Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Menghalau Awan Gelap

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
19/10/2022 05:00
Menghalau Awan Gelap
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SESERAM apakah perekonomian dunia beberapa bulan ke depan? Apakah Indonesia terkena imbasnya? Kalau memang seram dan suram, bagaimana pula kita mesti menghadapinya? Siapkah kita?

Rentetan pertanyaan itu, akhir-akhir ini, seperti mitraliur yang memberondong kita hingga kita nyaris tak sempat menarik napas. Bukan hanya kita yang di Indonesia, melainkan seluruh dunia tengah diliputi kecemasan. Di Podium ini saya pernah menulis tentang The Perfect Storm atau 'badai yang sempurna' untuk menggambarkan dahsyatnya ancaman krisis ekonomi ke depan.

Badai yang sempurna itu merupakan kombinasi krisis yang datang sekaligus dalam satu sapuan. Setelah krisis akibat pandemi covid-19 yang belum sepenuhnya pulih, dunia langsung dihantam krisis akibat Perang Rusia-Ukraina. Muncullah krisis ikutan, yakni krisis energi, pangan, dan krisis keuangan yang kian menjadi-jadi ditambah melonjaknya inflasi. Dunia juga masih dihinggapi krisis akibat perubahan iklim. Semua itu datang seketika.

Semakin ke sini, sinyal krisis itu makin terang. Bunyi alarm kian memekikkan telinga. Presiden Joko Widodo beberapa kali mengajak semua kita mewaspadai awan gelap perekonomian global. Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut resesi dunia segera tiba. Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengajak kita waspada akan resesi yang dipicu 'perang suku bunga'.

Sejumlah lembaga memperkirakan perekonomian global akan masuk jurang resesi mulai awal tahun depan. Dampak dari penaikan suku bunga yang signifikan dalam waktu singkat disertai lonjakan inflasi akan memukul berbagai sektor ekonomi.

Tidak hanya itu, Dana Moneter Internasional (IMF), awal pekan lalu, menyebut ekonomi dunia menuju keterpurukan. IMF pun menurunkan proyeksi pertumbuhan global untuk tahun depan. Lembaga keuangan dunia itu sekaligus memperingatkan akan adanya resesi dunia yang keras jika pembuat kebijakan salah menangani perang melawan inflasi.

Amerika Serikat, negara dengan skala ekonomi terbesar di dunia, sudah mengalami resesi. Secara teknis, pertumbuhan ekonomi negeri ‘Paman Sam’ itu terkontraksi dalam dua kuartal berturut-turut, yakni minus 1,6% di kuartal pertama 2022 dan minus 0,9% di kuartal kedua. Ekonomi AS terhuyung dihantam inflasi yang sempat mencapai 9,1% pada Juli lalu, atau inflasi tertinggi dalam 40 tahun terakhir.

Itulah sebabnya, bank sentral AS The Fed, sangat agresif menaikkan suku bunga hingga mencapai 3,25% saat ini. Inflasi AS yang sempat melandai di bulan Agustus, terdongkrak lagi pada September. Karena itu, banyak analis memperkirakan The Fed bakal mengerek lagi suku bunga hingga mencapai 4,5%, bahkan bisa 4,75% awal tahun depan.

Inflasi yang menjadi-jadi juga membuat Inggris, Uni Eropa, dan sejumlah negara emerging market seperti Brasil dan Meksiko, juga menaikkan suku bunga secara agresif. Momok inflasi yang disertai penaikan suku bunga itulah yang merisaukan banyak kalangan, termasuk berbagai pihak di dalam negeri.

Namun, lantaskah kita terlalu mencemaskan perekonomian dalam negeri? Cemas itu wajar. Khawatir itu lumrah. Sebab, resesi global pasti berpengaruh terhadap situasi ekonomi di Tanah Air. Namun, kecemasan yang berlebihan dan kekhawatiran yang kelewat dosis justru memicu kondisi psikologis menjadi negatif. Bisa 'kena mental', kata anak sekarang.

Kalau begitu, masihkah ada harapan kita bisa menaklukkan badai krisis itu? Jawabannya: harapan itu ada, bahkan sangat terbuka. Sejumlah analis, pakar, ahli meyakini Indonesia bisa menaklukkan badai itu. Kita sanggup menghalau awan gelap krisis ekonomi. Fundamen perekonomian kita diyakini masih cukup tangguh.

Mitigasi juga sudah mulai disiapkan. Di antaranya dengan memberdayakan perekonomian domestik, mengingat jumlah penduduk Indonesia sangat besar, yakni lebih dari 275 juta jiwa. Pemberdayaan ekonomi domestik tersebut, salah satunya dengan mendorong Bangga Buatan Indonesia (BBI) dan melanjutkan hilirisasi industri berbasis sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor.

Selain itu, melakukan pengendalian inflasi, baik di pusat maupun daerah, khususnya inflasi harga pangan. Hal itu karena inflasi pangan saat ini menjadi sumber penyebab inflasi Indonesia meningkat lebih tinggi. Gerakan tanam pekarangan, realisasi food estate, peningkatan produktivitas dan percepatan musim tanam, serta membereskan distribusi logistik lewat subsidi angkut antardaerah diyakini bisa efektif mengendalikan inflasi pangan.

Harapan terakhir ada pada kelangsungan investasi. Investasi akan tetap menarik jika kemudahan dan kepastian berinvestasi dijamin. Pemberesan iklim investasi dengan penerapan penuh perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik atau online single submission tidak boleh diulur-ulur lagi.

Awan perekonomian global memang gelap. Namun, kita punya cara untuk menghalaunya. Mendung tak berarti hujan, bahkan bisa seperti lagu Deni Caknan, Mendung tanpa Udan.



Berita Lainnya
  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik