Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
SAYA antusias dengan gaya KH Ahmad Mustofa Bisri menyentil pengurus NU soal netralitas dalam pilpres. Gus Mus, begitu Mustasyar NU itu biasa disapa, memakai cara guyon maton. Bercanda tapi mengena.
Mula-mula Gus Mus menyapa satu per satu pemimpin NU dalam perhelatan Konferensi Besar NU di Ponpes Al Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, itu. Gus Mus menyebut nama KH Miftahul Akhyar, Rais Aam (Rais Am) PBNU, juga Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, keponakannya sendiri. Saat menyebut nama Sekjen NU Saefullah Yusuf, Gus Mus tidak menyematkan kata 'kiai'. Gus Mus menyebut Gus Ipul dengan panggilan Ustaz Saefullah Yusuf.
Mungkin Gus Mus menilai Gus Ipul lebih layak dipanggil 'ustaz' ketimbang 'kiai' karena kompetensinya lebih pas sebagai 'ustaz'. Dari situ, candaan serius Gus Mus berlanjut ke inti persoalan. "Tadi saya mengira Pak Yai Miftahul Ahyar dan Yai Yahya Cholil akan menyinggung capres dalam pidatonya. Kalau sampai nyinggung capres, saya akan keluar (dari ruangan). Untung tidak," kata Gus Mus.
Pemimpin Ponpes Roudlotut Thalibin, Rembang, Jateng, itu merasa perlu menjaga NU dari segala tarikan. Atau, Gus Mus sebenarnya sudah tahu bahwa pemimpin struktural NU mulai doyong-doyong. Itu istilah yang dipopulerkan kolumnis NU Mahbub Djunaidi untuk menggambarkan sesuatu yang sudah tidak tegak lurus.
Dalam sebuah kolomnya, Mahbub menulis birokrasi yang dia sejajarkan dengan tubuh yang doyong layaknya daun bawang. Mahbub pernah menulis, 'Bagaimana jantungku tidak terganggu dan kepalaku nyut-nyutan? Ditudingnya aku ini seorang parvenu alias kere munggah bale, mendadak naik tahta padahal dari comberan. Apa tidak kurang ajar begitu itu? Aku yang birokrat tinggi menjadi cemoohan di atas mimbar. Yang benar aja dong'.
'Begitulah yang terjadi. Badanku rasanya bengkak-bengkak karena sengatan bertubi-tubi. Birokrat sih birokrat, tapi apa enaknya disudut-sudutkan seperti seekor kecoak? Mengertikah kamu sekarang apa sebab gigiku tanggal satu demi satu, rambutku tidak seikal dulu lagi, dan badanku sedikit demi sedikit doyong tak ubahnya daun bawang', lanjut Mahbub.
Kondisi tubuh yang rapuh, yang 'doyong tak ubahnya daun bawang', itulah yang dijaga Gus Mus agar tidak terus terjadi pada tubuh NU. Ancaman doyong, gigi tanggal, tubuh bengkak terjadi karena NU terkena tarikan politik 'copras-capres'. Gus Mus menyadari sepenuhnya bahwa yang disengat 'lebah politik' itu bukan cuma kaki atau tangan, melainkan juga sudah kepala.
Bagaimana tidak kepala yang disengat, kalau yang digoda dalam rupa-rupa tarikan itu Rais Aam dan Ketua Umum Dewan Tanfidziyah (Tanfiziah/eksekutif) NU. KH Miftahul Ahyar (rais am) dan KH Yahya Cholil Staquf pernah tampak doyong ke Prabowo-Gibran. Begitu pula sejumlah pemimpin NU di tingkat daerah.
Karena itu, Gus Mus sebagai mustasyar (penasihat NU) kiranya tidak tahan lagi untuk segera meniup peluit. Gus Mus juga mengarahkan telunjuk ke 'kepala' yang mulai terlihat 'bengkak' disengat lebah politik: rais am dan ketua umum. Gus Mus pun sempat me-mention kedua nama itu terkait dengan netralitas NU dengan memberi dawuh, "Tugas NU memenangkan Indonesia. Tidak ada urusan dengan capres."
Dawuh itu lugas. Tidak dibungkus, tidak juga dihaluskan alias eufemisme. Kelugasan itu kiranya sudah mendesak. Penghalusan sudah tidak perlu karena penghalusan berpotensi memunculkan salah tafsir dan sesat pikir.
Seperti yang ditulis Mahbub Djunaidi, "Membaca koran itu bukan seperti makan lemper yang sudah pasti enaknya. Misalnya, sering kali orang melewatkan halaman depan yang memuat ucapan-ucapan aneh dan klise. Misalnya, pembaca tidak tertarik lagi dengan istilah 'penyesuaian', karena kata itu sudah pasti berarti kenaikan harga, dan bukan sebaliknya. Seorang murid SD malahan punya usul yang amat progresif, bagaimana kalau lawan kata 'turun' diganti saja dengan 'sesuai' dan bukannya naik."
Seperti itulah sesat pikir yang barangkali dikhawatirkan Gus Mus. Karena itu, secara lugas Gus Mus mengisahkan khitah perjuangan NU. Gus Mus menceritakan singkat bagaimana Gus Dur yang memperjuangkan khitah tidak segampang 'memakan lemper yang sudah pasti enak'. Khitah itu mengembalikan perjuangan NU ke spirit awal berdirinya jamiyah, yakni NU tidak berpolitik praktis. NU tidak boleh condong ke parpol atau capres tertentu. NU bukan daun bawang yang selalu doyong.
Berbahagialah warga nahdliyin (nahdiyin) yang masih memiliki anutan. Level Gus Mus setara negarawan kalau dalam pimpinan kenegaraan. Pemimpin tertinggi negara kiranya perlu sering menyimak seruan tokoh bangsa seperti Gus Mus. Benar bahwa nasihat Gus Mus spesifik untuk pimpinan NU. Namun, spiritnya bisa juga untuk pimpinan di Republik ini: menangkan Indonesia, bukan capres-cawapres tertentu. Pemimpin itu mesti tegak lurus, bukan doyong kanan doyong kiri seperti daun bawang.
Terima kasih dawuhnya, Gus. Matur nuwun, Yai.
RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.
SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.
INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.
Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.
PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).
PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah
VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai
APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.
INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.
ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.
SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved