Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMBANDINGKAN apel dengan apel perkara masuk akal. Membandingkan apel dengan jeruk urusan tak bernalar. Termasuk perbandingan yang manakah ketika sekjen sebuah partai besar membandingkan SBY dan Jokowi?
Pertanyaan itu dapat diberi bingkai lebih besar, membandingkan presiden 'sekarang' dengan presiden 'kemarin'. Ketika Pak Harto menjadi presiden 'sekarang', Bung Karno ialah presiden 'kemarin'. Pertanyaannya, apakah apel dengan apel membandingkan Bung Karno dengan Pak Harto bahkan dengan presiden yang mana pun?
Kiranya perjalanan panjang perjuangan Bung Karno sebelum kemerdekaan hingga proklamasi kemerdekaan menjadikan dirinya sebagai satu-satunya tokoh yang memiliki 'anteseden sejarah' dengan 'konsekuensi sejarah' bahwa dirinyalah yang menjadi presiden pertama. Hemat saya, presiden selanjutnya tak punya 'anteseden sejarah' untuk berbuah ‘konsekuensi sejarah’ menjadi presiden.
Pak Harto muncul dari 'keretakan sejarah' akibat kegagalan Bung Karno mengelola kekuatan PKI versus Angkatan Darat. Di keretakan itu yang diperhitungkan ialah Jenderal AH Nasution yang selain tentara, juga memiliki 'hasrat berpolitik praktis' sebagaimana dibuktikan dengan dirinya mendirikan partai politik IPKI.
Mayor Jenderal Soeharto tak pernah 'direken' sebagai pemimpin, baik oleh Bung Karno maupun oleh PKI. Terlebih dirinya tak 'direken' berkemampuan 'mengisolasikan' Bung Karno, 'menghabisi' PKI, bahkan menjadi presiden 32 tahun. Sejarah membuktikan sebaliknya. Sejarah 'memihak' Pak Harto, bukan Pak Nas.
Pak Harto jelas punya keunggulan dan jelas pula punya kelemahan seperti juga Bung Karno punya keunggulan dan kelemahan. Sudah tentu Gus Dur dan Ibu Megawati tak dapat diperbandingkan, apalagi keduanya memimpin negeri ini masing-masing kurang lebih berbagi setengah perjalanan. Inilah contoh membandingkan apel dengan jeruk, bukan apel dengan apel.
Yang paling sering diperbandingkan dewasa ini ialah SBY dan Jokowi. SBY telah menunaikan tugas 10 tahun menjadi presiden, sedangkan Jokowi belum. Dari sisi purnawaktu sebetulnya belum terjadi apel dengan apel.
Tentu ada yang berpandangan apa yang dilakukan Jokowi selama tujuh tahun telah memperlihatkan banyak hal yang dapat diperbandingkan dengan apa yang dilakukan SBY selama 10 tahun. Sebuah pandangan yang mengandung 'ketergesaan' dan 'kesombongan' seakan tahu pasti apa yang bakal terjadi tiga tahun ke depan. Bukankah hujan tiga hari dapat menghapus kemarau tiga minggu dan sebaliknya? Baiklah kita berbuat, berharap, dan berdoa negara ini aman sentosa dipimpin Jokowi seperti sebelumnya dipimpin SBY.
Pengertian itu tak bermaksud mengabaikan sejumlah parameter yang dapat ditegakkan atau disandingkan dalam komparasi ataupun dalam kontras. Kearifan lama mengatakan tiap zaman punya tantangan sendiri, jawaban sendiri, dan pemimpin sendiri. Yang klise ini pun perlu kembali diucapkan disertai pengakuan, 'apel' pada 2004-2014 'rasanya' berbeda dengan 'apel' pada 2014-2024. Kenapa? 'Iklimnya', 'cuacanya' berbeda.
Rakyat memilih langsung SBY dua kali menjadi presiden. Rakyat memercayainya. Semoga beliau cepat sembuh. Jokowi pun dipilih langsung oleh rakyat dua kali. Rakyat memercayainya. Sejarah SBY sebagai presiden boleh dikata 'selesai', sedangkan sejarah Jokowi sebagai presiden 'menuju selesai'. Semoga Jokowi sehat selalu.
Tulisan ini memang bertendensi agar elite partai tidak 'menggoreng' isu keberhasilan atau kegagalan presiden kemarin dan presiden sekarang sebagai komoditas politik. Itu isu menarik, tapi maaf, saat ini kalah penting.
Hal lebih penting ialah kita sedang menghadapi masalah aktual, faktual, esensial pandemi korona. Siapa pun presiden 'kemarin' yang masih hidup kiranya dapat membantu presiden sekarang, pemerintahan sekarang dengan kekuatan dan kontribusi masing-masing agar anak bangsa ini dapat hidup normal bersama korona yang tak bakal lenyap sama sekali.
Pandemi korona ajang hidup atau mati. Yang menang pilpres, pendukung presiden kemarin ataupun presiden sekarang, bahkan presiden mendatang semuanya sama saja bagi covid-19. Semuanya dapat dibuatnya berhenti bernapas.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved