Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Insan Akademis

Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group
15/8/2023 05:00
Insan Akademis
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

DUNIA kampus adalah dunia istimewa. Bangsa ini banyak menaruh harapan kepada komunitas akademik yang menduduki pendidikan tinggi ini. Mereka lepas dari masa pancaroba selama sekolah menengah atas, masa ketika pemikiran dan sikap bisa berubah-ubah, tidak stabil. Usia mereka ialah peralihan dari masa kanak-kanak ke dewasa. Masa peralihan itu menyebabkan perubahan biologis, psikologis, dan sosial. Ibarat musim, pancaroba ialah peralihan musim, dari musim penghujan ke musim kemarau atau sebaliknya.

Masa mahasiswa ialah masa yang kritis dalam berpikir karena mereka menemukan hal-hal baru secara kognitif di bangku perkuliahan. Kritis bisa karena terbiasa setiap hari berdiskusi untuk mempertahankan tugas individu atau kelompok di kelas. Kritis bisa pula pengaruh dari dosen yang membongkar mindset mahasiswa tentang suatu hal. Dari berbagai teori tentang berpikir kritis dapat disimpulkan bahwa critical thinking ialah proses mental untuk menganalisis atau mengevaluasi informasi. Dalam ranah media sosial, saring sebelum sharing ialah bagian dari cara berpikir kritis.

Pengalaman saya menghadapi dosen mata kuliah filsafat pendidikan terkaget-kaget karena beliau berhasil memorak-porandakan cara berpikir dan keyakinan saya tentang suatu hal. Namun, beliau mengajarkan saya memahami keyakinan tentang suatu hal secara hakikat sehingga saya mengetahui sesuatu secara mendasar. Berpikir filsafat ialah untuk memahami hakikat dari kenyataan dalam rangka menemukan kebenaran. Jalannya ialah dengan proses berpikir secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

Dunia kampus memiliki keistimewaan karena mahasiswa diberikan kebebasan akademik, mimbar akademik, dan otonomi keilmuan. Semua itu diberikan agar mahasiswa memiliki kemampuan untuk berpikir kritis (critical thinking), analitis, sistematis, mendasar, komprehensif, dan bertanggung jawab.

Karena itu, sungguh mengherankan apabila mahasiswa berpikir bodoh dan bertindak di luar nalar, seperti terjebak investasi ilegal dan pinjaman online (pinjol).

Sebanyak 121 mahasiswa terjebak pinjol karena mengikuti investasi ilegal. Mereka terjerat 197 pinjaman dengan total tagihan peminjaman mencapai Rp650,19 juta, dengan pinjaman tertinggi Rp16,09 juta. Selain itu, sebanyak 4.000 mahasiswa baru Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Surakarta mendaftarkan akun di aplikasi pinjol yang diduga dipaksa seniornya di Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN Surakarta.

Ada pula kasus mahasiswa jurusan sastra Rusia UI membunuh adik tingkatnya di satu jurusan lantaran terjerat pinjol karena mengalami kerugian Rp80 juta dalam investasi kripto. Pelaku dan korban tak ada masalah, bahkan seperti kakak-adik. Kasus itu membuat miris terjadi di kampus perjuangan yang mentereng namanya.

Boleh jadi kasus-kasus pinjol di atas fenomena gunung es kasus pinjol menjerat mahasiswa. Pasalnya, perusahaan financial technology (fintech) lending alias pinjol sangat mudah diakses siapa pun. Banyak debitur karena kepepet atau gaya hidup konsumtif tak menyadari bunga yang mencekik dari pinjol. Bunga pinjaman harian pinjol dari 1%-4% per hari. Sementara itu, bunga yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hanya 0,4%/hari.

Namun demikian, urusan dengan pinjol bisa runyam dan memalukan jika debitur telat membayar pinjaman. Jika debitur telat membayar, perusahaan pinjol tidak segan-segan untuk menyebarkan data tunggakan ke seluruh nomor kontak yang dimiliki sang debitur. Jika penyebaran data tunggakan yang disebar tak digubris debitur, penagih utang (debt collector) akan menyatroni rumah, kantor, dan beberapa tempat lain yang biasa dikunjungi debitur. Sungguh menyeramkan.

Mahasiswa memang menjadi sasaran empuk pinjol. Celakanya, tingkat literasi keuangan di kalangan pelajar dan mahasiswa sebesar 47,56% persen atau di bawah rata-rata nasional yang sebesar 49,68%. Melihat kondisi itu seharusnya pihak kampus bekerja sama dengan OJK lebih intensif menyosialisasikan bahaya pinjol ke mahasiswa.

Yang terpenting kampus harus meningkatkan kecerdasan dan sense of crisis mahasiswa mereka. Selain itu, semangat kewirausahaan (entrepreneurship) mahasiswa harus dibangkitkan agar mereka memiliki kemandirian secara ekonomi. Hal itu sangat penting jika mereka lulus kelak bisa menciptakan lapangan kerja, bukan memburu lapangan kerja yang memang rasionya sudah tak seimbang. Terlebih korporasi saat ini lebih mengedepankan efisiensi dengan teknologi canggih (otomatisasi) ketimbang SDM yang gemuk.

Kampus seyogianya menciptakan mahasiswa sebagai insan akademis yang memiliki spirit sebagai agent of change (agen perubahan) dan guardian of value (penjaga nilai) di masyarakat. Namun demikian, sikap akademis mahasiswa tergantung pada iklim akademis yang dibangun pihak kampus dan Kemendikbud-Ristek. Jika fenomena pemberian gelar doktor/profesor kehormatan dibiarkan merajalela demi kepentingan politik jangka pendek di negeri ini, hal itu sama dengan melumpuhkan dan melemahkan budaya akademik yang menghargai akal sehat, ilmu pengetahuan, dan budi pekerti yang luhur. Tabik!



Berita Lainnya
  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.