Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Biaya Mahal Investasi

Abdul Kohar, Dewan Redaksi Media Group
23/8/2023 05:00
Biaya Mahal Investasi
Abdul Kohar, Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

MENJADI negara yang ramah terhadap investasi kiranya masih jadi kendala besar bagi Indonesia. Benar bahwa realisasi investasi kian meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Tapi, pertumbuhan investasi masih tidak seeksplosif yang seyogianya bisa diraih. Tingkat pertumbuhannya pun menunjukkan tren melambat.

Bukan cuma itu, kualitas investasi juga belum menggembirakan. Apa yang dipekikkan bahwa investasi kita terus meningkat, laiknya auman srigala: melengking di tengah rimba yang sebenarnya sunyi. Ada situasi yang sebenarnya tidak berbanding lurus antara obral kemudahan dan apa yang dihasilkan.

Pembentukan modal tetap bruto di negeri ini terus melambat. Padahal, pemerintah telah menempuh berbagai cara untuk menggenjot masuknya investasi ke Tanah Air, termasuk menerbitkan Undang-Undang Cipta Kerja. Pemerintah juga telah menggelontorkan sejumlah insentif dan fasilitas istimewa untuk menarik investasi.

Bahkan, Presiden Joko Widodo sudah menyempatkan datang ke kantor pengusaha kelas kakap dunia. Namun, bukannya meroket, pertumbuhan investasi tetap seret. Porsi investasi terhadap produk domestik bruto (PDB) turun terus, dari di angka 30% menjadi tinggal 28%. Pertumbuhan ekonomi pun seperti labirin: berputar-putar di kisaran 5%, padahal kita butuh ekonomi tumbuh 7%.

Lantas, di mana letak masalahnya? Sejumlah analis ekonomi menyebut ICOR (incremental capital output ratio) yang melonjak tajam menjadi biang keroknya. ICOR merupakan rasio antara investasi di tahun yang lalu dan pertumbuhan output regional. ICOR bisa menjadi salah satu parameter yang menunjukkan tingkat efisiensi investasi di suatu negara. Semakin tinggi nilai ICOR, semakin tidak efisien suatu negara untuk investasi.

Dalam tujuh tahun terakhir, rasio ICOR Indonesia bertengger di level 6,3 bahkan lebih. ICOR yang tinggi tersebut membuat investasi di Indonesia melambat. Bahkan pada 2011-2015, ICOR Indonesia sempat memburuk dari 5,02 menjadi 6,64.

Coba bandingkan dengan rasio ICOR di sejumlah negara ASEAN. Rasio ICOR Malaysia sebesar 4,6, Filipina 3,7, Thailand 4,5, dan Vietnam 4,6. Itu berarti ekonomi negara tetangga kita lebih efisien, bisa meningkat cepat, dan investasi bisa mengalir lebih deras.

Selama perang dagang AS vs Tiongkok, investor lebih memilih merelokasi pabriknya ke Vietnam yang ICOR-nya hanya 4,6. Hal itu karena ICOR Indonesia yang kelewat tinggi. Bila ditelusuri, salah satu penyebab tingginya ICOR Indonesia ialah korupsi dan pungli yang mahal, birokrasi masih menghambat, produktivitas tenaga kerja, hingga soal biaya logistik yang terbilang menguras kantong pelaku usaha. Negara tetangga tidak perlu teriak please invest in my country, investor sudah paham sendiri soal hitungan biaya investasi dan risiko.

Bila dibandingkan dengan negara-negara Asia, investasi Indonesia juga lemah dalam menggerakkan industrialisasi. Kandungan teknologi dalam pembentukan modal juga relatif rendah sehingga tidak terjadi peningkatan produktivitas secara berarti.

Dalam kajian ekonom Faisal Basri, pada lima tahun terakhir sekitar tiga perempat pembentukan modal berwujud bangunan, sedangkan yang dalam bentuk mesin dan peralatan hanya sekitar 10%. Bangunan semata tidak menghasilkan output fisik tanpa kehadiran mesin dan peralatan, tidak pula mampu mendorong ekspor barang. Seperti itulah wajah investasi di negeri ini.

Tidak mengherankan bila signifikansi pertambahan investasi terhadap kemampuan menyerap kerja kian merosot. Pada 2013, sepuluh tahun lalu, setiap Rp1 triliun investasi masih mampu menyerap lebih dari 4.500 tenaga kerja. Sewindu kemudian, Rp1 triliun investasi hanya mampu menyerap kurang dari 1.400 tenaga kerja, merosot tinggal sepertiganya saja.

Negeri ini butuh keringat lebih deras lagi untuk memperbaiki itu semua. Bila tidak, secara peringkat kemudahan berinvestasi Republik ini terus merosot. Seperti tahun lalu, saat Indonesia mencatatkan penurunan peringkat negara dengan foreign direct investment atau investasi asing langsung terbesar, yakni dari peringkat 15 pada 2020 ke posisi 20 di 2021.

Investasi asing langsung yang masuk memang meningkat. Tapi, peningkatannya masih kalah bila dibandingkan dengan sejumlah negara lain. Peningkatan yang jauh lebih akseleratif negara-negara lain dalam menggaet investasi asing itu tanda bahwa mereka jauh lebih kencang berlari, lebih sat set dalam berbenah diri. Investasi tidak cukup hanya dengan auman, ia butuh gerak gesit melakukan perubahan.



Berita Lainnya
  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.