Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAK kisah perih mengiringi meletusnya Gunung Semeru. Jerit dan tangis bertalu-talu. Orang-orang berlomba dengan waktu, dikejar lahar panas dan abu. Kisah mengharukan memang selalu berkelindan dalam setiap musibah.
Itu pula yang terekam di balik erupsi Gunung Semeru. Ada seorang ibu yang membawa anaknya menggunakan jas hujan, menerjang debu erupsi untuk evakuasi diri. Ibu itu menghampiri sebuah rumah untuk meminta air guna membasuh wajahnya yang penuh dengan debu.
Sementara itu, sang anak berada di balik jas hujan. Banyak yang merasa iba dan terharu dengan perjuangan seorang ibu yang menyelamatkan sang anak. Ada juga kisah Sinten dan Dewi Novitasari yang dapat menyelamatkan diri dari dampak erupsi Gunung Semeru. Mereka berdua selamat setelah berlari hingga sejauh 13 kilometer.
Sinten dan Dewi melakukan perjalanan evakuasi dengan berlari ke rumah tetangga yang berjarak sekitar 1 kilometer. Kemudian, mereka lanjut berlari ke masjid yang jaraknya 5 kilometer, menjauh dan mengarah ke Dusun Gunung Sawur. Saat tiba di Dusun Gunung Sawur, beruntung keduanya segera diamankan ke Desa Sumbermujur menggunakan pick up.
Mereka berdua berhasil selamat. Namun, mereka harus kehilangan salah satu anggota keluarganya, Samsul, yang pada saat itu sedang bekerja menjaga portal tambang dekat Gunung Semeru.
Ada juga kisah pilu Rumini, 28, dan Salamah, 70. Keduanya warga Candipuro, Kabupaten Lumajang. Mereka berdua anak dan ibu yang meninggal karena erupsi Gunung Semeru. Mereka meninggal dengan posisi berpelukan di dalam rumah. Tubuh Salamah (ibu dari Rumini) yang sudah renta tidak memungkinkan untuk berlari.
Rumini yang melihat kondisi ibunya tak tega meninggalkan Salamah sendirian di tengah erupsi Gunung Semeru yang dahsyat. Lantaran tak bisa membawa sang ibu, ia pun menemani sang ibu hingga ajal menjemput. Mereka sama-sama tertimbun reruntuhan bangunan rumah.
Kisah lain terjadi di dusun berbeda. Itu terjadi saat relawan Baret Rescue Gerakan Pemuda NasDem Jember menemukan jenazah seorang ibu yang sedang menggendong bayinya tertimbun lahar Gunung Semeru. Selain itu, terdapat tiga jenazah yang masih terjebak di dalam truk pengangkut pasir serta tujuh jenazah yang tertimbun lahar Semeru. Hingga kemarin, ada 22 korban jiwa, 27 orang masih hilang, dan ribuan orang tinggal di barak-barak pengungsian.
Cerita haru Semeru mengingatkan saya pada kisah yang terjadi saat Perang Dunia II (1945). Kala itu, seorang bocah Jepang berdiri menunggu giliran kremasi adiknya yang sudah meninggal. Sang adik ia gendong di punggungnya. Kisah tersebut terekam dalam foto hitam putih yang menyayat.
Pengambil foto itu mengatakan bocah itu menggigit bibirnya begitu keras agar tidak menangis. Gigitan itu membuat darah menetes dari sudut mulutnya. Saat itulah penjaga meminta, "Berikan padaku beban yang kamu bawa di punggungmu."
Bocah itu menjawab, "Dia tidak berat, dia saudaraku." Hingga hari ini, di Jepang, foto tersebut digunakan sebagai pengingat. Ia terus 'diabadikan' untuk melambangkan kekuatan. Sebuah kekuatan cinta.
Kasih sayang antarkakak beradik bukanlah sebuah beban, melainkan berkat yang saling melengkapi.
Tetap kuat untukku, untukmu, untuk kita. The Hollies, grup band tahun 60-an, merekamnya dalam lagu yang abadi: He Ain't Heavy He's My Brother. Dia tidak berat, dia saudaraku.
Mata berkaca-kaca melihat kekuatan cinta itu masih ada di Semeru. Bencana memang kerap menyelinap seperti pencuri yang datang tidak terduga. Namun, cinta dan solidaritas sebagai sesama akan datang setiap waktu.
Dari layar kaca televisi, suara radio, foto-foto di koran, hingga gambar yang berhamburan di media sosial terekam jelas bahwa solidaritas di antara kita memang tanpa batas. Semua bergerak dan digerakkan oleh the power of love, kekuatan cinta. Tidak ada yang terbebani. Dia tidak berat, dia saudaraku.
RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.
SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.
INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.
Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.
PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).
PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah
VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai
APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.
INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.
ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved