Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
ROMANSA antara Joko Widodo dan sebagian pendukung fanatiknya tidak lagi seindah dulu. Ikatan kasih sayang di antara mereka mengendor hebat, kemesraan pun berubah menjadi kebencian. Malahan, ada yang bilang sudah muak.
Tidak ada frasa yang lebih sadis lagi daripada muak untuk menggambarkan buruknya sebuah hubungan. Muak bisa berarti jemu. Bisa juga merasa jijik sampai hendak muntah. Apakah itu artinya sekarang mereka jijik, ingin muntah dengan Jokowi? Apakah memang tak ada lagi secuil pun rasa cinta yang tersisa kepada Jokowi hingga harus ada tagar #KamiMuak?
Jokowi memang fenomena seorang presiden yang unik, sangat unik. Dia amat dicinta, tapi juga sangat dibenci. Mereka yang bersimpang jalan dengan Jokowi, bencinya setengah mati. Apa pun yang dilakukan Jokowi salah. Yang benar saja dianggap salah, apalagi yang benar-benar salah.
Di lain sisi, mereka yang sejalan dengan Jokowi, cintanya juga setengah mati. Mereka memuja Jokowi bak manusia setengah dewa. Jokowi tak pernah dan tak bisa salah. Semua kebijakan Jokowi dianggap benar kendati nyata-nyata salah.
Pembelaan para pecinta Jokowi luar biasa. Jangankan mengkritik apalagi mengecam, para pihak yang hendak memberikan masukan kepada Jokowi tak jarang dianggap lawan. Maka, mereka bakal menyerang habis-habisan. Die hard Jokowi, itulah istilah buat para pemuja Jokowi.
Namun, itu kisah lama. Kini, mereka yang dulu cinta buta pada Jokowi, yang selalu gigih membela, berbalik mencerca. Jokowi tak lagi sebagai idola, justru dianggap sebagai sosok yang bernoda cela. Jokowi bukan lagi panutan, malah sebaliknya harus dilawan.
Mereka menilai Jokowi telah menyesatkan diri dari jalur reformasi. Jokowi dianggap menjerumuskan diri dalam dinasti politik. Musababnya, apalagi kalau bukan pembiaran anak-anaknya terlibat dalam perburuan kekuasaan. Semua kiranya paham, putra sulung Gibran Rakabuming Raka yang katanya tak tertarik terjun ke politik ialah Wali Kota Surakarta. Lalu, sang menantu, Bobby Nasution, menjadi Wali Kota Medan.
Seakan tak mau ketinggalan, putra bungsu Kaesang Pangarep memimpin PSI secara kilat, baru dua hari menjadi kader langsung ketua umum. Tidak ada di mana pun di kolong langit ketua umum partai yang seperti itu. Kaesang juga pernah berencana maju dalam Pilkada Depok tahun depan.
Belum cukup, Gibran ramai disebut bakal berkontestasi di Pilpres 2024 sebagai cawapres. Karena terkendala usia, institusi negara yang mulia, Mahkamah Konstitusi yang diketuai sang paman pun dimanfaatkan.
Tak cuma kita, publik luar negeri memberikan atensi tersendiri soal ini. Constitutional Court Clears Way for Jokowi Dinasty, begitu judul berita laman Sydney Morning Herald tentang putusan MK. Indonesia court clears pathway for Jokowi dinasty, demikian The Australian bilang. Adapun Bloomberg memajang judul Indonesia Court Ruling Enables Jokowi's Son to Run as VP.
Kuoso nggendhong lali. Kekuasaan bisa membuat orang lupa. Jangan bicara soal aturan karena memang tidak ada ketentuan yang melarang anak atau menantu presiden menjadi wali kota. Tak ada regulasi yang dapat menghalangi putra kepala negara mak bendunduk menjadi ketua partai. Namun, ada etika, ada fatsun, jangan aji mumpung. Mumpung bapaknya sedang berkuasa, anaknya juga mesti berkuasa.
Dalam konteks itu, saya setuju dengan mereka yang dulu memuji, tetapi kini mengkritik Jokowi. Persoalannya, apakah mereka menolak dinasti politik Jokowi benar-benar dari hati? Sik..sik..sik, tunggu dulu. Seorang kawan menulis di dinding medsosnya kira-kira begini; Gibran Pilwalkot. Elu: Dinastinya dmn? Gibran Cawapres. Elu: Ini baru dinasti. Gue: Rungkad elu
Ya, kenapa baru sekarang mempersoalkan politik dinasti Jokowi? Dulu ke mane aje? Kenapa tidak protes ketika Gibran bertarung di Pilkada Surakarta 2020? Kenapa kalian malah membela Gibran saat itu? Kenapa kalian justru mencela habis-habisan pihak-pihak yang mengkritik Gibran dan Pak Jokowi kala itu?
Atau, kenapa yang sekarang marah-marah tak protes ketika Kaesang berkehendak maju Pilkada Depok? Kenapa kalian woles-woles saja, tapi sekarang kebakaran jenggot meski tak punya jenggot?
Ada lagi komentar seorang netizen. ''Kalau Gibran jadi cawapresnya Pak Ganjar, kira-kira dianggap politik dinasti gak ya?'' Ini komen cerdas. Jangan-jangan, mereka marah hanya karena Gibran akan nyawapres, tapi untuk capres lain. Jangan-jangan, seperti sebelumnya, mereka akan kompak menyanyikan lagu setuju jika Gibran dan Pak Jokowi tetap bersama jagoannya.
Jika memang itu adanya, mereka bukanlah pejuang, tapi perusak demokrasi. Entah itu influencer kelas hiu, buzzer kelas ular, wartawan, aktivis, budayawan, atau siapa pun dia, kalau sekarang menggugat politik dinasti Jokowi lantaran punya kepentingan lain, sontoloyo namanya.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved