Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAIN soal tuduhan pelanggaran HAM, masalah polusi udara menjadi ancaman serius pelaksanaan Olimpiade Beijing, Tiongkok, 2008 silam. Pesta olahraga terbesar sedunia edisi ke-29 itu bahkan sempat diragukan bisa dihelat sesuai dengan jadwal.
Saking buruknya kualitas udara di Beijing kala itu, Komite Olimpiade Internasional (IOC) kepikiran untuk membatalkan, atau setidaknya menunda, perlombaan beberapa cabang olahraga. Utamanya yang terkait dengan ketahanan atlet seperti maraton dan balap sepeda jarak jauh.
Selain digelar di luar ruangan, kesehatan atlet yang mutlak memaksimalkan endurance bisa berada dalam bahaya karena pada saat bersamaan menghirup udara kotor. Kotor lantaran polusi di ibu kota Tiongkok itu luar biasa parah.
"Memang berisiko untuk cabang ketahanan yang memakan waktu lebih dari 1 jam," ujar Hein Verbruggen, Ketua Komisi Koordinasi IOC saat itu, sekitar empat bulan sebelum Olimpiade Beijing berlangsung.
Pemerintah Tiongkok tak tinggal diam. Langkah radikal diambil untuk membersihkan udara Beijing. Setengah dari 3,5 juta mobil di jalanan Beijing dirumahkan sesaat. Kendaraan dari luar kota dilarang masuk. Proses industri kawasan ibu kota dan lima provinsi sekitar Beijing dihentikan sementara. Tujuannya satu, yakni agar emisi terkendali, agar polusi bisa dikurangi. Tiongkok tak mau nama mereka tercoreng gegara Olimpiade terganggu oleh buruknya kualitas udara.
Upaya itu tak sia-sia. Tatkala Olimpide digelar pada Agustus 2008, polusi Beijing turun dengan indeks kualitas udara (AQI) berindikasi 'baik'. Saya menjadi saksi langsung betapa akhirnya Olimpiade berlangsung dengan sukses, sangat sukses.
Polusi udara di Beijing sebenarnya masalah lama, sejak 1998. Lalu, Olimpiade 2008 menjadi momentum untuk bersih-bersih. Beragam kebijakan dibuat dan dilaksanakan. Kendaraan berbasis tenaga listrik dimasifkan, industri berbasis bahan bakar fosil ditekan. Tak percuma, laporan PBB 10 tahun kemudian menyebutkan kadar polusi di sana turun 35%. Itulah penurunan terbesar dan paling drastis.
Pada 24 Juli 2018, udara di Ibu Kota Jakarta buruk, sangat buruk. Ia termasuk kota paling berpolusi versi pemantau kualitas udara AS bernama Air Visual. Ia hanya kalah ketimbang Krasnoyarsk, Rusia, dan Tel Aviv Yavo, Israel. Padahal, tak lama lagi Jakarta menjadi tuan rumah Asian Games 2018, pesta olahraga terbesar se-Asia.
Pemerintah Jakarta dan Indonesia tak tinggal diam. Beberapa kebijakan diambil, semisal pembatasan dan pengaturan kendaraan bermotor. Hasilnya, meski tak terlalu baik, udara Jakarta selama Asia Games tergolong aman. Saya pun menjadi saksi betapa Asian Games untuk kali kedua di Indonesia itu berlangsung sukses, amat sukses.
Namun, beda Tiongkok lain Indonesia. Kalau Beijing menjadikan Olimpiade 2008 sebagai tonggak untuk membersihkan udara, Jakarta tidak. Tidak ada langkah lanjutan yang progresif setelah Asian Games berlalu. Industri dibiarkan kembali menebar racun. Knalpot mobil dan motor pun kembali leluasa menyemburkan asap berbahaya.
Coba kita simak. Pada 2020 terbit Peraturan Gubernur DKI Jakarta No 66 yang mewajibkan uji emisi bagi kendaraan bermotor yang telah berumur tiga tahun atau lebih. Denda bagi pelanggar cukup besar, Rp250 ribu untuk motor dan Rp500 ribu untuk mobil, tapi itu cuma di atas kertas. Faktanya, pelaksanaannya? Sama sekali tak terdengar.
Peraturan bagi industri untuk tak sembarangan membuang asap juga sudah lama ada. Mereka, misalnya, diwajibkan melengkapi continuous emission monitoring system. Namun, penerapannya? Nyaris tak terasa.
Karena itu, tak mengherankan jika polusi tiada henti mencemari udara Jakarta dan sekitarnya, termasuk belakangan ini. Bahkan, berkali-kali udara Jakarta menjadi juara terburuk sejagat. Warga cemas akan sesak napas dan penyakit lainnya. Presiden Jokowi malah dikabarkan batuk-batuk selama empat minggu imbas dari udara Jakarta yang sakit.
Uthlub al-'ilm walau bi ash-shin. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Itu ajaran lama yang kiranya tetap relevan, termasuk dalam hal bagaimana mengatasi polusi di Jakarta.
Urusan bersih-bersih udara, Tiongkok patut dijadikan contoh. Mereka bisa menanggalkan predikat kota terpolusi karena punya komitmen dan juga konsistensi. Sebaliknya, para pejabat di negeri ini masih saja doyan hangat-hangat tahi ayam. Hangatnya cuma sebentar lalu dingin. Bersungguh-sungguh hanya di awal kemudian abai.
Itulah yang publik, setidaknya saya, khawatirkan dalam penanganan polusi udara di Jabodetabek saat ini. Mereka kini luar biasa sibuk, tapi bisa jadi tak peduli lagi ketika polusi teratasi. Padahal, tanpa penanganan total dan berkesinambungan, polusi udara pergi hanya untuk sementara lalu kembali.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved