Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Hasya dan Citra Polisi

Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group
03/2/2023 05:00
Hasya dan Citra Polisi
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

'TERNYATA lebih bermanfaat polisi tidur daripada polisi yg beneran'. Narasi dalam kolom komentar di salah satu kanal berita online perihal penetapan Hasya sebagai tersangka itu keras, bahkan sadis. Majas yang digunakan sungguh sarkastis.

Ada lagi yang menulis, 'Pokoknya polisi gak boleh jadi tersangka walaupun sdh purna, kalo perlu mobilnya yg jadi tersangka'. Atau, 'Mungkin kalo korbannya Polisi atau keluarga Polisi, ceritanya lain'.

Pembaca lainnya menggoreskan tanggapan yang tak kalah menohok. Tulisannya, 'Akumulasi kekesalan masyarakat membludak pasca-sambo,TM, oknum2 amp yg skrg ini....tapi anehnya bukan pd mikir utk berubah ke arah yg lbh baik...'.

Masih banyak komentar senada, komentar negatif. Mereka mengekspresikan kegundahan, kekesalan, juga kemarahan terkait dengan penanganan kecelakaan lalu lintas yang menewaskan Muhammad Hasya Attalah Syahputra. Hasya ialah mahasiwa FISIP UI. Saat pulang dari mengikuti kegiatan di kampusnya, dia mengalami kecelakaan di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, 6 Oktober 2022.

Kata polisi, Hasya tak bisa mengendalikan sepeda motor yang dikendarai ketika ada orang yang tiba-tiba berbelok. Dia terjatuh dan dari arah berlawanan melaju mobil SUV yang dikemudikan pensiunan polisi, AKB (Purn) Eko Budi Setia Wahono. Korban pun ditabrak dan terlindas lalu tewas karena sekitar 30 menit tak mendapat pertolongan. Pengemudi mobil disebutkan menolak membawa Hasya ke rumah sakit.

Kasus tersebut ramai diberitakan. Lebih ramai lagi setelah Hasya yang sudah menjadi mendiang justru ditetapkan sebagai tersangka. Status itu diketahui setelah Polres Jakarta Selatan mengirimkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan Perkara (SP2HP) No B/42/I/2023/LLJS kepada keluarga tanggal 16 Januari 2023. Versi polisi, korban lalai dalam berkendara sehingga mengakibatkan kecelakaan dan menyebabkan dirinya meninggal.

Aneh, tak masuk akal, tak mencerminkan keadilan, tak ada empati, tak profesional. Itulah seabrek penilaian terhadap kinerja polisi. Tak cuma keluarga korban, publik juga kecewa berat. Kecewa karena polisi menjadikan Hasya sebagai tersangka. Kecewa karena orang yang sudah menjadi korban dijadikan korban lagi.

Penetapan Hasya sebagai tersangka kiranya memang mengada-ada. Dari sisi hukum juga patut dipertanyakan, dipersoalkan. Pasal 77 KUHP telah menggariskan bahwa kewenangan menuntut pidana hapus jika tertuduh meninggal dunia. Logikanya, manusia hidup yang menjadi tersangka saja, kalau meninggal, perkaranya diakhiri, ini orang yang sudah meninggal kenapa sampai dijadikan tersangka?

Betul bahwa setelah Hasya ditetapkan sebagai tersangka, kasusnya dihentikan. Akan tetapi, hidup tak semudah pengucapan pasal dan ayat undang-undang. Dengan berstatus tersangka, nama baik Hasya tercoreng. Dia akan dikenang sebagai penyebab kecelakaan yang menyebabkan dirinya berpulang. Dia telanjur dicap bersalah dan yang pasti, dia tak bisa membela diri atas cap buruk itu.

Wajar, sangat wajar, jika keluarga Hasya terus menuntut keadilan dan memperjuangkan kebenaran. Tak cuma mereka, publik pun demikian. Kini, menjadi tugas kepolisian untuk memberikan jawaban.

Langkah Polda Metro Jaya membentuk tim pencari fakta atau tim konsultasi dan asistensi atau apalah namanya tentu saja baik. Namun, yang lebih penting ialah hasilnya nanti yang mesti mencerminkan transparansi, kebenaran, keadilan, dan berasa empati kepada korban.

Benar kata Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso. Jangan sampai tim pencari fakta malah menjadikan Hasya korban ketiga kalinya. Cukup sudah dia menjadi korban kecelakaan, meninggal, lalu menjadi tersangka. Kita tak mungkin menghidupkan kembali Hasya, tetapi polisi masih bisa mencabut status tersangka darinya. Itulah harapan keluarga, juga asa kita.

Kasus Hasya bisa merusak wajah Korps Bhayangkara. Pascakasus Sambo, citra Polri terjun bebas. Mereka lantas berusaha berbenah diri dan pelan tapi pasti kredibilitas itu mulai pulih. Pada survei terkini pada Desember 2022, misalnya, tingkat kepercayaan publik pada Polri mencapai 62,4%. Cukup tinggi.

Nama baik ibarat menyimpan uang di bank. Ia harus sering ditambah agar semakin banyak, bukan malah terus digerus lewat ATM karena akan habis tak tersisa. Begitu juga dengan citra polisi mesti terus dipupuk dengan tindakan yang baik, yang profesional, yang adil. Bukan sebaliknya seperti dalam penanganan perkara Hasya.



Berita Lainnya
  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.

  • Tunas Terempas

    30/12/2025 05:00

    SUARANYA bergetar nyaris hilang ditelan hujan deras pada senja pekan silam. Nadanya getir mewakili dilema anak muda Indonesia yang menjadi penyokong bonus demografi.