Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Pengubur Mimpi Besar

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
01/4/2023 05:00
Pengubur Mimpi Besar
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

GANTUNGKAN cita-citamu setinggi langit. Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.

Bung Karno pasti amat serius mengkreasikan narasi penyuntik semangat buat pemudi dan pemuda Indonesia itu. Proklamator bangsa itu pasti bangga jika melihat banyak anak muda mengikuti kata-katanya yang bak mantra itu.

Namun, saya hakul yakin Bung Karno akan meratapi saat mendapati kenyataan mimpi-mimpi anak muda bangsa ini dikubur dalam-dalam bahkan saat belum terbang setinggi langit. Mimpi-mimpi itu kandas. Mimpi-mimpi itu pun jatuh, tapi tidak di antara bintang-bintang karena dipatahkan sebelum menyentuh ketinggian.

Itulah gambaran yang saya tangkap dari kesedihan, kegetiran, kekecewaan, bahkan kemarahan anak-anak muda punggawa Timnas Sepak Bola U-20 Indonesia. Hokky Caraka, Arkhan Fikri, Rabbani Tasnim Siddiq, Marselino Ferdinan, dan kawan-kawan harus mengubur mimpi bermain di perhelatan akbar Piala Dunia U-20 karena mandat tuan rumah Indonesia dicabut FIFA.

Sebagian mereka menumpahkan kekesalan dan kekecewaan mereka di media sosial Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Mereka merasa Ganjar, bersama Gubernur Bali I Wayan Koster, menjadi bagian pengubur mimpi-mimpi besar yang siap mereka pertaruhkan itu.

Ganjar dan Koster menolak kehadiran Timnas U-20 Israel hanya satu setengah bulan menjelang perhelatan Piala Dunia U-20 dimulai (kendati keduanya sebelumnya sudah menanda tangani host city agreement sebagai tempat perhelatan Piala Dunia U-20). Keduanya dinilai berkontribusi besar atas kegagalan anak-anak muda itu merealisasikan mimpi-mimpi setinggi langit seperti amanat Bung Karno itu.

Kini keduanya menyatakan ikut sedih dan kecewa karena pencoretan Indonesia dari ajang sepak bola kelompok umur paling bergengsi di kolong langit itu (Maradona, Lionel Messi, Paul Pogba, Sergio Aguero, Dani Alves, Erling Haaland, dan Andres Iniesta ialah deretan bintang-bintang yang lahir dari event ini). Namun, kekecewaan keduanya tidak mengobati apa-apa. Justru, kata ratusan ribu netizen, pernyataan mereka disebut kian menggarami luka yang teramat menganga. Sangat pedih.

Apalagi saat keduanya mengatakan, 'Ayo segera move on, terus semangat karena masa depan masih panjang'. Kalimat itu dianggap basa-basi. Kalimat penghiburan yang sama sekali tidak menghibur. Kalimat penyemangat yang malah membikin penat. Orang-orang pun menagih tanggung jawab mereka atas lontaran penolakan terhadap timnas Israel yang berujung pembatalan tuan rumah Piala Dunia U-20 itu.

Saya berkali-kali jadi teringat kalimat noblesse oblige, dalam jabatan melekat tanggung jawab. Frasa berbahasa Prancis itu mengafirmasi bahwa tugas para pemimpin ialah sebuah keluhuran, sebuah tanggung jawab, baik dalam tindakan maupun ucapan. Semakin puncak posisi seseorang, kian tinggi pula tanggung jawab dan kehormatannya. Tingginya posisi itu baru berarti jika tanggung jawabnya yang besar sangat nyata dan terasa.

Para pemimpin Republik ini, baik di pusat maupun daerah, mestinya paham betul bahwa Indonesia ialah negara kesatuan. Dalam bingkai negara kesatuan, urusan strategi dan politik luar negeri ada di tangan pemerintah pusat. Lain halnya jika kita menganut sistem federasi, tiap-tiap kepala daerah federal boleh punya kebijakan berbeda dalam sejumlah hal yang diatur dalam undang-undang.

Apa yang dilakukan Gubernur Jawa Tengah dan Gubernur Bali kiranya bisa dilihat sebagai langkah yang tidak tegak lurus dengan kebijakan nasional terkait penyelenggaraan Piala Dunia U-20. Bahasa lugasnya, mereka bisa disebut mbalelo alias membangkang.

Kalau sikap mbalelo itu merupakan perwujudan pembelaan terhadap kepentingan besar rakyat, mungkin masih bisa dimaklumi. Namun, bila sikap berbeda itu berakibat pada kandasnya mimpi-mimpi anak bangsa, hilangnya kepercayaan terhadap bangsa, atau mempermalukan bangsa, tidakkah itu sebuah kesalahan besar?

Para pemimpin itu mestinya kembali merenungkan kata-kata Bung Karno: 'Jikalau aku misalnya diberikan dua hidup oleh Tuhan, dua hidup ini pun akan aku persembahkan kepada Tanah Air dan bangsa'.



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik