Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Sumpah Milenial

Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
29/10/2021 05:00
Sumpah Milenial
Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SUMPAH Pemuda rasanya perlu diperingati dengan 'cita rasa milenial'. Sebuah 'cita rasa' yang belum diketahui betul seperti apa gerangan.
Generasi milenial sering diperbincangkan. Inilah anak bangsa yang lahir 1980 sampai 1995 yang jumlahnya diperkirakan mencapai 40 juta orang. Jumlah yang sangat bermakna terlebih dari lensa pemilihan umum, khususnya pilpres. Intinya kira-kira berbunyi barang siapa mampu merebut hati dan pikiran mereka sangat mungkin terpilih menjadi presiden. Boleh percaya, boleh tidak, karena rada 'berlebihan'.

Begitu penting kaum milenial ini sampai Presiden Jokowi membawa mereka ke dalam lingkaran Istana. Mereka diangkat menjadi staf khusus. Sebuah keputusan yang menuai kritik, bahkan ada yang membahasakan mereka sebagai 'patung hidup di Istana'.

Bagaimana generasi milenial ini memaknai Sumpah Pemuda? Baiklah kita sepenuhnya percaya kepada generasi muda, bahwa mereka memegang teguh tiga ikrar yang dicetuskan 93 tahun lalu, yaitu bertumpah darah satu, tanah Indonesia. Berbangsa satu, bangsa Indonesia. Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Hemat saya, kiranya putra-putri milenial khatam sumpah itu. Akan tetapi, selain Sumpah Pemuda 1928 itu, mereka perlu sumpah sesuai zamannya, Sumpah Milenial, sumpah zaman now.

Masalah besar dunia saat ini ialah pemanasan global. Tumpah darah hanya satu, bumi pun hanya satu. Inilah tanah yang kaya hutan tropis. Generasi milenial bersumpah menjaga, mengawal, dan melestarikan lingkungan hidup anugerah Sang Pencipta. Inilah Sumpah Milenial yang pertama.

Kedua, berbangsa satu, bangsa Indonesia yang mendunia. Bangsa yang dihormati dan disegani di dalam pergaulan bangsa-bangsa. Bangsa yang merebut dan mempertahankan reputasi dunia di semua cabang kehidupan. Yang bersumpah bahwa lagu Indonesia Raya dikumandangkan dan bendera Merah Putih dikibarkan saban kali kita berhasil menjadi juara di kancah internasional. Tidak seperti sekarang, Thomas Cup kembali ke Tanah Air, tanpa Merah Putih berkibar.

Generasi milenial malu. Kok bisa bangsa ini tidak melakukan tes doping terhadap atlet. Perkara elementer di dunia olahraga yang telah diabaikan generasi yang duluan lahir.

Generasi milenial bahkan terheran-heran generasi yang lebih tua itu malah menyalahkan pengurus LADI (Lembaga Antidoping Indonesia) sebelumnya yang dinilai mewariskan masalah. Lah, kok enggak diselesaikan oleh pengurus yang sedang menjabat dan baru ketahuan ada masalah setelah Merah Putih tak dikibarkan di Ceres Arena, Aarhus, Denmark?

Kultur mencari kambing hitam itu tak cocok dengan kultur milenial. Barangkali orang-orang yang lebih tua itu tidak percaya Thomas Cup dapat direbut kembali setelah 19 tahun. Mereka kayaknya menganggap enteng terhadap kemampuan dan daya juang Anthony Ginting, 25, pasangan ganda Fajar Alfian, 26, dan Muhammad Rian Ardianto, 25, serta Jonatan Christie, 24, yang merupakan generasi milenial, bahkan ada dari generasi Z yang lebih muda. Orang-orang tua pengurus LADI itu tak percaya generasi baru ini mampu menaklukkan Tiongkok. Sungguh 'keterlaluan', borok mereka baru ketahuan justru di puncak kegembiraan memenangi Thomas Cup.

Ketiga, berbahasa modern, bahasa digital. Ini sangat penting. Manusia bakal hidup beraktivitas di domain baru yang bernama cyberspace. Secara besar-besaran ternyata manusia lebih dulu hidup di dunia maya jika dibandingkan dengan di angkasa luar. Presiden Microsoft Brad Smith berkata di dalam 10 tahun kita akan melihat separuh penduduk dunia terkoneksi dengan internet untuk pertama kali. Ini jumlah manusia yang tak bakal terangkut ke angkasa luar dalam 10 tahun ke depan, betapa pun hebat kecerdasan, kekayaan, dan ambisi seorang Elon Musk.

Data dan digital membawa berbagai oportunitas di banyak cabang kehidupan dan serentak dengan itu sebaliknya juga membawa ancaman berupa serangan terhadap berbagai cabang kehidupan seperti bisnis dan korporasi, fasilitas publik, pertahanan negara, bahkan rahasia data pribadi. Generasi milenial kiranya bersumpah membangun kecanggihan dan keandalan cyberspace Indonesia dan turut serta menegakkan ekosistem digital bersama negara lain. Itulah isi Sumpah Milenial yang ketiga.

Kelemahan Sumpah Milenial itu dikarang oleh generasi kakek-kakek berumur 68 tahun yang sok tahu hati dan pikiran Generasi Milenial. Kiranya lahirlah Sumpah Milenial yang dibuat oleh mereka sendiri yang dapat dibacakan tahun depan pada 28 Oktober 2022, setelah Sumpah Pemuda berumur 94 tahun.



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.