Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Tua sebelum Kaya

Abdul Kohar, Dewan Redaksi Media Group
15/7/2023 05:00
Tua sebelum Kaya
Abdul Kohar, Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

TIGA tahun lalu, Benjamin Mark Bland menulis buku biografi politik berjudul Man of Contradictions: Joko Widodo and the Struggle to Remake Indonesia. Di salah satu pembahasannya, mantan Direktur Program Asia Tenggara di Lowy Institute itu menulis kalimat yang menjadi populer di kalangan ekonom kita, "Indonesia always disappoints. It disappoints the optimists and it disappoints the pesimists too."

Kalimat itu artinya, "Indonesia selalu mengecewakan. Mengecewakan yang optimistis, juga mengecewakan yang pesimistis." Mereka yang pesimistis kecewa karena ramalan mereka salah. Kaum pesimis kerap menujum bahwa dalam hitungan satu dekade sejak badai krisis 1998, Indonesia akan runtuh. Nyatanya, dua setengah dekade kemudian, Indonesia tetap eksis dengan perekonomian yang terus berkembang.

Adapun kekecewaan kaum optimis dipicu oleh harapan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai dua digit yang tidak kunjung terwujud. Jangankan tumbuh dua digit, bisa mendekati rata-rata pertumbuhan ekonomi 7% per tahun sebagaimana janji awal tiap rezim saja masih jauh panggang dari api. Bahkan, makin ke sini, puncak pertumbuhan ekonomi bergeser dari 7% ke angka rata-rata 5% per tahun.

Repotnya lagi, capaian pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% itu kerap dianggap sudah 'lumayan' oleh pemerintah. Kalimat yang kerap digunakan, “Kita patut bersyukur, di tengah negara lain susah tumbuh, ekonomi kita masih bisa bergerak di angka pertumbuhan lebih dari 5%.”

Bagi sebagian orang, kalimat tersebut bisa dimaknai cukup puas atas capaian yang diraih. Padahal, bagi Indonesia yang bercita-cita menjadi negara maju, pertumbuhan 5% jelas tidak cukup. Capaian itu tidak akan bisa menolong kita keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah menuju negara berpendapatan tinggi.

Berkali-kali para analis mengingatkan bahwa Indonesia akan sulit menghindari middle income trap bila tidak ada upaya radikal untuk menciptakan daya ungkit pertumbuhan. Hingga saat ini, Indonesia sudah mengarungi tiga dekade menjadi negara berpenghasilan menengah. Bila itu terus terjadi, bisa-bisa negara ini 'tua sebelum kaya'.

Dalam banyak mimbar pidato, para pejabat di negeri ini kerap mengapungkan harapan terhadap bonus demografi. Usia produktif yang melimpah di Indonesia itu akan terjadi di 2030. Pada tahun itu, hampir 70% penduduk Indonesia merupakan kelompok usia produktif (15-64 tahun), yang mampu menghasilkan banyak hal dan punya potensi besar mendongkrak negeri ini menjadi negara berpendapatan tinggi.

Tapi, hari ini, tujuh tahun menjelang puncak bonus demografi, kita belum menemukan peta jalan yang jelas bagaimana memanfaatkan usia produktif itu untuk keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah. Padahal, bonus demografi ini hanya akan bertahan hingga 2050. Setelah itu, secara perlahan tapi pasti, kita masuk ke fase aging population atau era penduduk berusia tua.

Alhasil, kita cuma punya durasi 27 tahun untuk benar-benar memanfaatkan bonus demografi. Tapi, proses meratakan jalan menuju titik itu mestinya sudah gamblang sejak hari ini. Kalau gagal dirumuskan hari ini, jebakan negara berpendapatan menengah akan berlanjut ke episode negeri yang tua sebelum kaya.

Kiranya Jepang dan Korea Selatan bisa menjadi inspirasi bagaimana mereka kini berada dalam situasi 'menuju tua, tapi sudah kaya'. Kedua negara itu mampu memanfaatkan ruang melimpahnya kelompok usia produktif mereka secara maksimal dua dekade lalu. Hasilnya, saat memasuki era aging population, rata-rata pendapatan per kapita penduduk Jepang sudah di US$33 ribu, sedangkan Korea Selatan terpaut tipis di US$32 ribu.

Sementara itu, Indonesia yang baru saja ditetapkan oleh Bank Dunia sebagai negara kelas menengah atas, pendapatan per kapitanya baru mencapai US$4,5 ribu, alias seperdelapan dari Jepang dan Korsel. Bila ekonomi kita tumbuh terus sampai 2050, dengan kondisi pertumbuhan ekonomi 5% sampai 6%, pendapatan per kapita kita masih di bawah US$30 ribu.

Bila negeri ini hendak keluar dari kemelut menjadi tua sebelum kaya, janji mengembalikan rata-rata pertumbuhan ekonomi 7% seperti sebelum saat krisis 1998 harus segera ditunaikan. Berbangga atas stempel 'negara berpenghasilan menengah atas' yang diberikan Bank Dunia sah-sah saja.

Tapi, menepuk dada atas capaian itu hanya akan melanggengkan kita dalam kubangan yang sama bertahun-bertahun. Lalu, tahu-tahu negeri ini sudah 'renta sebelum sejahtera'.

Saya jadi ingat sebuah novel berjudul Lelaki Tua dan Laut karya sastrawan peraih Nobel, Ernest Hemingway, yang mengisahkan nelayan tua miskin bernama Santiago yang dijuluki salao atau 'yang paling sial di antara yang sial'. Nelayan 85 tahun itu tetap melaut. Harapannya tidak pernah pudar tahun demi tahun hingga ia tua dalam kemiskinan dan kesepian.



Berita Lainnya
  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.