Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Korban Bersuara Data pun Bicara

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group
09/12/2021 05:00
Korban Bersuara Data pun Bicara
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SUDAH lama korban lantang bersuara dan tak terhitung pula data bicara. Korban terus berjatuhan, tapi Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS) baru disetujui di tingkat Badan Legislasi (Baleg) DPR, kemarin.

Perjalanan RUU TPKS menjadi undang-undang masih panjang. Setelah disetujui Baleg, RUU itu dibawa ke rapat paripurna DPR untuk dimintai persetujuan menjadi RUU inisiatif dewan. Kemudian pimpinan DPR menyurati Presiden agar menunjuk menteri yang mewakili Presiden dalam membahas RUU TPKS. Nantinya ada dua tingkatan pembahasan di DPR bersama pemerintah.

Harus jujur diakui bahwa kematian Novia Widyasari Rahayu, mahasiswi Universitas Brawijaya Malang, menjadi pemantik perubahan sikap fraksi-fraksi di Baleg DPR. Ia mengalami tindakan kekerasan seksual, tapi pelakunya sulit dijerat hukum secara maksimal karena payung hukumnya masih dimain-mainkan di Senayan.

Hingga minggu lalu, lima fraksi di Baleg DPR masih kukuh menolak RUU TPKS. Jika divoting saat itu, jumlah penolak lebih banyak. Perubahan sikap baru muncul setelah meledak kasus Novia di media sosial, menjadi viral pada Sabtu (4/12).

Kasus Novia menyedot perhatian publik. Siaran pers Komnas Perempuan pada 6 Desember membuat terperangah. Disebutkan bahwa NWR ialah korban kekerasan yang bertumpuk dan berulang-ulang dalam durasi hampir dua tahun sejak 2019. Ia terjebak dalam siklus kekerasan di dalam pacaran yang menyebabkannya terpapar pada tindak eksploitasi seksual dan pemaksaan aborsi.

Menurut data Komnas Perempuan, kekerasan dalam pacaran ialah jenis kasus kekerasan di ruang privat/personal yang ketiga terbanyak dilaporkan. Pada kurun 2015-2020 tercatat 11.975 kasus yang dilaporkan berbagai pengada layanan di hampir 34 provinsi, sekitar 20% dari total kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi di ranah privat.

Kasus NWR merupakan salah satu dari 4.500 kasus kekerasan terhadap perempuan yang diadukan ke Komnas Perempuan dalam periode Januari-Oktober 2021. Ini sudah dua kali lipat lebih banyak daripada jumlah kasus yang dilaporkan ke Komnas Perempuan pada 2020.

Simpati publik atas tragedi Novia berujung pada desakan agar DPR segera mengesahkan RUU TPKS. Desakan itu sangat kuat sehingga mengubah konstelasi kekuatan di Baleg. Kemarin, tujuh fraksi menyetujui RUU TPKS untuk menjadi usulan inisiatif DPR.

Ketujuh fraksi itu ialah Fraksi PDIP, Fraksi Partai Gerindra, Fraksi Partai NasDem, Fraksi PKB, Fraksi Partai Demokrat, Fraksi PAN, dan Fraksi PPP. Fraksi Golkar meminta penundaan pengambilan keputusan dengan alasan masih ingin mendengarkan masukan publik dan Fraksi PKS tegas menolaknya.

Alasan masih ingin mendengarkan masukan publik terkesan mengada-ada. Itu karena pada pembahasan tingkat pertama, pembuat undang-undang berkewajiban menampung aspirasi masyarakat.

RUU TPKS yang semula bernama RUU Penghapusan Kekerasan Seksual sudah menempuh jalan sangat panjang. Kelahirannya diinisiasi kelompok masyarakat sipil pada 2012 dan menembus Program Legislasi Nasional (Prolegnas) pada 2016.

Tarik ulur diwarnai sensasi terjadi di Baleg. RUU itu baru dibahas pada Oktober 2017, tetapi dua tahun kemudian muncul petisi penolakan. Karena itulah, hingga akhir DPR periode 2014-2019, RUU TPKS tidak bisa diselesaikan. Lebih ironisnya lagi, pada tahun lalu, RUU itu dikeluarkan dari Prolegnas dan baru masuk lagi dalam Prolegnas Prioritas 2021.

Setelah disetujui Baleg, tugas publik untuk mengawasi pembahasannya di DPR bersama pemerintah. Diawasi karena kekerasan seksual mengganggu rasa aman dan kebebasan seseorang serta dapat menimbulkan penderitaan fisik dan psikologis bagi korban. Bukankah Pasal 28G ayat (1) UUD 1945 menentukan bahwa setiap orang berhak mendapatkan rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan?

Publik harus memastikan RUU TPKS dibahas memenuhi syarat formil. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 91/PUU-XVIII/2020 harus dijadikan rujukan, terutama terkait dengan partisipasi publik.

Menurut MK, partisipasi masyarakat dalam suatu pembentukan undang-undang bertujuan antara lain membangun lembaga legislatif yang lebih inklusif dan representatif dalam pengambilan keputusan.

Paling penting lagi ialah partisipasi masyarakat perlu dilakukan secara bermakna. Ada tiga syarat partisipasi masyarakat lebih bermakna. Pertama, hak untuk didengarkan pendapatnya. Kedua, hak untuk dipertimbangkan pendapatnya. Ketiga, hak untuk mendapatkan penjelasan atau jawaban atas pendapat yang diberikan.

Putusan MK itu menyadarkan kita bahwa substansi sama pentingnya dengan prosedur dalam pembahasan RUU TPKS. Karena itu, agar RUU TPKS tidak cacat formil maupun materil, baik kiranya DPR mendengarkan masyarakat, suara korban dan menyimak data bicara, jangan asyik-asyik sendiri di Senayan.



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.