Headline
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Turki Recep Tayyip Erdogan doyan tampil paling depan dan paling pertama bila terjadi serangan Israel terhadap Palestina. Ketika terjadi serangan Israel terhadap Palestina di penghujung Ramadan, Erdogan kontan mengajak seluruh dunia, terutama negara-negara muslim, untuk bertindak tegas kepada Israel.
Dalam hal ajakannya kepada negara-negara muslim, Erdogan kiranya hendak tampil sebagai pemimpin dunia Islam. Erdogan seolah ingin menghidupkan kembali kekhalifahan Utsmani ketika Turki memimpin dunia Islam.
Padahal, selama ini Turki TTM alias teman tapi mesra Israel. Turki memiliki hubungan diplomatik dengan Israel sejak masa Mustafa Kemal Ataturk. Kedua negara punya kerja sama bilateral di bidang kepolisian, intelijen, pertanian, dan kebudayaan.
Hubungan dagang Turki dengan Israel bahkan lebih mesra jika dibandingkan hubungan dagangnya dengan negara-negara muslim. Nilai perdagangan Turki-Israel jauh lebih besar jika dibandingkan dengan nilai perdagangan Turki dengan seluruh negara muslim.
Bandingkan dengan Indonesia yang sejak Soekarno dulu hingga Jokowi kini tak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Pun Indonesia tak memiliki hubungan dagang resmi dengan Israel.
Jokowi juga mengecam agresi Israel terhadap Palestina. Jokowi juga membahas nasib Palestina bersama pemimpin sejumlah negara, yakni Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Afghanistan, termasuk Turki.
Dengan melihat Turki yang sesungguhnya berhubungan akrab dengan Israel, pengamat Timur Tengah calon dubes di Arab Saudi, Zuhairi Misrawi, menilai Jokowi lebih genuine, lebih asli, lebih autentik, jika dibandingkan dengan Erdogan. Itu artinya Erdogan palsu, topeng, dan pencitraan.
Celakanya, banyak di antara kita di dalam negeri terharu dengan Erdogan. Kita di sini menyanjung Erdogan melebihi langit ketujuh. Dikatakan menyanjung melebihi langit ketujuh karena Erdogan dengan segala pernyataannya seolah bisa menghentikan agresi Israel atas Palestina, seakan bisa mengalahkan Israel.
Kita terharu dengan Erdogan kiranya karena dia membawabawa sentimen agama dalam konflik Israel-Palestina. Agama memang bikin kita terpesona. Erdogan, misalnya, mengatakan serangan Israel atas Palestina juga serangan terhadap Islam. Dia menyebut Israel Zionis-teroris. Erdogan serupa mengajak kita menjadikan perang Palestina-Israel sebagai perang agama, perang bintang daud dan bulan bintang, perang Yahudi dan Islam.
Negara Palestina berpenduduk sebagian besar muslim, sekitar 20% Kristen, dan minoritas Druze. Negara Palestina terdiri atas banyak faksi. Faksi-faksi itu antara lain Fatah (Islam dan kadang diidentifikasi sekuler), Hamas (Islam), Democratic Front for the Liberation of Palestine/DFLP (Kristen Ortodoks), Palestinan People’s Party (komunis).
Organisasi Pembebasan Rakyat Palestina yang mewakili perjuangan rakyat Palestina terdiri atas banyak faksi dengan faksi terbesarnya Fatah. Pemimpin PLO yang kemudian menjadi Presiden Palestina Yasser Arafat memiliki Menteri Luar Negeri Hanan Ashrawi yang beragama Kristen.
Komposisi negara Palestina itu menunjukkan Palestina bukan negara Islam. Perang atau serangan terhadapnya bukan perang agama, bukan serangan terhadap agama. Perang Palestina-Israel ialah perang memperebutkan wilayah. Perang kedua negara bukan perang memperebutkan supremasi agama.
Menyebut perang Palestina-Israel serupa menyodorkan kamufl ase dan kepalsuan. Erdogan tidak autentik dan sekadar pencitraan bila dia mengarahkan perang Palestina-Israel sebagai perang agama.
Indonesia, sejak Soekarno sampai Jokowi, menyokong kedaulatan Palestina bukan atas nama agama, melainkan atas nama hak asasi manusia, atas nama kemanusiaan. Konstitusi kita menegaskan kemerdekaan ialah hak segala bangsa. Dukungan Indonesia terhadap kedaulatan Palestina autentik, tidak diragukan.
Dengan menyebut perang Palestina-Israel sebagai perang agama, Erdogan seolah mengajak negara-negara muslim memerangi negara Yahudi. Tidakkah kita belajar dari sejarah ketika Israel memenangi perang Arab-Israel kendati dikeroyok negara-negara Arab?
Menyebut perang Palestina-Israel sebagai perang agama hanya memantik ‘perang’ atas nama agama di berbagai belahan dunia. Berapa banyak terorisme atas nama agama sebagai balasan atas serangan Israel terhadap Palestina terjadi?
Perang tidak menyelesaikan konflik Palestina-Israel. Diplomasi dan solusi dua negara, yakni diakuinya negara Israel dan negara Palestina, yang kita butuhkan. Indonesia mendukung solusi dua negara. Indonesia akan mengakui Israel jika Israel mengakui Palestina. Ini jauh lebih autentik.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved