Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Semoga Pak Jokowi tidak Marah Lagi

Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group
08/4/2022 05:00
Semoga Pak Jokowi  tidak Marah Lagi
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

HARAPAN saya agar Pak Jokowi marah lagi yang saya tuangkan di forum ini beberapa hari lalu akhirnya terwujud juga. Meski tidak segalak sebelumnya, Pak Jokowi kembali melampiaskan kekesalan kepada para pembantunya.

Dalam acara Aksi Afirmasi Bangga Buatan Indonesia di Bali, Jumat (25/3), Pak Jokowi marah karena masih ada kementerian, institusi, atau BUMN yang gemar belanja produk impor. Kini, dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana, dia jengkel karena anggota kabinetnya tidak fokus, juga tak sensitif. Tak punya sense of crisis.

Kejadiannya Selasa, 5 April 2022, tetapi baru diunggah di kanal Youtube Sekretariat Presiden sehari kemudian. Ada dua hal yang membuat Jokowi kesal. Kepada para menterinya, dia memerintahkan untuk tidak lagi membahas hal-hal terkait dengan penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden. Jabatannya.

Ketimbang mengurusi urusan yang tak perlu diurus, menteri diperintahkan menuntaskan urusan yang harus mereka urus. Mengendalikan ketersediaan dan kenaikan harga komoditas utamanya. Jangan memantik polemik. Fokus saja bantu rakyat yang hidupnya kian sulit. Itu intinya.

Seperti kemarahan sebelumnya, Jokowi juga membidik langsung menterinya. Kali ini, menteri yang mengurusi minyak goreng dan menteri yang membidangi energi jadi sasaran.

Jokowi kesal kepada Menteri Perdagangan karena tak ada penjelasan apa-apa kenapa terjadi kekarut-marutan minyak goreng selama berbulan-bulan. "Jangan sampai kita ini seperti biasanya dan tidak dianggap oleh masyarakat melakukan apa-apa, tidak ada statement, tidak ada komunikasi harga minyak goreng sudah 4 bulan, tidak ada penjelasan apa-apa, kenapa ini terjadi," begitu Jokowi berujar.

Jokowi juga menyentil Menteri ESDM terkait dengan penaikan harga pertamax per 1 April. Bukan soal Rp9.000 menjadi Rp12.500 per liter yang membuat Jokowi mendongkol. Penaikan itu, kata dia, keniscayaan. Karena terpaksa. Yang membuatnya kecewa, sang menteri tak menjelaskan kepada masyarakat kenapa naik. Tidak ada komunikasi. Meneng bae.

"Yang kedua pertamax, menteri juga tidak memberikan penjelasan apa-apa mengenai ini. Hati-hati, kenapa pertamax, diceritain dong pada rakyat. Ada empati kita gitu lo, enggak ada. Yang berkaitan dengan energi, enggak ada," begitu Jokowi menyentil anak buahnya.

Saya lumayan senang Pak Jokowi marah lagi. Adanya menteri yang ikut kasak-kusuk dalam wacana penundaan pemilu atau perpanjangan jabatan presiden memang kelewatan. Kian kelewatan, mereka bukan menteri bidang politik, tapi sibuk urus politik. Ada Luhut Pandjaitan, ada Airlangga Hartarto, ada pula Bahlil Lahadalia.

Manuver mereka harus dihentikan dan hanya Jokowi yang bisa menghentikan. Bahkan, kalau boleh jujur, Jokowi sebenarnya terlambat bersikap. Untung ada pepatah better late than never. Tak apalah kendati terlambat daripada tidak sama sekali.

Pun perihal tidak adanya penjelasan dari menteri perihal minyak goreng dan penaikan harga pertamax. Bagi Jokowi, tanpa memberikan penjelasan sejelas-jelasnya kepada rakyat sama saja tidak ada empati kepada rakyat.

Kata Alfred Adler, empati ialah melihat dengan mata orang lain, mendengarkan dengan telinga orang lain, dan merasakan dengan hati orang lain. Pejabat harus melihat segala hal dengan mata rakyat, mendengarkan dengan telinga rakyat, dan merasakan dengan hati rakyat. Bukan suka-suka dengan mata, telinga, dan hati mereka sendiri.

Kata Theodore Roosevelt, “Tidak ada yang peduli seberapa banyak kamu tahu sampai mereka tahu seberapa besar kamu peduli.” Kepedulian yang diinginkan rakyat. Semakin peduli, semakin baik pemerintah di mata rakyat. Semakin tidak peduli, semakin buruk pemerintah di hadapan rakyat. Itulah kecenderungan akhir-akhir ini.

Dari survei, tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Jokowi menurun. Dalam program Bedah Editorial di Metro TV, kemarin, beberapa penelepon juga menyiratkan kecenderungan itu. Mereka merasa beban hidup makin berat, tetapi kepedulian pemerintah sulit didapat.

Saya lumayan senang Jokowi memarahi menterinya lagi. Baru lumayan. Belum sepenuhnya senang. Saya sengaja menyisakan ruang kekecewaan. Saya masih menunggu apakah kemarahan Jokowi membuahkan perubahan.

Saya akan senang seutuhnya jika sikap Jokowi membuat sekelilingnya tak hanya menyudahi wacana, tapi juga menghentikan upaya penundaan pemilu dan perpanjangan atau penambahan masa jabatan presiden. Saya sungguh senang jika kemarahan Jokowi pada akhirnya membuat minyak goreng, juga bahan pangan lainnya, mudah didapat dengan harga bersahabat. Kiranya itulah yang dibutuhkan rakyat. Tidak sekadar penjelasan kenapa harga minyak goreng naik, kenapa harga pertamax naik.

Kemarahan Jokowi ialah pertaruhan buat Jokowi. Leadership-nya diuji. Semoga ini menjadi kemarahan terakhir Jokowi. Tidak ada lagi menteri yang abai. Tidak ada lagi yang semaunya sendiri.

Kalau pada tulisan sebelumnya, Selasa (29/3), saya kasih judul Semoga Pak Jokowi Marah Lagi, bolehlah kali ini saya selipkan kata 'tidak'. Semoga Pak Jokowi tidak Marah Lagi.

Tidak baik marah-marah terus. Apalagi dibeberkan di ruang publik. Selain buruk buat kesehatan, bukankah sering marah karena persoalan serupa juga pertanda ada problem kepemimpinan?



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.