Headline
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Kumpulan Berita DPR RI
ADA satu frasa bahasa Inggris yang terus-menerus membuat para pendidik, termasuk menterinya pendidikan, risau sejak pandemi covid-19 melanda. Frasa itu ialah learning loss. Pandemi korona, kata Mendikbud-Ristek Nadiem Makarim, bisa hilang. Namun, learning loss atau kehilangan kesempatan belajar bisa bersifat permanen.
Kata Nadiem, "Kita semua akan pulih dari covid-19. Tapi, anak-anak kita banyak yang sulit pulih dari learning loss, juga sulit pulih secara psikologis dengan dampak yang luar biasa. Karena itu, satuan pendidikan yang eligible harus segera menjalankan PTM (pembelajaran tatap muka)."
Dalam pandangan Mas Menteri, kalau angka kasus covid-19 terus melandai, sebaiknya anak-anak tidak perlu dikorbankan lagi dalam hal pendidikan. PJJ (pembelajaran jarak jauh), tandas Nadiem, dampaknya bisa lebih permanen daripada covid-19. Kendati PJJ merupakan upaya untuk memastikan hak pendidikan anak-anak di Indonesia tetap terpenuhi, siapa sangka, pemberlakuan PJJ dalam jangka panjang justru membawa ancaman baru.
Berdasarkan riset terbaru dari World Bank menunjukkan terlalu lama pembelajaran jarak jauh dan lamanya sekolah ditutup menjadi salah satu penyebab penting terjadinya learning loss. Dalam riset itu dinyatakan jika efektivitas pembelajaran jarak jauh berkurang 40%, akan ada learning loss hingga 6,9 tahun. Jika efektivitas pembelajaran berkurang 20%, learning loss akan mencapai 6,7 tahun. Jika efektivitas pembelajaran berkurang 10%, learning loss yang didapat akan menjadi 6,6 tahun.
Lantas, apa sebetulnya learning loss itu? Apa pula dampaknya ke generasi muda? Saya mengutip laman The Glossary of Education Reform yang menyebut bahwa learning loss mengacu pada kehilangan pengetahuan dan keterampilan khusus atau umum, atau kemunduran dalam hal akademik. Masalah ini paling sering terjadi karena kesenjangan yang berkepanjangan atau diskontinuitas dalam pendidikan bagi siswa.
Laman tersebut menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan learning loss terjadi, di antaranya liburan musim panas, pendidikan formal yang tertutup, kembali putus sekolah, ketidakhadiran sekolah (bisa karena permasalahan kesehatan) dalam jangka panjang, pengajaran yang tidak efektif, dan perancangan jadwal pelajaran yang tidak terkoordinasi dengan baik. Intinya karena ada hambatan akses untuk meraih sumber-sumber pengetahuan.
Pandemi covid-19 membuat sistem pendidikan menjadi tidak seperti dulu. Studi lainnya yang dilakukan McKinsey menilai bahwa komputer tidak akan bisa menggantikan suasana kelas. McKinsey meminta guru di delapan negara menilai efektivitas pembelajaran jarak jauh sejak pandemi dimulai. Mereka diminta memberikan skor rata-rata 5 dari 10. Nilai sangat buruk diberikan Jepang dan Amerika Serikat ketika hampir 60% menilai efektivitas pembelajaran jarak jauh hanya berada di nilai 3 dari 10. Itu Jepang dan Amerika, negara yang sangat maju.
Bagaimana Indonesia? Boleh jadi problemnya berlipat ganda. Selain efektivitas yang rendah, ketersediaan sarana belajar daring juga tidak sepenuhnya bisa diatasi. Belum lagi keterbatasan ekonomi sehingga tidak bisa membelu kuota pulsa.
Jadi, fenomena learning loss paling mungkin terjadi pada anak-anak dari golongan ekonomi menengah ke bawah, yang memang tidak punya kemampuan untuk menggunakan dan mengakses gawai, juga internet, untuk belajar. Di Jakarta, misalnya, ada satu keluarga dengan anak tiga harus berebut gawai saat hendak belajar dari rumah.
Boro-boro pakai laptop, gawai sederhana saja cuma ada dua. Itu pun yang satu dipakai orangtua mereka mencari nafkah menjadi pengojek online. Tinggal satu gawai lagi harus dipakai bertiga. Padahal, tingkat pendidikan mereka berbeda: anak pertama SMA, nomor dua SMP, dan si bungsu SD. Bisa kita bayangkan bagaimana pengetahuan bisa mereka dapat bila sarana dan prasarana dasar saja mereka tidak mampu.
Saya mafhum semafhum-mafhumnya bila Mendikbud-Ristek terus mendesak agar pembelajaran tatap muka segera dimulai. Syaratnya, bertahap dan disiplin menjalankan protokol kesehatan. Bukan perkara mudah, bukan pula simsalabim langsung sanggup memutus mata rantai kehilangan pengetahuan, tapi setidaknya bisa mencegah tingkat keparahan learning loss.
Tidak ada salahnya memulai saat kasus positif harian covid-19 mulai melandai di bawah 1.000 kasus dengan angka kematian di bawah 100 bahkan di bawah 50. Itu karena tidak ada bencana paling mengerikan bagi sebuah bangsa selain hilangnya generasi (lost generation) akibat hilangnya ilmu pengetahuan alias learning loss.
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.
HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.
DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved