Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Tsamara

Jaka Budi Santosa Dewan redaksi Media Group
26/4/2022 05:00
Tsamara
Jaka Budi Santosa Dewan redaksi Media Group(MI/Ebet)

TSAMARA Amany sedang kesal bukan kepalang. Dia geram karena pengunduran dirinya dari Partai Solidaritas Indonesia berujung serangan membabi buta terhadap dirinya. Dia disebut kadrun.

Tsamara ialah politikus muda bertalenta. Dia salah satu idola di PSI dan tentu saja pendukung Jokowi. Masa depannya di dunia politik dipandang cemerlang, tetapi dia memilih pamit dari partai anak muda itu. Dia mundur per 18 April 2022.

Banyak yang tak menyangka Tsamara begitu cepat turun dari panggung yang membuatnya terkenal. Banyak spekulasi kenapa dia memutuskan pindah haluan untuk menekuni isu-isu perempuan. Banyak pula yang patah hati, bahkan sakit hati.

Mereka yang sakit hati bersikap merawak rambang. Mereka menyerang Tsamara dengan narasi di luar keadaban. Yang betul-betul mengerikan.

Simak saja cicitan @xeriaz_marhaenisi yang di-mention Tsamara ke @DivHumas_Polri. ‘Dia kan genitikanya ada bau bau gurun pasir jadi tidak betah dengan hal-hal yang berbau nasionalis jadi dia kembali ke habitat asli nya ia itu kadrun. Jika saya yang memegang otoritas tertinggi di indonesia saya akan mengelurkan dekrit untuk memerintah angkatan bersenjata kita untuk mengirim seluruh para keturunan imigran Arab Yaman tanpa reserve yang ada di Indonesia untuk di kirim ke camp solusi final akhir dan saya pastikan akan jauh exstrim apa yang pernah dilakukan NAZI germany terhadap orang yahudi’.

Cermati pula akun @GusNadjib yang me-retweet unggahan video pernikahan Tsamara dengan suaminya dan dihadiri Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Dia lalu menuliskan, ‘Sesama antek Yaman saling berpelukan. Ternyata idealisme masih kalah dengan urusan ranjang. Mungkin lebih maksimal penetrasinya. Play dong, play’.

Akun @GusNadjib memakai foto seseorang berpeci dan berseragam loreng mirip Banser. Namun, Banser menegaskan pemilik akun mencatut foto salah satu kadernya.

Buat orang-orang itu, karena meninggalkan partai pendukung Jokowi, Tsamara kini seorang kadrun. Karena kadrun, Tsamara harus 'dihabisi' dengan segala cara. Dengan fitnah, dengan kata-kata tak senonoh, bahkan rasis.

Salah apa coba hingga Yaman dibawa-bawa? Ingin menegaskan Tsamara kini sekubu dengan Anies yang disebut juga keturunan Yaman? Kan logika gila.

Meski gila, logika semacam itu kian menggejala. Bukan hanya Tsamara yang menjadi korbannya. Eks Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti pernah dicap kadrun, juga lobster gurun. Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Qotrunnada Wahid senasib. Setelah pamit dari KPK, mantan juru bicara Febri Diansyah dilabeli kadrun pula.

Pokoknya, siapa pun yang meninggalkan kubu Jokowi ialah kadrun, kadal gurun. Mereka distigma ekstrem, fundamentalis, karena terpengaruh paham radikalisme dari Timur Tengah. Dari negara-negara gurun.

Namun, logika gila bukan hanya milik mereka. Di kubu sebelah sami mawon. Mereka mencap siapa pun yang pindah ke kubu Jokowi sebagai cebong. Ali Mochtar Ngabalin contohnya. Faldo Maldini amsal lainnya.

Penyair William Drummond mengatakan, “Dia yang tidak mau bernalar adalah seorang fanatik, dia yang tidak bisa bernalar adalah orang bodoh, dan dia yang tidak berani berpikir adalah seorang budak.”

Fanatisme. Itulah yang menjangkiti orang-orang yang menyerang Tsamara, Susi, Alissa, Febri, Ngabalin, Faldo, dan yang lain.

Fanatisme berasal dari bahasa Latin, fanaticus. Artinya, amarah atau gangguan jiwa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, fanatisme berarti keyakinan (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran.

Fanatisme tidak hanya soal agama. Ia juga ada di politik, ideologi, olahraga, hingga jagat hiburan. Di olahraga, Luis Figo pernah menjadi bulan-bulanan fanatisme pendukung fanatik Barcelona. Dia dihujat habis-habisan karena pindah ke seteru abadi Barca, Real Madrid, pada 2000. Figo sampai dijuluki Yudas, pengkhianat Yesus.

Di sini, di negeri ini, fanatisme ideologi seolah beradu dengan fanatisme agama. Padahal, sejatinya semua soal politik. Mereka yang mengkadrunkan orang lain ialah orang-orang fanatik yang mengklaim paling nasionalis, paling patriotisme. Mereka terus menyerukan NKRI harga mati, yang lain setengah mati.

Mereka yang gemar mencebongkan orang lain ialah orang-orang fanatik yang merasa paling religius. Dikit-dikit menyebut yang tak sealiran sesat. Dikit-dikit menyebut pemerintah menyimpang.

Begitulah, yang satu merasa sebagai pemegang kunci surga, satunya lagi juru kunci negara. Keduanya konsisten mengambil posisi berbeda. Posisi yang terus berseberangan.

Kasus Tsamara kiranya mengonfirmasi bahwa akibat ulah para fanaticus, para pengidap gangguan jiwa, rumah bangsa ini benar-benar sudah terbelah. Kiranya polarisasi sesama anak bangsa ini ngeri kali. Lebih ngeri lagi, kiranya tidak ada yang mampu merekatkan kembali. Negara pun tidak.



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.