Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
MENGAPA Ki Hajar Dewantara dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Indonesia? Mengapa pula tanggal kelahirannya, 2 Mei, dijadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional? Pertanyaan itu, hari-hari ini, kembali mencuat seiring dengan diperingatinya Hari Pendidikan Nasional, yang tahun ini bertepatan dengan Idul Fitri.
Jawabannya simpel, yakni karena sejarah kehidupan Ki Hajar Dewantara dari sejak remaja hingga meninggal nyaris tidak pernah beringsut dari ikhtiar keras memperjuangkan pendidikan untuk anak bangsa lainnya. Jalan hidupnya seolah ditakdirkan untuk memperjuangkan pendidikan, betapa pun rumit dan sulitnya keadaan.
Ki Hajar Dewantara seperti tidak pernah kehabisan energi. Hasratnya untuk membebaskan kaumnya sebangsa dan setanah air dari cengkeraman Belanda terus meledak meletup. Itu pula yang ia lakukan saat menjadi penulis. Ia berjuang dengan penanya.
Pada 1913, pemilik nama asli Raden Mas Soewardi Soeryaningrat itu membentuk Komite Bumiputera. Lewat komite tersebut, Ki Hajar mengkritik pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik pajak dari rakyat Hindia Belanda.
Ki Hajar Dewantara mengkritik penarikan upeti untuk perayaan tersebut melalui dua tulisan. Pertama, tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda). Kedua, Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga).
Dua tulisan itulah yang mengantar Ki Hajar Dewantara ke penjara. Ia ditangkap pemerintah Hindia Belanda untuk diasingkan ke Pulau Bangka. Namun, ia menegosiasikan diri agar bisa dikirim ke Belanda. Sepakat, pemerintah pun mengizinkannya pergi ke Belanda.
Di 'Negeri Kincir Angin' itulah ia belajar tentang pendidikan dan pengajaran. Ia meraih prestasi tinggi dengan memperoleh Europeesche Akter. Sekembalinya dari pengasingan, pada 1918, Ki Hajar Dewantara pun bertekad membebaskan rakyat Indonesia dari kebodohan. Sebuah perjuangan meraih kemerdekaan melalui jalur pendidikan. Lewat pendidikan, ia membuka kesadaran rakyat tentang pentingnya merdeka.
Untuk tujuan itu, di usia 40 tahun, ia rela menanggalkan atribut kebangsawanannya demi bisa lebih dekat dengan sesama anak bangsa agar 'virus' pendidikan cepat menyebar. Ia tidak ingin gelar raden menjadi tabir perjuangannya.
Ki Hajar Dewantara juga aktif menulis dengan tema pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Melalui tulisannya tersebut, dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia untuk jangka panjang.
Setelah Indonesia merdeka, Ki Hajar Dewantara pun diangkat menjadi menteri pendidikan pertama. Nama kementeriannya Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. Saat itulah, Ki Hajar Dewantara meletakkan dasar-dasar penting pendidikan untuk Indonesia.
Kini, saat usia Republik ini hampir 77 tahun, kita masih harus terus berjuang menaikkan kualitas pendidikan yang masih belum memuaskan. Posisi Indonesia di tingkat dunia dari segi sistem dan kualitas pendidikan masih jauh dari peringkat terbaik.
Berdasarkan data yang dipublikasikan World Population Review, pada 2021 Indonesia masih berada di peringkat ke-54 dari total 78 negara yang masuk pemeringkatan tingkat pendidikan dunia.
Namun, setidaknya posisi tersebut naik satu peringkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang ada di peringkat ke-55.
Dari acuan tersebut pula, Indonesia masih kalah unggul dengan berada di posisi ke-4 jika dibandingkan dengan sesama negara yang berada di kawasan Asia Tenggara seperti Singapura di peringkat ke-21, Malaysia di peringkat ke-38, dan Thailand di peringkat ke-46.
Bukan perkara baru, permasalahan itu sudah disorot sejak lama. Hulunya sudah diketahui, yakni masih tambal sulamnya sistem pendidikan dan standar kualitas pengajar yang belum memuaskan. Kompetensi guru di Indonesia, kata sejumlah pengamat pendidikan, masih sangat rendah. Hasil Uji Kompetensi Guru (UKG), misalnya, mengonfirmasikan penilaian tersebut. Nilai UKG yang diperoleh rata-rata masih di bawah 5.
Padahal, kualitas murid di kita masih dipengaruhi tenaga pengajar yang kompeten. Kondisi itu masih ditambah perkara guru honorer yang belum kunjung tuntas. Penghargaan terhadap guru, meski membaik dari waktu ke waktu, belum bisa dikatakan maksimal. Sistem pembelajaran, atau kurikulum, juga masih baku dan membelenggu. Kurikulum pendidikan masih membatasi kreativitas dan perluasan wawasan murid karena angka pada nilai masih menjadi satu-satunya indikator dan patokan kecerdasan, selain masih pula kuatnya pengotak-ngotakan minat.
Pendidikan yang membebaskan, memerdekakan, tidak cukup sebagai slogan. Bukan perkara mudah mewujudkannya, tapi ia merupakan langkah yang benar. Butuh ikhtiar superkeras untuk mewujudkannya. Perlu kesabaran untuk membongkar cara berpikir yang kelewat kaku dan beku. Selamat berjuang, selamat Hari Pendidikan Nasional.
RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.
SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.
INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.
Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.
PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).
PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah
VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai
APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.
INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.
ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved