Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
THOMAS Stamford Raffles (1781-1826) menangis ketika harus meninggalkan Jawa dan Sumatra.
Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1811-1816) paling ternama itu berurai air mata karena merasa kehilangan 'miliknya' yang paling berharga.
Baginya bertugas di Pulau Jawa ialah kehormatan.
Baginya Jawa tak hanya soal ekonomi, tapi juga soal botani dan kebudayaan.
Akan tetapi, Konvensi London (1814) mengharuskan seluruh wilayah yang pernah dikuasai Inggris dikembalikan ke Belanda.
Buku Raffles, The History of Java (1817) pun melegenda. Ia memang gubernur jenderal paling lengkap.
Kepemimpinannya kuat, pandai berbahasa Melayu, cakap menulis, paham masyarakat Jawa, peduli pada kebudayaan, dan suka botani/lingkungan.
Raffles diapresiasi sebagai penyelamat kebudayaan Jawa.
Ketika pulang ke Inggris pun ia mendirikan London Zoo dan Zoological Sosiety of London.
Ia menjadi presiden direktur pertama lembaga itu.
Ia memberi nama-nama binatang dengan memakai nama Sumatra.
Pangeran Diponegoro yang karismatik, juga menangis ketika isyarat nahas telah di depan mata.
Ketika ratusan ribu laskar dan rakyat tewas dalam perang dan penyakit, juga saudara-saudaranya; serta mayoritas komandan perang menyerah karena kelelahan.
Dalam Babad Diponegoro ia menulis, "Air matanya mengambang berkaca-kaca (dan) Sultan merasa sendirian di Tanah Jawa." Penangkapan berselubung perundingan terjadi (1830).
Ia menolak sebagai Sultan Yogya.
Ia memilih ditahan dan diasingkan.
Ia memilih takdir yang menyakitkan itu.
Menjelang pidato tentang Pancasila di depan sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, malam hari Bung Karno merenung dan menangis.
Menangis karena ia harus berbicara tentang dasar negara jika nanti Indonesia merdeka di tengah perdebatan yang panas antara kelompok Islam dan nasionalis.
Pidato amat penting karena Bung Karno harus bicara falsafah negara untuk bangsa yang amat beragam itu.
Bung Karno juga menangis ketika jasad Jenderal Ahmad Yani dimakamkan karena ontran-ontran tahun 1965.
Megawati Soekarnoputri tak terbilang kali menangis, sejak menjadi wakil presiden, presiden, dan telah menjadi mantan (presiden).
Ia menangis ketika menyambut kemenangan Jokowi sebagai presiden, ketika menjadi narasumber Mata Najwa di Metro TV, dan terakhir ketika berpidato pada HUT PDI Perjuangan, Januari lalu.
"Berjuanglah untuk rakyat dengan segenap jiwamu, dengan segenap cintamu. Maka rakyat akan mencintaimu. Rakyat akan menjagamu," kata Mega dengan mata basah. Pesannya jelas, air mata demi bangsa!
Kini ketika demokrasi Indonesia terasa terancam karena perseteruan politik dan hukum yang panas, saya teringat tangis-tangis para pemimpin itu.
Teringat pula aneka tulisan pada spanduk musim kampanye pemilu tahun lalu dari para caleg PDI Perjuangan: 'Ibu Pertiwi Kini sedang Sakit', 'Ibu Pertiwi Menangis'.
Karena itu, saya menyimak ketika lagu Ibu Pertiwi dinyanyikan biduan Kikan Namara dengan segenap jiwa dalam acara Mata Najwa bertema Barisan antikorupsi, Rabu (11/3).
Maklumat perlawanan pada korupsi dibacakan dengan segenap ekspresi oleh sejumlah nama.
Radhar Panca Dahana hadir dalam sajak.
Nuansa prihatin dan duka hadir dengan penonton yang berpakaian serbahitam.
Mereka melawan laku koruptif!
Adakah elite politik menangis lagi?
Tangis sebagai rasa hormat pada bangsanya, yang martabatnya terasa tengah dirobohkan oleh diri kita sendiri?
Para elite itu.
Tangis untuk sebuah kesadaran bersama, untuk bangkit!
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved