Headline
DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.
DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.
Kumpulan Berita DPR RI
TERUS terang saya menjadi cupet nalar, pendek akal, kok ada orang di negeri ini yang mendukung Israel. Sungguh, hingga kini saya gagal paham, kok ada anak bangsa yang justru menghinakan Palestina dalam konflik dengan negeri Zionis itu.
Perseteruan di antara kedua bangsa memang bukan barang baru. Ia sudah berlangsung lama, sangat lama, setelah Israel menduduki tanah Palestina. Belakangan, ia kembali menjadi sorotan. Berawal dari serangan pejuang Hamas ke Israel, perang pun pecah di Gaza.
Dan, seperti biasa, seperti yang sudah-sudah, tentara Zionis membabi buta. Mereka lagi dan lagi mempertontonkan kebiadaban, memamerkan kebengisan, menebar maut di mana-mana di tiap sudut Gaza. Pembantaian lebih tepatnya. Genosida lebih tepat lagi. Ini bukan cuma kata pendukung Palestina, melainkan menurut para pakar HAM independen PBB.
Sejak Israel menyatakan perang pada 7 Oktober lalu, sudah sekitar 15 ribu orang di Gaza tak lagi bernyawa. Dari jumlah itu, 6.150 adalah anak-anak dan 4.000 perempuan. Belum lagi ribuan lainnya yang masih hilang tertimbun reruntuhan.
Israel tak pilih bulu. Mereka tak membedakan latar belakang yang harus dibunuh. Tenaga medis, yang menurut hukum humaniter internasional dilarang untuk diusik dalam perang, ikut jadi sasaran. Rumah-rumah sakit yang pantang disentuh dalam perang juga dihancurkan. Rumah sakit normalnya menjadi area penyembuhan, tapi di Gaza berubah menjadi zona kematian. Pun dengan tempat-tempat ibadah, baik masjid maupun gereja.
Kalau para pemimpin Amerika dan negara-negara Barat masih saja pro Israel, itu tak mengherankan. Mereka sekolam. Kalau tokoh-tokoh dunia berdarah Yahudi tetap mendukung Israel, itu tak aneh. Yang mengherankan, yang aneh, jika sikap pro dan dukungan serupa diberikan oleh sebagian dari kita, bangsa Indonesia.
Dan, keanehan itu secara kasatmata, terang benderang, diperlihatkan. Ada seorang aktivis perempuan yang saban tampil di layar kaca amat bersemangat menjadi die hard-nya Israel. Dia konsisten ngotot bahwa Israel benar, Palestina salah. Dalam dirinya mengalir darah Yahudi.
Seorang dosen, pegiat medsos tapi juga sering disebut buzzer dan kini menjadi juru bicara tim pemenangan salah satu pasangan capres-cawapres, juga mirip-mirip. Dia menyalahkan Hamas. Dalam sebuah talk show televisi, dia bahkan tak menganggap penting nestapa tiada henti, tiada tara, rakyat Palestina sebelum serangan Hamas itu. Duh....
Ada pula seorang warga Kabupaten Tangerang yang dalam videonya bilang ‘pendukung Palestina tak ada ot*knya, sedangkan pendukung Israel ada ot*knya’. Dia lalu meminta maaf setelah warga marah.
Terkini sebuah ormas di Sulawesi Utara unjuk dukungan kepada Israel. Dengan membawa bendera Bintang Daud, mereka bentrok dengan massa pendukung Palestina. Satu tewas dalam insiden ini.
Fakta-fakta itu hanya sedikit contoh dari banyaknya orang di Republik ini yang memihak Israel. Alasannya? Itulah yang membuat saya kehabisan nalar. Karena sentimen agama? Lah, di Palestina kan juga banyak yang beragama Kristen. Bahkan, gereja-gereja mereka ikut dihancurkan Israel.
Karena keyakinan bahwa Israel adalah bangsa pilihan? Lah, kalau manusia pilihan, kenapa seenak udelnya menganeksasi tanah manusia lain? Ini bukan kata saya lho. Ini kata PBB, lembaga resmi dunia, yang berulang kali mengeluarkan resolusi, tapi tak dianggap oleh Israel.
Menyikapi permusuhan Palestina-Israel mestinya memakai pendekatan kemanusiaan dan keadilan. Itulah yang dilakukan tokoh-tokoh besar. Mohandas Karamchand Gandhi atau Mahatma Gandhi, misalnya. Bapak Bangsa India ini beragama Hindu, tapi sebagai manusia mendukung Palestina. Dia pernah bilang, “Palestina adalah milik bangsa Arab, sama seperti Inggris milik bangsa Inggris atau Prancis milik bangsa Prancis.”
Pembaca pasti tahu Albert Einstein? Fisikawan pemenang Nobel ini menulis surat kecaman kepada orang-orang yang mendirikan negara Israel di tanah Palestina pada 14 Mei 1948. Dia berkata, “Ini akan menjadi kesedihan terbesar saya melihat Zionis melakukan banyak hal kepada orang Arab Palestina seperti yang dilakukan Nazi terhadap orang Yahudi.”
Selain itu, ada Nelson Mandela, pejuang dan pemimpin Afrika Selatan yang meruntuhkan apartheid. Meski beragama Kristen, dia lantang menentang penjajahan Israel. “Kami tahu betul bahwa kemerdekaan kami tidak lengkap tanpa kemerdekaan rakyat Palestina," begitu ujar Madiba suatu waktu.
Pemimpin Katolik dunia juga kerap menyampaikan simpatinya kepada rakyat Palestina. Paus Benekditus, umpamanya, mendukung penuh terbentuknya negara Palestina.
Belum cukup, tak sedikit umat Yahudi di berbagai belahan bumi membela Palestina. Rabbi Naftuli Flohr, amsalnya, memimpin aksi solidaritas untuk Palestina di New York. Mereka Yahudi beneran, bukan Yahudi pesek.
Hanya dengan bahasa manusia kiranya kita bisa merasakan penderitaan dan bersikap adil terhadap rakyat Palestina. Bukan dengan bahasa lain, khususnya bahasa agama.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.
HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.
DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.
RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved