Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

NU bukan Daun Bawang

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
31/1/2024 05:00
NU bukan Daun Bawang
MI/Ebet(Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group)

SAYA antusias dengan gaya KH Ahmad Mustofa Bisri menyentil pengurus NU soal netralitas dalam pilpres. Gus Mus, begitu Mustasyar NU itu biasa disapa, memakai cara guyon maton. Bercanda tapi mengena.

Mula-mula Gus Mus menyapa satu per satu pemimpin NU dalam perhelatan Konferensi Besar NU di Ponpes Al Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, itu. Gus Mus menyebut nama KH Miftahul Akhyar, Rais Aam (Rais Am) PBNU, juga Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, keponakannya sendiri. Saat menyebut nama Sekjen NU Saefullah Yusuf, Gus Mus tidak menyematkan kata 'kiai'. Gus Mus menyebut Gus Ipul dengan panggilan Ustaz Saefullah Yusuf.

Mungkin Gus Mus menilai Gus Ipul lebih layak dipanggil 'ustaz' ketimbang 'kiai' karena kompetensinya lebih pas sebagai 'ustaz'. Dari situ, candaan serius Gus Mus berlanjut ke inti persoalan. "Tadi saya mengira Pak Yai Miftahul Ahyar dan Yai Yahya Cholil akan menyinggung capres dalam pidatonya. Kalau sampai nyinggung capres, saya akan keluar (dari ruangan). Untung tidak," kata Gus Mus.

Pemimpin Ponpes Roudlotut Thalibin, Rembang, Jateng, itu merasa perlu menjaga NU dari segala tarikan. Atau, Gus Mus sebenarnya sudah tahu bahwa pemimpin struktural NU mulai doyong-doyong. Itu istilah yang dipopulerkan kolumnis NU Mahbub Djunaidi untuk menggambarkan sesuatu yang sudah tidak tegak lurus.

Dalam sebuah kolomnya, Mahbub menulis birokrasi yang dia sejajarkan dengan tubuh yang doyong layaknya daun bawang. Mahbub pernah menulis, 'Bagaimana jantungku tidak terganggu dan kepalaku nyut-nyutan? Ditudingnya aku ini seorang parvenu alias kere munggah bale, mendadak naik tahta padahal dari comberan. Apa tidak kurang ajar begitu itu? Aku yang birokrat tinggi menjadi cemoohan di atas mimbar. Yang benar aja dong'.

'Begitulah yang terjadi. Badanku rasanya bengkak-bengkak karena sengatan bertubi-tubi. Birokrat sih birokrat, tapi apa enaknya disudut-sudutkan seperti seekor kecoak? Mengertikah kamu sekarang apa sebab gigiku tanggal satu demi satu, rambutku tidak seikal dulu lagi, dan badanku sedikit demi sedikit doyong tak ubahnya daun bawang', lanjut Mahbub.

Kondisi tubuh yang rapuh, yang 'doyong tak ubahnya daun bawang', itulah yang dijaga Gus Mus agar tidak terus terjadi pada tubuh NU. Ancaman doyong, gigi tanggal, tubuh bengkak terjadi karena NU terkena tarikan politik 'copras-capres'. Gus Mus menyadari sepenuhnya bahwa yang disengat 'lebah politik' itu bukan cuma kaki atau tangan, melainkan juga sudah kepala.

Bagaimana tidak kepala yang disengat, kalau yang digoda dalam rupa-rupa tarikan itu Rais Aam dan Ketua Umum Dewan Tanfidziyah (Tanfiziah/eksekutif) NU. KH Miftahul Ahyar (rais am) dan KH Yahya Cholil Staquf pernah tampak doyong ke Prabowo-Gibran. Begitu pula sejumlah pemimpin NU di tingkat daerah.

Karena itu, Gus Mus sebagai mustasyar (penasihat NU) kiranya tidak tahan lagi untuk segera meniup peluit. Gus Mus juga mengarahkan telunjuk ke 'kepala' yang mulai terlihat 'bengkak' disengat lebah politik: rais am dan ketua umum. Gus Mus pun sempat me-mention kedua nama itu terkait dengan netralitas NU dengan memberi dawuh, "Tugas NU memenangkan Indonesia. Tidak ada urusan dengan capres."

Dawuh itu lugas. Tidak dibungkus, tidak juga dihaluskan alias eufemisme. Kelugasan itu kiranya sudah mendesak. Penghalusan sudah tidak perlu karena penghalusan berpotensi memunculkan salah tafsir dan sesat pikir.

Seperti yang ditulis Mahbub Djunaidi, "Membaca koran itu bukan seperti makan lemper yang sudah pasti enaknya. Misalnya, sering kali orang melewatkan halaman depan yang memuat ucapan-ucapan aneh dan klise. Misalnya, pembaca tidak tertarik lagi dengan istilah 'penyesuaian', karena kata itu sudah pasti berarti kenaikan harga, dan bukan sebaliknya. Seorang murid SD malahan punya usul yang amat progresif, bagaimana kalau lawan kata 'turun' diganti saja dengan 'sesuai' dan bukannya naik."

Seperti itulah sesat pikir yang barangkali dikhawatirkan Gus Mus. Karena itu, secara lugas Gus Mus mengisahkan khitah perjuangan NU. Gus Mus menceritakan singkat bagaimana Gus Dur yang memperjuangkan khitah tidak segampang 'memakan lemper yang sudah pasti enak'. Khitah itu mengembalikan perjuangan NU ke spirit awal berdirinya jamiyah, yakni NU tidak berpolitik praktis. NU tidak boleh condong ke parpol atau capres tertentu. NU bukan daun bawang yang selalu doyong.

Berbahagialah warga nahdliyin (nahdiyin) yang masih memiliki anutan. Level Gus Mus setara negarawan kalau dalam pimpinan kenegaraan. Pemimpin tertinggi negara kiranya perlu sering menyimak seruan tokoh bangsa seperti Gus Mus. Benar bahwa nasihat Gus Mus spesifik untuk pimpinan NU. Namun, spiritnya bisa juga untuk pimpinan di Republik ini: menangkan Indonesia, bukan capres-cawapres tertentu. Pemimpin itu mesti tegak lurus, bukan doyong kanan doyong kiri seperti daun bawang.

Terima kasih dawuhnya, Gus. Matur nuwun, Yai.



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik