Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Pertumbuhan dan Penyerapan

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
09/8/2023 05:00
Pertumbuhan dan Penyerapan
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

KITA selalu memiliki celah untuk mendengarkan kabar baik dalam situasi apa pun. Celah itulah yang bakal terus memelihara harapan kita di tengah sinyal optimisme yang kian meredup. Banyak perkara ekonomi masih meredupkan cahaya optimisme itu meski tidak juga sampai membuatnya mati.

Maka dari itu, negeri ini makin butuh banyak berita positif agar sinar harapan terus menyala. Salah satu sinyal kegembiraan itu mestinya datang saat mendengar kabar pertumbuhan ekonomi kita di triwulan kedua tahun ini mencapai 5,17% (tahun ke tahun). Itu capaian yang lebih baik ketimbang pertumbuhan triwulan pertama 2023 yang 5,03%. Selain itu, angka pertumbuhan ekonomi tersebut juga sedikit lebih tinggi daripada prediksi berbagai lembaga.

Jadi, kita mestinya layak sedikit bergembira dengan situasi itu. Tapi, tetap bahwa kegembiraan kita kiranya secukupnya saja. Kita, minimal saya, tidak cukup berani mengobral kegembiraan atas berita itu karena situasinya masih mencemaskan. Dunia masih berduka karena ketidakpastian ekonomi yang justru kian pasti.

Selain itu, wajah perekonomian global juga masih murung. Di sisi lain, dunia pun tengah dihinggapi sindrom 'SDM', alias 'selamatkan diri masing-masing'. Itu yang kini terjadi pada proteksi ekspor pangan sejumlah negara produsen pangan utama dengan alasan menyelamatkan setok dalam negeri dari krisis pangan yang makin menjadi-jadi.

Di dalam negeri, setiap rilis data perekonomian dari Badan Pusat Statistik mesti diiringi dengan sikap skeptis: apakah capaian pertumbuhan itu sudah berbanding lurus dengan penyerapan lapangan pekerjaan dan kesejahteraan. Akan terasa tragis bila capaian pertumbuhan ekonomi berbanding terbalik dengan tingkat ketimpangan dan angka pengangguran.

Pada kenyataannya, itulah pekerjaan rumah yang masih terus belum bisa dibereskan hingga hari ini. Tingkat ketimpangan yang tecermin dari data rasio Gini menjelaskan secara gamblang bahwa capaian pertumbuhan 5% dalam tujuh triwulan berturut-turut tidak memadai untuk memangkas ketimpangan. Rasio Gini justru naik, dari 0,381 pada September 2022 menjadi 0,388 pada Maret tahun ini.

Itu baru dilihat dari rasio Gini secara makro. Bila kita detailkan lebih mikro, akan kian terlihat betapa besar ketimpangan sedikit orang kaya dengan mayoritas kelas menengah dan bawah. Jumlah orang kaya yang mampu menambah tabungan mereka (tabungan Rp5 miliar ke atas) terus tumbuh, sedangkan tabungan orang miskin dan kelas menengah (di bawah Rp3 juta) terus mengempis.

Pekerjaan yang juga harus segera dibereskan ialah seberapa besar pertumbuhan ekonomi yang kita capai berbanding lurus dengan tingkat penyerapan kerja. Itu terkait dengan kualitas pertumbuhan ekonomi. Sepuluh tahun lalu, tiap 1% pertumbuhan ekonomi masih mampu menyerap maksimal 300 ribu tenaga kerja. Tapi, dalam dua tahun terakhir, 1% pertumbuhan hanya sanggup menyerap maksimal 140 ribu tenaga kerja.

Mengapa bisa begitu? Sejumlah analisis menunjukkan pertumbuhan positif belum mampu menciptakan banyak peluang penyerapan tenaga kerja karena sektor-sektor yang biasanya tinggi penyerapan tenaga kerjanya tidak tumbuh tinggi pada beberapa kuartal terakhir. Berdasarkan data ketenagakerjaan per Februari 2023, tercatat mayoritas tenaga kerja Indonesia berada di sektor pertanian mencapai 29,36%, sektor perdagangan 18,93%, dan industri pengolahan 13,8%.

Pertumbuhan ketiga sektor itu bukanlah yang paling tinggi dalam beberapa kuartal terakhir. Hampir selalu andalan pertumbuhan ekonomi kita ialah konsumsi rumah tangga. Hingga kini, kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap produk domestik bruto (PDB) lebih dari separuh, yakni 53,3%. Sudah begitu, mereka yang banyak membelanjakan uang untuk konsumsi ialah kalangan menengah ke atas.

Hal serupa terjadi pada korelasi antara naiknya angka investasi dan tingkat penyerapan yang kian merosot dari tahun ke tahun. Pada 2013, setiap Rp1 triliun investasi masih bisa menyerap hingga lebih dari 4.500 tenaga kerja. Pada 2021, tiap Rp1 triliun investasi hanya mampu menyerap 1.340 orang tenaga kerja, alias merosot tinggal sepertiganya.

Kendati nilai investasi dalam beberapa tahun terakhir ini terus melejit, penciptaan lapangan kerja justru turun signifikan. Reformasi struktural lewat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dengan berbagai langkah deregulasi dan kemudahan bagi dunia usaha belum membuahkan hasil sesuai janji. Padahal, rangkaian deregulasi tadi dijanjikan bakal mendatangkan kepastian bagi investor, sekaligus kepastian penciptaan lapangan kerja dan penyerapan tenaga kerja.

Wajar belaka bila dari 138 juta orang yang bekerja, masih ada 35% orang yang bekerja paruh waktu, bahkan setengah menganggur. Belum lagi kalau kita lihat komposisi antara pekerja formal dan pekerja sektor informal, kesenjangan itu jelas menganga. Dari 138 juta pekerja, 60% lebih bekerja di sektor informal. Jumlah mereka pun terus bertambah.

Karena itulah, setiap kabar lumayan baik soal pertumbuhan ekonomi seyogianya tidak usah buru-buru membuat kita bertempik sorak. Kita mesti berani jujur untuk terus-menerus mempertanyakan sejauh mana capaian pertumbuhan ekonomi itu selekas mungkin mengatasi ketimpangan, menyediakan pekerjaan, syukur-syukur mewujudkan jalan menuju kesejahteraan.



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik