Headline

Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.

Berebut Vaksin

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
03/2/2021 05:00
Berebut Vaksin
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

KABAR baik itu datang dari Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, pekan lalu. Isinya, Indonesia telah mengamankan 600 juta dosis vaksin covid-19. Vaksin tersebut dipesan dari empat perusahaan internasional: Sinovac, Novavax, Pfizer-BioNTech, dan Astrazeneca-Oxford.

Indonesia sebenarnya hanya membutuhkan 426 juta dosis untuk vaksinasi massal. Jumlah sisanya merupakan cadangan jika Indonesia tak jadi dapat sumbangan vaksin dari Global Alliance for Vaccine and Immunization (GAVI) atau aliansi vaksin yang berbasis di Swiss.

Nantinya, sebanyak 70% dari 270 juta penduduk Indonesia akan divaksinasi dalam waktu sekitar setahun. Jika dikecualikan ibu hamil, masyarakat di bawah usia 18 tahun, golongan penyakit komplikasi, dan penyintas covid-19, ada sebanyak 181 juta orang yang ditargetkan untuk divaksinasi. Tiap orang perlu disuntik sebanyak dua dosis sehingga diperlukan 363 juta dosis vaksin. Kemudian, ditambah 15% cadangan menjadi 426 juta dosis akan digunakan untuk memvaksinasi 70% rakyat Indonesia itu.

Saya sebut ini berita baik sebab mengamankan vaksin covid-19 bukan perkara mudah. Situasinya sudah mirip palagan pertempuran. Negara-negara di berbagai belahan dunia sudah berebut membeli vaksin, walau tanpa ada kepastian bakal mendapatkan pasokan memadai.

Negara-negara maju, bahkan telah memborong vaksin meski belum diproduksi alias dengan cara mengijon. Di saat yang sama, kapasitas produksi vaksin dunia terbatas. Dunia butuh 11 miliar dosis vaksin covid-19 untuk mencapai herd immunity (kekebalan kelompok) 70% populasi. Padahal, kapasitas produksi seluruh jenis vaksin hanya 6,2 miliar dosis.

Antarnegara pun saling sikut demi mengamankan pasokan vaksin yang serbaterbatas tersebut. Bahkan, majalah The Economist edisi 30 Januari 2021 menggambarkan suasana di Uni Eropa yang suram akibat berebut vaksin korona. Hanya 2% penduduk Uni Eropa yang telah divaksinasi, lebih rendah jika dibandingkan dengan 7% di Amerika Serikat dan 11% di Inggris. "Semakin lambat peluncurannya, semakin banyak yang mati dan semakin besar kerugian ekonominya," tulis majalah berbasis di Inggris itu dalam editorialnya.

Oleh karena itu, berita bahwa Astrazeneca (pembuat vaksin Anglo-Swedia) mungkin memasok kurang dari 40% dari dosis yang diharapkan Uni Eropa pada kuartal pertama, telah memicu kemarahan. Politisi Uni Eropa pun mengultimatum, jika Astrazeneca menolak menutupi kekurangan pasokan dari pabriknya di Inggris, Uni Eropa harus membalas dengan menghentikan ekspor ke Inggris dari pabrik di benua Eropa.

Wajar belaka bila kemarahan meruap di Eropa. Selain masih ada sisa sentimen pasca-Brexit, mereka berlomba menjadi negara yang tercepat bisa keluar dari kemelut ekonomi akibat pandemi. Korona telah merontokkan sendi-sendi ekonomi dunia, terlebih Eropa. Perekonomian di kawasan tersebut merosot lebih dari 42%, defisit menggelembung hingga 40% dari produk domestik bruto (PDB), utang pun membengkak hingga lebih dari 100% PDB.

Di saat seperti itu, muncullah harapan: vaksin covid-19. Vaksin, sejauh ini merupakan jalan keluar paling cespleng dari kemelut pandemi. Maka, bergegaslah semua negara menjadi yang terdepan mendapatkan vaksin. Telat start, derita lebih panjang ada di depan mata.

Dibutuhkan 3,5 tahun untuk negara yang telat tahu atau telat booking vaksin. Itu karena semua negara maju sudah mengijon dosis vaksin sampai 5 kali populasi mereka. Sebagai negara yang 'hampir' maju, Indonesia tergolong cepat merespons soal vaksin korona ini. Kita termasuk 40 negara (dari lebih dari 200 negara di dunia) yang memulai vaksinasi paling dini.

Kondisi seperti itu mestinya patut disyukuri, apalagi setelah ada garansi Indonesia bisa mengamankan 600 juta dosis vaksin covid-19. Dalam terminologi agama, sikap seperti itu namanya syukur nikmat. Sayangnya, tidak semua kita pandai mensyukuri nikmat.

Ada sebagian yang justru bersikap sebaliknya, yakni kufur nikmat atau mengingkari nikmat. Bentuknya ialah selalu mencurigai apa pun yang datangnya dari negara, khususnya soal vaksinasi korona. Sebagian malah bersikap lebih jauh lagi, yakni menolak dan memprovokasi dengan argumen yang terkesan dicari-cari.

Menolak vaksinasi, dalam kondisi normal, memang hak asasi setiap orang. Namun, menolak vaksinasi di saat situasi darurat, apalagi memprovokasi orang lain, bahkan menghalang-halanginya ialah tindakan melawan hukum dan mengganggu hak sehat dan hak hidup orang lain. Itu bukan saja sikap kufur nikmat, melainkan sudah ghairu kufur nikmat alias biangnya kufur nikmat. Bahkan, tindakan seperti itu serupa penyulut malapetaka.



Berita Lainnya
  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.