Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
KETIKA hari hendak berganti pada 2 April lalu, seorang teman sekantor tetiba mengirim pesan WA. Isinya, ''Itu komik bung sentil gpp?'' Dia mempertanyakan narasi komik yang biasa terbit di koran kami saban Minggu itu.
Saya yang kebetulan piket kemudian melihat, mencermati, dan menyepakati bahwa isi komik itu 'bermasalah'. Komik Bung Sentil memang identik dengan kritik, sentil sana sentil sini, tetapi kiranya kali ini lebih menjurus ke tendensi. Ia 'menyerang' seorang tokoh. Saya pun memberitahukan ke pimpinan untuk minta arahan. Singkat cerita, komik tersebut tak jadi kami terbitkan.
Pada Sabtu, 24 Juni, lalu, sosok di balik komik Bung Sentil melakukan hal yang sama, tapi dengan cara berbeda di ruang dan waktu yang berbeda pula. Bukan lewat komik, dia menuangkan ekspresinya lewat puisi pada acara puncak peringatan Bulan Bung Karno di Stadiun Utama Gelora Bung Karno Senayan.
Sosok itu ialah Bambang Ekoloyo Butet Kartaredjasa. Butet ialah seniman dengan banyak kebisaan. Dia aktor, penulis, pembawa acara, pemain teater. Sebagian orang bahkan menempatkannya sebagai budayawan.
Dalam puisinya di pemuncak Bulan Bung Karno itu, Butet menyinggung banyak hal terkait dengan kontestasi Pilpres 2024. ''Di sini semangat meneruskan, di sana maunya perubahan. Oh, begitulah sebuah persaingan," begitu dia bilang.
Butet juga menyentil soal banjir, bahkan menyebut salah satu pihak yang terkait berotak pandir. Butet menarasikan pula seseorang yang diteropong KPK karena nyolong, tetapi berkoar-koar mau dijegal.
Belum cukup, Butet melabeli calon lain punya hobi menculik. Kata dia, ''Hati seluruh rakyat Indonesia pasti akan sedih jika kelak ada presiden kok hobinya menculik.''
Siapa yang disasar Butet? Dia tak blak kotang terus terang. Namun, publik gampang menebak bahwa yang dimaksud berotak pandir terkait banjir sangat mungkin Anies Baswedan. Pun dengan seseorang yang sedang diteropong KPK karena nyolong. Anies Pandir, Anies Nyolong?
Lalu, yang dituding hobinya menculik, siapa lagi kalau bukan Prabowo Subianto. Prabowo kerap disebut sebagai dalang penculikan aktivis di era Orde Baru dulu. Sebutan yang terus didaur ulang, lagu lama yang selalu diaransemen baru, setiap jelang pemilu. Hobi sama saja gemar, doyan. Prabowo gemar, doyan, menculik?
Presiden ke-35 Amerika Serikat, John F Kennedy, pernah berujar, ''Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik itu bengkok, sastra akan meluruskannya.'' Puisi, sastra, jelas punya nilai teramat tinggi.
Akan tetapi, puisi Butet rasanya kok berkebalikan. Puisinya sangat tak elok, amat tidak pas, dibacakan di puncak Bulan Bung Karno yang bersemangatkan gotong royong. Ia kontrakdiktif dengan pidato Presiden Jokowi dalam acara itu yang mengajak rakyat bersatu, tidak terpecah-pecah, untuk mewujudkan Indonesia sebagai bangsa besar dan kukuh.
Banyak yang bilang, puisi Butet lebih kental dengan nuansa pembelahan yang sebangun dengan politik kotor, ketimbang mempromosikan kebersamaan. Tak sedikit yang berkisah, dia menggoreskan garis pembeda, menebalkan sekat pemisah. Ada frasa di sana dan di sini. Ada nafsu untuk menstigma negatif pihak lain yang tak disukai.
Seniman, budayawan, punya posisi mulia sebagai penjaga kewarasan. Kewarasan bisa dijaga dengan tidak berlebihan mencintai dan membenci seseorang, apalagi kepada politikus. Standar saja, yang sedang-sedang saja.
Mencintai secara overdosis, bucin, hanya akan membuahkan puja-puji. Apa saja yang dilakukan sang pujaan selalu benar, tidak pernah salah, tidak perlu dikritik. Membenci melewati takaran cuma melahirkan antipati. Apa pun yang dilakukan yang dibenci selalu salah, tidak pernah benar, harus selalu dikritik dan dihujat.
Saya tidak tahu apakah Butet mencintai atau benci setengah mati pada Anies dan Prabowo. Saya tak tahu apakah dia amat mengagumi Ganjar Pranowo. Saya juga tak tahu apakah dia punya niat untuk membuat puisi senada untuk Ganjar.
Kalau Butet menyindir calon tertentu sebagai penghobi menculik, maukah dia menyentil yang lain sebagai penyuka film porno? Atau, kalau dia melabeli seseorang bodoh dalam urusan banjir, label apa yang cocok darinya untuk kandidat yang daerahnya terendam berbulan-bulan?
Seniman, apalagi budayawan, idealnya memang wening dari hasrat keberpihakan, apalagi menjadi partisan politik. Kalau budayawan miring-miring, tendensius, seperti komentar salah satu netizen, dia sebenarnya tak berbudaya. Nah!
RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.
SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.
INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.
Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.
PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).
PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah
VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai
APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.
INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.
ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.
SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved