Senin 22 Maret 2021, 05:00 WIB

Berlutut di Jalanan

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group | Editorial
Berlutut di Jalanan

MI/Ebet
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group.

BERJUANG tanpa kekerasan itu abadi, hanya caranya berbeda untuk setiap zaman. Salah satu cara ialah berlutut di jalanan. Pilihan cara berlutut untuk menentang kekerasan kian populer saat ini.

Buku berjudul Hebron Journal merekam perjuangan Arthur Gish, seorang sukarelawan penjaga perdamaian di Palestina. "Seorang tentara meludah ke arahku, jadi aku langsung mendekatinya dan mempersilakannya meludahiku, dia menolak tawaranku.”

Gish menceritakan pengalamannya berhadapan dengan tank. “Aku mengangkat kedua tanganku di udara, berdoa, dan berteriak, ‘Tembak, tembak! Baruch hashem Adonai (Terpujilah nama Tuhan)!’. Tank itu berhenti beberapa inci di hadapanku. Aku lantas berlutut di jalanan, berdoa dengan tangan terangkat di udara.”

Berlutut, menurut kamus, ialah kegiatan melipatkan lutut sebagai tumpuan berdiri. Bertekuk lutut sebagai kiasan untuk menyerah (mengaku) kalah.

Menyerah kalah tidak ada dalam kamus bangsa Yunani dan Romawi. Karena itu, mereka menolak berlutut. Posisi berlutut tidak patut dilakukan orang merdeka. Aristoteles menyebut berlutut merupakan bentuk kelakuan yang tidak beradab.

Makna berlutut saat ini justru cermin adab melawan kekerasan dan rasialisme. Pemain di Liga Primer Inggris, misalnya, berlutut sebelum bertanding sebagai bentuk perlawanan atas rasialisme.

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau menghadiri protes antirasialisme dan berlutut sebagai bentuk solidaritas dengan demonstran pada 5 Juni 2020.

Protes muncul di banyak tempat setelah George Floyd, pria kulit hitam di Minneapolis, AS, meninggal setelah seorang polisi kulit putih menekan lututnya ke leher Floyd selama lebih dari 8 menit sementara polisi lain hanya menyaksikan.

Berlutut juga menginspirasi Suster Ann Rosa Nu Tawng. Fotonya viral di seluruh dunia. Foto itu diambil pada 8 Maret dan dirilis keesokan harinya. Tampak Nu Tawng berlutut sambil merentangkan kedua tangannya. Dua polisi di hadapannya ikut berlutut dengan mengatupkan kedua tangan mereka ke dada.

Nu Tawng meminta polisi untuk tidak menyakiti pengunjuk rasa yang berdemonstrasi di Myitkyina, Negara Bagian Kachin. Ia memohon kepada polisi untuk mengampuni demonstran dan mengambil nyawanya sebagai ganti. ”Saya berlutut, memohon agar mereka tidak menembak dan menyiksa anak-anak, tapi tembak dan bunuhlah saya,” katanya.

Entah dari mana datangnya keberanian Suster Ann Rosa Nu Tawng, biarawati dari Kongregasi Suster St Fransiskus Xaverius. Bisa jadi dia ingin menjadi pembawa damai seperti doa Fransiskus Asisi, “Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.”

Ensiklik Pacem in Terris (Perdamaian Dunia) menyebutkan bahwa tidak pernah dunia akan menjadi kediaman damai selama damai belum menetap di hati semua dan setiap orang.

Kiranya damai itu menetap dalam hati Suster Ann Rosa Nu Tawng sehingga ia berpartisipasi aktif dalam kehidupan umum dan bekerja sama demi kepentingan segenap umat manusia, begitu pula demi negaranya sendiri.

Suster Ann Rosa Nu Tawng ikut menginspirasi Paus Fransiskus yang memohon agar aparat junta militer berhenti menembaki demonstran. "Bahkan kalau perlu saya juga akan berlutut di jalanan Myanmar dan berkata: hentikan kekerasan! Saya juga mengulurkan tangan dan berkata: utamakan dialog!" kata Fransiskus pada 18 Maret.

Dialog, kata Fransiskus dalam Ensiklik Fratelli Tutti, memunculkan konsep hidup sebagai 'seni perjumpaan' dengan semua orang. Dialog sejati memang memungkinkan seseorang untuk menghormati sudut pandang orang lain, kepentingan mereka yang sah, dan, di atas segalanya, kebenaran martabat manusia.

Jalan dialog itulah yang juga ditawarkan Indonesia untuk menyelesaikan konflik berdarah di Myanmar. Presiden Joko Widodo mendorong pertemuan antarpemimpin negara anggota Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara atau ASEAN khusus membahas solusi damai bagi Myanmar.

Perlu kolaborasi untuk menghentikan kebiadaban. Pada tataran moral, teruskan aksi berlutut di jalan. Bila perlu, Paus Fransiskus segera mewujudkan niatnya untuk berlutut di jalanan Myanmar. Pada level pemerintahan, baik adanya jika seluruh negara di dunia bersatu dan memberikan tekanan kepada junta militer Myanmar.

Terus terang, junta militer di mana pun di atas muka bumi ini hanya menggores sejarah kebiadaban dan sebaliknya, berlutut di jalanan menjadi simbol adab.

Baca Juga

MI/EBET

Lupa Pancasila

👤Abdul Kohar, Dewan Redaksi Media Group 🕔Sabtu 17 April 2021, 05:00 WIB
PANCASILA itu konsensus nasional. Ia lahir dari rahim kesadaran sejarah anak bangsa akan Tanah Air yang...
Mi/Ebet

Relevansi Sosial Vaksin Terawan

👤Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group 🕔Jumat 16 April 2021, 05:00 WIB
Kini, giliran vaksin Nusantara Terawan yang mengundang dan mengandung...
MI/Ebet

Bambang Tersandung BRIN

👤Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group 🕔Kamis 15 April 2021, 05:00 WIB
ADA yang menyebut pembentukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjadi batu sandungan Menristek/Kepala BRIN Bambang...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Maksimalkan Target di Ajang Pramusim

EMPAT tim semifinalis Piala Menpora, yakni PSS Sleman, Persib Bandung, Persija Jakarta, dan PSM Makassar, akan memaksimalkan turnamen pramusim sebelum berlanjut ke Liga 1

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya