar warganet yang lain.
Kejengkelan itu mencapai puncak setelah pada laga semifinal itu Indonesia akhirnya harus menyerah 0-2 dari Uzbekistan. Poster-poster aneh itu pun dijadikan salah satu kambing hitam kekalahan. 'Azab flyer nobar isinya foto-foto pejabat nih jadinya timnas indo kalah', tulis salah satu akun X.
Publik tentu paham betul tidak ada hubungannya kekalahan Indonesia dengan poster nobar yang dipenuhi foto pejabat. Tapi sebagai sindiran untuk perilaku mereka yang gemar nebeng tenar dari jerih payah para atlet, kiranya ekspresi kejengkelan dengan menyebut para pejabat dan politikus itu sebagai biang kekalahan, ya lumrah-lumrah saja.
Toh, disindir, dirundung, diolok-olok kayak apa pun, pejabat-pejabat itu tak ada kapoknya. Kelakuan seperti itu terus berulang. Beberapa waktu lalu, ketika pasangan ganda putri bulu tangkis Greysia Polii/Apriyani Rahayu sukses merebut emas Olimpiade Tokyo 2020, poster ucapan selamat dari politikus dan pejabat dengan gaya yang senada juga bertebaran.
Fenomena itu seperti mengonfirmasi hasil riset berjudul Narcissism in Political Participation yang dilakukan Zoltan Fazekas dan Peter K Hatemi (2020). Dalam salah satu kesimpulan, mereka menyatakan, semakin narsistik seseorang, semakin mungkin mereka menjadi politisi.
Jadi, kalau tidak narsistik, barangkali Anda tak cocok jadi politikus. Apalagi pejabat.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.
SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.
INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.
Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.
PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).
PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah
VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai
APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.
INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.
ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.
SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.
ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved