Headline

Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.

Cinta dan Haru di Semeru

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
08/12/2021 05:00
Cinta dan Haru di Semeru
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

BANYAK kisah perih mengiringi meletusnya Gunung Semeru. Jerit dan tangis bertalu-talu. Orang-orang berlomba dengan waktu, dikejar lahar panas dan abu. Kisah mengharukan memang selalu berkelindan dalam setiap musibah.

Itu pula yang terekam di balik erupsi Gunung Semeru. Ada seorang ibu yang membawa anaknya menggunakan jas hujan, menerjang debu erupsi untuk evakuasi diri. Ibu itu menghampiri sebuah rumah untuk meminta air guna membasuh wajahnya yang penuh dengan debu.

Sementara itu, sang anak berada di balik jas hujan. Banyak yang merasa iba dan terharu dengan perjuangan seorang ibu yang menyelamatkan sang anak. Ada juga kisah Sinten dan Dewi Novitasari yang dapat menyelamatkan diri dari dampak erupsi Gunung Semeru. Mereka berdua selamat setelah berlari hingga sejauh 13 kilometer.

Sinten dan Dewi melakukan perjalanan evakuasi dengan berlari ke rumah tetangga yang berjarak sekitar 1 kilometer. Kemudian, mereka lanjut berlari ke masjid yang jaraknya 5 kilometer, menjauh dan mengarah ke Dusun Gunung Sawur. Saat tiba di Dusun Gunung Sawur, beruntung keduanya segera diamankan ke Desa Sumbermujur menggunakan pick up.

Mereka berdua berhasil selamat. Namun, mereka harus kehilangan salah satu anggota keluarganya, Samsul, yang pada saat itu sedang bekerja menjaga portal tambang dekat Gunung Semeru.

Ada juga kisah pilu Rumini, 28, dan Salamah, 70. Keduanya warga Candipuro, Kabupaten Lumajang. Mereka berdua anak dan ibu yang meninggal karena erupsi Gunung Semeru. Mereka meninggal dengan posisi berpelukan di dalam rumah. Tubuh Salamah (ibu dari Rumini) yang sudah renta tidak memungkinkan untuk berlari.

Rumini yang melihat kondisi ibunya tak tega meninggalkan Salamah sendirian di tengah erupsi Gunung Semeru yang dahsyat. Lantaran tak bisa membawa sang ibu, ia pun menemani sang ibu hingga ajal menjemput. Mereka sama-sama tertimbun reruntuhan bangunan rumah.

Kisah lain terjadi di dusun berbeda. Itu terjadi saat relawan Baret Rescue Gerakan Pemuda NasDem Jember menemukan jenazah seorang ibu yang sedang menggendong bayinya tertimbun lahar Gunung Semeru. Selain itu, terdapat tiga jenazah yang masih terjebak di dalam truk pengangkut pasir serta tujuh jenazah yang tertimbun lahar Semeru. Hingga kemarin, ada 22 korban jiwa, 27 orang masih hilang, dan ribuan orang tinggal di barak-barak pengungsian.

Cerita haru Semeru mengingatkan saya pada kisah yang terjadi saat Perang Dunia II (1945). Kala itu, seorang bocah Jepang berdiri menunggu giliran kremasi adiknya yang sudah meninggal. Sang adik ia gendong di punggungnya. Kisah tersebut terekam dalam foto hitam putih yang menyayat.

Pengambil foto itu mengatakan bocah itu menggigit bibirnya begitu keras agar tidak menangis. Gigitan itu membuat darah menetes dari sudut mulutnya. Saat itulah penjaga meminta, "Berikan padaku beban yang kamu bawa di punggungmu."

Bocah itu menjawab, "Dia tidak berat, dia saudaraku." Hingga hari ini, di Jepang, foto tersebut digunakan sebagai pengingat. Ia terus 'diabadikan' untuk melambangkan kekuatan. Sebuah kekuatan cinta.

Kasih sayang antarkakak beradik bukanlah sebuah beban, melainkan berkat yang saling melengkapi.

Tetap kuat untukku, untukmu, untuk kita. The Hollies, grup band tahun 60-an, merekamnya dalam lagu yang abadi: He Ain't Heavy He's My Brother. Dia tidak berat, dia saudaraku.

Mata berkaca-kaca melihat kekuatan cinta itu masih ada di Semeru. Bencana memang kerap menyelinap seperti pencuri yang datang tidak terduga. Namun, cinta dan solidaritas sebagai sesama akan datang setiap waktu.

Dari layar kaca televisi, suara radio, foto-foto di koran, hingga gambar yang berhamburan di media sosial terekam jelas bahwa solidaritas di antara kita memang tanpa batas. Semua bergerak dan digerakkan oleh the power of love, kekuatan cinta. Tidak ada yang terbebani. Dia tidak berat, dia saudaraku.

 



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik