Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Mengkritik Pemerintah

Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
23/11/2021 05:00
Mengkritik Pemerintah
Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

MENKO Polhukam bicara tentang kritik. Katanya, pemerintah sama sekali tidak antikritik. Kritik saja keras-keras.

Indonesia negara demokrasi. Semua orang boleh melontarkan kritik. Saudara boleh bicara apa saja, ucapnya. Akan tetapi, jika pemerintah menjawab kritik dengan data, jangan dibilang antikritik.

Sesungguhnya banyak pengkritik pemerintah, di antaranya ada mantan menteri, mantan sekretaris kementerian, dan mantan dosen. Kritik tak hanya ditujukan kepada pemerintah, tetapi juga khusus kepada Presiden Jokowi.

Ada pengkritik yang di matanya semua yang dilakukan pemerintah jelek. Tak ada yang bagus. Kritik umumnya disampaikan melalui media sosial.

Ini contoh kritik mantan menteri melalui Twitter. ‘Mau dibawa ke mana RI? Surat utang bunganya semakin mahal. Untuk bayar bunga utang saja, harus ngutang lagi. Makin parah. Makanya mulai ganti strategi jadi ‘pengemis utang bilateral’ dari satu negara ke negara lain, itu pun dapatnya recehan. Itu yg bikin shock’.

Kritik itu ditanggapi di platform yang sama: ‘Cocok deh bapak jadi presiden, pasti kalau bapak jadi presiden RI gak ada utang luar negeri semua rakyat sejahtera. Ayo pak maju jadi presiden. Jangan alasan saya gak mau karena bla bla bla’.

Di Twitter, mantan dosen menulis: ‘Pakaian adat dengan kelakuan biadab. Ya, bernilai sampah’. Cicitan itu dijawab: ‘Saya tidak benci Jokowi, benci itu urusan pribadi, orang yang membenci itu mentalnya rusak! Tapi sekarang tweet Anda kepada presiden Jokowi bukan mengkritik kebijakannya, tapi mengkritik kepribadiannya. Fokus saja sebagai oposisi dalam kebijakannya’.

Tanggapan lain: ‘Memang tweet Anda tidak tertuju langsung ke orangnya, tapi orang yang tidak intelektual pun tau apa dan siapa yang Anda maksud dalam tweet’. Ia lalu mengatakan agar tetap kritis terhadap pemerintahan Presiden Jokowi. Bukan terhadap pribadi Jokowi.

Demikianlah kritik mantan menteri dan mantan dosen itu mendapat tanggapan kritis juga di Twitter. Satu penanggap menantang sang mantan menteri untuk menjadi presiden. Ide bagus, tapi adakah partai yang percaya untuk mengusungnya?

Penanggap yang kedua dapat membedakan mana urusan pribadi, mana urusan kebijakan. Dia malah menganjurkan sebagai oposisi fokus saja terhadap kebijakan. Sebuah anjuran yang menunjukkan dirinya lebih cerdas daripada sang mantan dosen.

Pengkritik itu masih terus mengkritik pemerintah maupun Jokowi hingga saat ini. Mereka tidak ditangkap polisi. Mereka bebas berpikir, bebas berpendapat, bebas bersuara. Orang pun bebas berpikir dan bebas pula menanggapinya.

Pemerintah jelas perlu dikritik. Kontrol diperlukan agar yang berkuasa tidak nyeleweng, tidak menyimpang. Terlebih kini tak terdengar lagi 'suara-suara keras' di DPR.

Mayoritas di DPR ialah partai pendukung pemerintah. Partainya punya menteri di kabinet. Itu semua diperlukan demi tegaknya pemerintahan yang kuat, berhadapan DPR yang terlalu kuat--akibat reformasi.

Salah satu produk reformasi yang kebablasan ialah bukan hanya parlemen terlalu kuat, melainkan juga dapat 'seenaknya' terhadap pemerintah. Itu sebabnya Presiden perlu dan penting membangun koalisi mayoritas di DPR. Akan tetapi, pemerintah yang kuat pun dapat 'kebablasan kebijakannya' bila tidak dikontrol. Tanpa kontrol, tanpa dikritik, di dalam berkuasa orang kiranya mudah menyalahgunakan kekuasaan.

Lagi pula demokrasi dapat mati dengan sendirinya tanpa kritik. Di alam demokrasi, pemerintah yang jujur tentu suka akan kritik yang keras dan miring sekalipun.



Berita Lainnya
  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.