Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Si Kerempeng

Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
01/10/2021 05:00
Si Kerempeng
Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

ADA dua pegangan perihal makan. Pertama, berhentilah makan selagi enak, sebelum kenyang. Ini nasihat 'keterlaluan'. Kalau tak enak, dengan sendirinya berhenti makan.

Kedua, enak makan di kala lapar. Apakah untuk makan harus menunggu lapar? Keterlaluan. Ternyata, sebaiknya demikian.

Di kala kenyang toh tetap makan, patutlah diduga daya tampung perut yang bersangkutan ekstrabesar. Sebetulnya tak elok menjadikan perut seperti gudang yang diukur daya tampungnya. Mungkin mengira diri seperti ular. Sekali makan untuk 3-4 hari. Ada ular piton, panjang 4,5 meter, seketika mati. Perutnya robek akibat memakan seekor sapi utuh. Nafsu membawa celaka. Bukan di sini, di Thailand.

Di dalam ilmu pergudangan ada prinsip yang masuk duluan keluar duluan. Entah di dalam ilmu pencernaan. Yang luas diketahui yang jarang makan serat tak satu pun mudah dikeluarkan, tak peduli masuk duluan atau belakangan.

Suatu hari, pada usia 94, Perdana Menteri Malaysia Mahathir menulis kolom di surat kabar New Straits Times (14/12/2019). Dia memaparkan rahasia dirinya panjang umur, perkara yang banyak ditanya orang. "Kita makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan," tulisnya.

Mahathir pertama kali mengalami serangan jantung pada usia 64 tahun (1989). Selama 30 tahun lebih dia mempertahankan berat badannya 62 kg. Tergolong si kerempeng. Saya malu, membacanya. Baru 9 bulan ini berat badan saya bertahan 66 kg. Belum termasuk si kerempeng. Kata Mahathir, banyak makan malah membuat perut lebih besar. Perut yang lebih besar memerlukan makanan yang lebih banyak lagi. Terjadilah si gendut, bukan si kerempeng. Maka itu, berhentilah makan, enak sekalipun, sebelum kenyang.

Mahathir juga membeberkan rahasia dirinya tak pikun. Setiap hari dia membaca koran. Tak semata untuk tahu perkembangan dunia, tetapi juga memperkaya kosakata.

'Enak makan di kala lapar' pegangan yang juga bikin panjang umur. Lebih tepat membahasakannya 'sehat makan di kala lapar'. Berpuasa ialah memperpanjang lapar yang menyebabkan terjadinya proses autophagy, yaitu kelaparan nutrisi. Temuan mengenai mekanisme autophagy ini membuat ilmuwan Jepang, Yoshinori Ohsumi, meraih Hadiah Nobel untuk fisiologi (2016).

Selama kelaparan, sel memecah protein dan komponen sel lainnya dan menggunakannya untuk energi. Puasa mengaktifkan autophagy, yang membantu memperlambat proses penuaan dan memiliki dampak positif pada pembaruan sel.

Kata autophagy berasal dari Latin, yaitu 'auto' yang artinya 'diri sendiri' dan 'phagein' yang artinya 'memakan'. Sel dapat menggunakan mekanisme 'memakan diri sendiri' ini untuk menghilangkan protein dan organ yang rusak. Sel makan sel yang rusak. Sebuah mekanisme kontrol kualitas yang 'dari luar' tampaklah diri 'si kerempeng', yang 'di dalam dirinya' terjadilah proses sangat penting untuk melawan konsekuensi negatif dari penuaan.

Suatu hari Ibu Megawati Soekarnoputri membahasakan Jokowi sebagai 'si kerempeng'. Pernyataan ini disampaikan di Surabaya, Jawa Timur, saat memproklamasikan Jokowi menjadi capres (2014). Presiden kita memang tampak amat terjaga berat badannya, hingga saat ini, setelah hampir 7 tahun berkuasa.

Berkuasa biasanya bikin gendut, terutama rekening. Baik juga bila beliau menulis kolom di harian ini: rahasia berkuasa tetap kerempeng, luar dan dalam, tubuh dan rekening. Kolom yang baik untuk anak cucu.



Berita Lainnya
  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik