Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Kebenaran itu Pahit

Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group
08/12/2023 05:00
Kebenaran itu Pahit
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

QULIL haqqa walau kana murran. Sampaikan kebenaran meskipun itu pahit. Itulah wasiat Nabi kepada seorang sahabat, Abu Dzar al Ghifari, untuk menjadi pedoman umat. Setidaknya ada tiga orang yang belakangan mencoba mengungkapkan kebenaran kendati sangat pahit buat orang lain.

Orang pertama ialah FX Hadi Rudyatmo. Mantan Wali Kota Surakarta yang kadang disapa Pak Brengos itu akhir-akhir ini kerap buka suara, suka ‘bernyanyi’, tentang hubungan masa lalunya dengan Presiden Jokowi. Masa lalu yang kurang enak didengar.

Rudy, misalnya, mengungkapkan bahwa Pak Jokowi ikut campur pencalonan putranya, Gibran Rakabuming Raka, di Pilkada Solo 2020. Gibran yang pernah bilang tak tertarik politik ternyata kepincut menjadi pemimpin politik. Sang bapak pun, masih kata Rudy, mendatangi dirinya yang Ketua DPC PDIP Solo soal keinginan itu.

Karena DPC sudah final mencalonkan kader banteng, Achmad Purnomo, Jokowi dan Gibran dipersilakan meminta jalan kepada Ketua Umum PDIP Megawati yang punya hak prerogatif. Dan, kita semua mengerti, ambisi Gibran menjadi wali kota akhirnya terealisasi.

Cerita belum selesai. Rudy bilang, karena dianggap berjasa mengantarkan Gibran menang, dia mendapat tawaran hadiah. Tak tanggung-tanggung, tali asih itu berupa kursi wakil menteri PUPR, tapi Rudy menolak.

Benarkah omongan Rudy? Dia memang sedang kecewa berat, sakit hati teramat tinggi, kepada Jokowi dan Gibran yang dinilai telah 'mengkhianati' partai. Orang yang patah hati katanya bisa aneh-aneh. Tapi orang sekelas Rudy kiranya tak sampai kehilangan akal, belum gendeng, untuk bicara yang tidak-tidak, memfitnah seorang presiden.

Jika omongan Rudy itu benar, kacau benar pengelolaan negara ini. Tak cuma soal inkonsistensi. Bagaimana bisa presiden seenaknya menjadikan jabatan sepenting wakil menteri sebagai dagangan, sebagai alat barter keinginan keluarganya?

Orang kedua yang mencoba menyampaikan kebenaran ialah Agus Rahardjo, Ketua KPK periode 2015-2019. Yang dia beberkan bahkan lebih gawat lagi. Katanya, Pak Jokowi pernah memerintahkan dirinya untuk menghentikan kasus korupsi proyek KTP elektronik yang menelikung ketua DPR saat itu, Setya Novanto.

Agus bercerita dipanggil Presiden tak seperti biasanya. Kalau biasanya selalu bareng dengan empat komisioner KPK lainnya, kali ini dipanggil sendirian. Begitu dia masuk, Pak Jokowi yang ditemani Mensesneg Pratikno sudah dalam keadaan marah.

“Karena baru saya masuk, beliau sudah teriak 'hentikan!'. Kan saya heran, hentikan, yang dihentikan apanya," begitu Agus berkisah. "Setelah saya duduk, ternyata saya baru tahu kalau yang suruh hentikan itu adalah kasusnya Pak Setnov, Ketua DPR pada waktu itu, mempunyai kasus e-KTP supaya tidak diteruskan," imbuhnya.

Benarkah pengakuan Agus? Cuma dia, Pak Jokowi, Pak Pratikno, dan tentu Tuhan, yang tahu. Yang jelas, Agus Rahardjo bukan orang sembarangan, kecil pula kemungkinan bicara sembarangan. Pak Agus kiranya belum sinting, masih waras, untuk tak seenaknya memfitnah seorang presiden.

Kalau testimoni Agus benar, amburadul betul pengelolaan Republik ini. Bagaimana bisa seorang presiden dapat serta-merta mengintervesi Ketua KPK dalam penegakan hukum kasus korupsi? Karena instruksi itu ditolak oleh Agus-kah kemudian ada gerakan masif untuk merevisi UU KPK, yang akhirnya menjadikan KPK di bawah rumpun eksekutif?

Orang ketiga yang mencoba jujur tentang relasinya dengan Jokowi ialah Sudirman Said. SS, begitu dia kerap disapa, mengaku juga pernah dimarahi Presiden. Gara-garanya, dia melaporkan Novanto kepada Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) pada November 2016 karena diduga mencatut nama Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla untuk meminta saham kepada PT Freeport Indonesia, atau kasus ‘papa minta saham’.

Presiden marah ke menteri hal yang lumrah. Presiden menegur jajaran kabinet juga sangat lumrah. Tapi, ketika kemarahan dan teguran itu dilayangkan saat anak buah sedang berusaha menjalankan tugas, rasanya kok tidak lumrah. Entah ada kaitannya atau tidak, SS kemudian diberhentikan dari Menteri ESDM pada 2016.

Benarkah klaim Sudirman Said? Yang saya tahu, dia adalah tokoh berintegritas. Meski beda posisi politik dengan Jokowi saat ini, kiranya dia belum edan untuk mengarang cerita buruk tentang presiden.

Istana telah membantah pernyataan Agus dan SS. Presiden malah balik bertanya, untuk apa, untuk kepentingan apa, hal itu diramaikan. Tidak apa-apa, mereka juga punya hak untuk menyampaikan kebenaran versinya.

Siddhartha Gautama berkata; tiga hal yang tidak dapat disembunyikan lama-lama ialah matahari, bulan, dan kebenaran. Tan Malaka bilang; secepat apa pun kebohongan, kebenaran pasti akan mengejarnya.

Saya sih yakin, para pembaca sudah pintar untuk meyakini siapa yang memang benar dan siapa yang cuma mengeklaim benar dalam perkara Jokowi, Rudy, Agus, dan SS. Becik ketitik ala ketara, begitu pitutur leluhur kita.



Berita Lainnya
  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.